KISAH TENTANG NABI YUSUF   Leave a comment

Kisah Terbaik

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (QS. Yusuf: 3)
Surat ini tidak sekedar meriwayatkan kisah dalam Al Qur’an karena tujuannya teringkas di akhir baris dari kisah tersebut, yaitu,

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

"Sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 90)

Allah Maha Tahu, Kita Tidak Tahu

Tujuan utama surat Yusuf adalah pemberitahuan kepada kita semua, bahwa penataan (tadbir) aturan Allah Ta’ala terhadap segala urusan berbeda dengan pandangan manusia yang kerdil. Seolah-olah ia mengatakan kepada kita semua (yakinlah terhadap tadbir Allah, bersabarlah, dan janganlah Anda berputus asa).

Semua peristiwa yang terdapat dalam surat Yusuf sungguh mengherankan, semuanya terjadi berlawanan dengan kebiasaan (kewajaran). Yusuf adalah anak yang begitu disayang oleh orang tuanya. Hal tersebut secara lahir memang baik, namun rasa cinta yang sangat justru menyebabkan Yusuf dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Di sisi lain, dilemparkannya Yusuf ke dalam sumur secara lahir memang perkara buruk, tetapi hal tersebut justru menjadi penyebab masuknya Yusuf ke dalam istana raja. Keberadaan Yusuf di dalam istana secara lahir nampak baik, namun justru menyeret Yusuf masuk ke dalam penjara. Demikian pula, keberadaan Yusuf dalam penjara secara lahir nampak merupakan kemalangan yang tiada tara, tetapi akibat yang terjadi dari peristiwa tersebut menjadikan Yusuf sebagai pebguasa Mesir.

Melalui kisah Yusuf as. ini, Allah swt. memberitahukan kepada kalian bahwa Dialah Allah Yang Mengatur segala urusan. Boleh jadi pandangan seseorang terhadap semua peristiwa yang terjadi pada dirinya itu berakibat jelek, tetapi pandangan tersebut terbatas (tidak bisa) untuk memahami takdir dan hikmah Allah yang terdapat dalam keputusanya (qadha-Nya).

Wallahu a’lam

Posted Desember 13, 2014 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: