Kisah Inspiratif (Sial vs Untung)   Leave a comment

☆☆☆☆☆☆

Seorang Trainer pernah bertanya kepada beberapa orang Peserta Pelatihan: "Misalnya anda bangun terlambat menuju ke Bandara. Secara kalkulasi jelas tidak mungkin, tapi anda tetap berusaha meneruskan perjalanan ke Bandara. Lalu-Lintas tiba2 macet parah, menurut anda itu Sial atau Beruntung?

Peserta : "jelas Sial pak … sudah bangun terlambat kena macet lg"

Trainer : "tapi ternyata ……. Pesawat anda delay 4 jam, sehingga anda bisa naik pesawat. Ini anda Sial atau Beruntung?"

Peserta : "Wah ya beruntung pak"

Trainer : "Nah di ruang tunggu Bandara, ada Pebisnis yang mengejar kerjasama Proyek. Jika terlambat ia kehilangan Proyek bernilai Milyaran rupiah. Karena Pesawat delay 4 jam, maka dia kehilangan Proyek tsb dan Pesaing yg mendapatkannya. Menurut anda, si Pebisnis yg kena delay itu sial atau beruntung?"

Peserta : "Sial pak"

Trainer: "Selang beberapa bulan kemudian ternyata si Pesaing kena Tipu Proyek Milayaran tsb. Menurut Anda Orang yg kena delay pesawat 4 jam tsb Sial atau Beruntung?"

Peserta : "Ya Beruntung pak"

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil hikmahnya bahwa Penilaian kita atas sebuah Peristiwa bisa saja berubah seiring waktu. Ya, seiring waktu, bisa terjadi sesuatu yg merubah Keadaan setelahnya menjadi terbalik, maka judgement kita atas peristiwa itupun bisa berbalik 180 derajat.

Sebuah peristiwa yang bisa kita katakan Sial, seiring berjalannya waktu (1 jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, beberapa tahun kemudian), bisa jadi malah kita Syukuri.

Mungkin saja, ada kejadian 1 tahun lalu yang Anda anggap Sial dan masih sulit Anda terima. "Beruntung dimananya ? Jelas Sial, saya kecewa & sakit hati?". Mungkin begitu penilaian anda. Tapi, lihat saja seiring waktu berlalu dan anda move on merubah berpikir negatif menjadi positif. Maka niscaya semua pasti berubah positif, semuanya mengalir. Karena semua hal dalam hidup tidaklah tetap.

Penderitaan dimulai, saat Kita kaku dalam menilai. Kita terus menerus memegang penilaian atas sebuah peristiwa yang tidak enak. Dan menutup mata, terhadap peristiwa kelanjutannya. Yang mana sebenarnya peristiwa kelanjutannya itu, menjelaskan fungsi dari peristiwa tidak enak yang sebelumnya.

Kita akan tersesat di Jakarta, jika saat ini masih menggunakan peta Jakarta tahun 1950. Kita harus mengupdate peta kota Jakarta yang kita miliki. Karena Jakarta terus berubah.

Kita pun akan tersesat dalam hidup, saat kita selalu Negative Thinking, tidak meng-update Hidup kita dengan hal2 yg positif, tidak meng-update peta penilaian kita atas peristiwa

Kita melihat orang, dengan peta penilaian lama. Kita menilai peristiwa dengan peta yang kadaluarsa. Bisa jadi orang yang kita benci 5 tahun lalu, sekarang dia berubah 180 derajat jadi orang baik. Lalu mengapa masih jadi penderitaan bagi kita?Karena kita masih memegang erat peta lama dalam menilai orang lain.

Mari kita update peta kehidupan kita…..

Posted Januari 22, 2016 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: