Sejarah Agama   Leave a comment

HM.Anis Matta,Lc
Khutbah Idul Adha : Jalan
Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah
Bekerja Dan Berkorban

ALLAHU AKBAR 3x
Pagi ini memori sejarah kita membuka dirinya
kembali, membawa kita pada kenangan ribuan
tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-
manusia agung yang telah menciptakan arus
terbesar dalam sejarah manusia, membentuk
arah kehidupan kita, dan membuat kita semua
berkumpul di lapangan besar ini untuk sholat
dan berdoa bagi mereka. Pagi ini kita agungkan
lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim dan
istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi
Muhammad saw.
Bayangkanlah bahwa lebih dari 4000 tahun lalu
tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan
Ismail – berjalan kaki sejauh lebih dari 2000
km – atau sejauh Makassar Jakarta – dari
negeri Syam – yang sekarang menjadi Syria,
Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju
jazirah tandus – yang oleh Al Qur’an disebut
sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman
apapun –.
Bayangkanlah bagaimana mereka memulai
sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan
tanpa apa-apa.Bayangkanlah bagaimana mereka
membangun ka’bah dan memulai peradaban
baru. Bayangkanlah bagaimana 42 generasi
dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun
hingga Nabi Muhammad saw. membawa agama
Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi
pusat dan pemimpin peradaban dunia.
Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya
hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap
tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari
seluruh pelosok dunia yang melaksanakan
ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke
depan akan ditawafi sekitar 12 juta manusia
setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ
ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ
ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ..
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah
membawa sebagian dari keturunanku untuk
tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi
tanaman apapun, di sisi rumahMu yang
suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka
mendirikan sholat.. maka penuhilah hati
sebagian manusia dengan cinta pada
mereka..” ( Surat Ibrahim: 37).
Bayangkanlah bagaimana jazirah yang tandus
tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka
bertiga dan kini berubah menjadi salah satu
kawasan paling kaya dan makmur di muka
bumi, persis seperti doa Ibrahim:
ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺭَﺏِّ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﻫَﺬَﺍ ﺑَﻠَﺪًﺍ ﺁَﻣِﻨًﺎ ﻭَﺍﺭْﺯُﻕْ ﺃَﻫْﻠَﻪُ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ
“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya
Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang
aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya
berupa buah-buahan yang banyak..”(Surat Al
Baqarah: 126)
Bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim
bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan
menurunkan seorang nabi yang melanjutkan
pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad
saw menutup mata rantai kenabian di lembah
itu, lalu kini – 1500 tahun kemudian – agama
itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar
manusia muslim, persis seperti doa Ibrahim:
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺍﺑْﻌَﺚْ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺁَﻳَﺎﺗِﻚَ
ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﻳُﺰَﻛِّﻴﻬِﻢْ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰُ
ﺍﻟْﺤَﻜِﻴﻢُ
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka
sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang
akan membacakan kepada mereka ayat-ayat
Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al
kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah)
serta mensucikan mereka. Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha
Bijaksana.” (Surat Al Baqarah 129)
Bayangkanlah bagaimana – dari sebuah
kampung kecil di Irak bernama Azar – Nabi
Ibrahim datang seorang diri membawa agama
samawi ini, melalui dua garis keturunan
keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang
menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu
garis dari istrinya Hajar yang menurunkan
Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah
lebih dari 4 millenium agama samawi itu –
Islam, Kristen dan Yahudi – dipeluk oleh lebih
dari 4 milyar manusia.
ﻭَﻭَﺻَّﻰ ﺑِﻬَﺎ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺑَﻨِﻴﻪِ ﻭَﻳَﻌْﻘُﻮﺏُ ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲَّ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﺍﺻْﻄَﻔَﻰ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ
“Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu
kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub.
(Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku!
Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini
bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali
dalam memeluk agama Islam” (Surat Al
Baqarah: 132).
ALLAHU AKBAR 3X
Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium
lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga
riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang
kelak. Begitulah agar kesadaran sajarah kita
tetap terjaga, bahwa;
Pertama, pertumbuhan adalah ciri agama.
Berbagai kerajaan, dinasti, rezim dan imperium
datang silih berganti dalam sejarah manusia. Ia
lahir, tumbuh besar, berjaya, lalu menua,
melemah dan akhirnya mati. Tapi agama yang
dibawa Ibrahim datang dan terus bertumbuh
tanpa henti hingga kini. Tak ada kekuasaan –
sezalim dan setiran apapun ia – yang sanggup
menghentikan laju pertumbuhannya. Agama ini
membangun kerajaan dalam hati dan pikiran
manusia, bukan bangunan megah di atas tanah
yang akan segera punah oleh waktu. Agama
terus bertumbuh karena memberi arah bagi
kehidupan manusia, mengakhiri pencarian
akalnya akan kebenaran, kebaikan dan
keindahan, serta memenuhi dahaga jiwanya
akan cinta, ketenangan dan kebahagiaan.
Lihatlah bagaimana doa-doa Nabi Ibrahim
menjadi kenyataan satu per satu dan terus
menerus sepanjang waktu. Nabi Ibrahim
mengajarkan kita sunnatullah yang menjadi
hukum sejarah sebagaimana disebutkan dalam
Al Qur’an:
ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟﺰَّﺑَﺪُ ﻓَﻴَﺬْﻫَﺐُ ﺟُﻔَﺎﺀً ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻊُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓَﻴَﻤْﻜُﺚُ
ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻳَﻀْﺮِﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺄَﻣْﺜَﺎﻝَ
“Adapun buih itu pasti akan pergi sia-sia.
Sedang yang bermanfaat bagi manusia akan
bertahan di muka bumi. Demikianlah Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan”.(Surat
Ar Ra’du: 17)
Kedua, agama adalah narasi terbesar dalam
sejarah manusia.
Arus sejarah yang digerakkan oleh narasi Barat
lahir dari ruh Kristiani. Sementara arus sejarah
yang digerakkan narasi Timur lahir dari Islam.
Jadi di Barat maupun di Timur agamalah yang
membentuk semua peradaban besar yang
pernah menghiasi lembar-lembar sejarah
manusia. Dan selamanya akan terus begitu.
Semua pemberontakan manusia untuk keluar
dari jalan agama – seperti yang kita saksikan di
abad yang lalu melalui gelombang sekularisme
dan ateisme, baik atas nama ilmu pengetahuan
atau atas nama yang lain – hanya akan
berujung dengan kesia-siaan dan kesengsaraan.
Lihatlah misalnya bagaimana perang dunia
pertama dan kedua mengorbankan sekitar 94
juta nyawa manusia. Pemberontakan itu lahir
dari keangkuhan manusia yang terlalu rapuh,
disusun oleh akal yang terlalu sederhana untuk
melawan kebenaran abadi yang dibawah oleh
agama.
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ..
“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”(An
Nuur: 35 )
Ketiga, Islam adalah agama masa depan
manusia.
Rasio pemeluk Islam adalah sekitar 1 orang
Muslim untuk setiap 1000 penduduk bumi di
zaman Nabi Muhammad saw. Kini angka itu
berkembang menjadi 1 orang Muslim untuk
setiap 5 orang penduduk bumi, termasuk
sekitar 100 juta muslim yang menghuni benua
Eropa dan sekitar 100 juta muslim yang
menghuni China daratan.
Semua perang yang ditujukan untuk merusak
citra agama ini – seperti label
fundamentalisme dan terorisme – demi
mencegah manusia memeluknya tidak akan
sanggup mencegah pertumbuhan dan
penyebarannya, bahkan di jantung sekularisme
seperti Eropa dan Amerika.
Sementara itu semua sistem dan ideologi lain
mulai bangkrut satu per satu seperti
komunisme. Dan kini kapitalisme pun sedang
menyusul secara perlahan dan pasti. Semua
sistem dan ideologi itu tidak akan mampu
memenuhi tuntutan dan dahaga manusia akan
kebenaran, keadilan dan kebahagiaan. Dunia
membutuhkan pencerahan baru, dan hanya
Islamlah yang bisa membawa cahaya. Dunia
membutuhkan sumber solusi, dan hanya
Islamlah yang bisa menawarkan jalan keluar.
ﻟﻴﺒﻠﻐﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ ﻣﺎ ﺑﻠﻎ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ..
“Urusan (agama) ini pasti akan menjangkau
seluruh manusia, sepanjang siang dan malam
menjangkau (seluruh pelosok bumi)”.
Keempat, bekerja dan berkorban adalah tradisi
kebangkitan dan kepemimpinan.
Bekerja itu seperti menanam pohon. Berkorban
itu adalah pupuk yang mempercepat
pertumbuhannya. Kita mengenang Nabi
Ibrahim hari ini karena ia hanya bekerja
menabur kebajikan di ladang hati manusia.
Tanpa henti. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari
ini karena pengorbanannya yang tidak terbatas.
Makna hidup kita – baik sebagai individu
maupun sebagai umat dan bangsa – terletak
pada kerja keras dan pengorbanan tanpa henti
dalam menebar kebajikan bagi kemanusiaan.
Bekerja adalah simbol keberdayaan dan
kekuatan. Berkorban adalah simbol cinta dan
kejujuran. Itu nilai yang menjelaskan mengapa
bangsa-bangsa bisa bangkit dan para pemimpin
bisa memimpin. Hanya mereka yang mau
bekerja dalam diam yang panjang, dan terus
menerus berkorban dengan cinta, yang akan
bangkit dan memimpin. Itulah jalan
kebangkitan. Itulah jalan kepemimpinan. Itu
nilai yang menjelaskan mengapa Islam – di
masa lalu – bangkit dan memimpin peradaban
manusia selama lebih dari 1000 tahun. Dan itu
jugalah jalan kebangkitan kita kembali: bekerja
keras dan berkorban tanpa henti. Dengarlah
firman Allah swt:
ﻭَﻗُﻞِ ﺍﻋْﻤَﻠُﻮﺍ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻤَﻠَﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ
ﻭَﺳَﺘُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺎﻟِﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓِ ﻓَﻴُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ
ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
“Dan katakanlah (hai Muhammad), bekerjalah
kalian, nanti Allah yang akan menyaksikan amal
kalian, beserta RasulNya dan orang-orang yang
beriman”. (Surat At Taubah:105)
ALLAHU AKBAR 3X
Hari ini – sebagaimana kita mengenang
manusia-manusia agung itu; Nabi Ibrahim dan
istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi
Muhammad saw – kita juga mendengar rintihan
hati umat manusia dari berbagai pelosok
dunia. Di belahan dunia Islam ada rintihan
anak-anak Palestina, Irak, Afganistan, Sudan,
dan Khashmir yang membutuhkan solidaritas
dan bantuan kita untuk membebaskan mereka
dari kezaliman dan penjajahan. Bahkan bumi
pertiwi sedang berduka. Hampir setiap saat,
kita dikagetkan dengan berbagai macam
bencana dan musibah, tak ada ujungnya.
Bencana ada di sekitar kita, lebih-lebih di
bulan ini, mulai dari banjir lumpur Warior,
tsunami Mentawai dan gunung Merapi, bahkan
gempa bumi setiap hari. Ratusan jiwa
meninggal.
Sementara di belahan dunia lainnya, ada
milyaran jiwa manusia yang hidup dalam
kehampaan dan juga menanti para pembawa
cahaya kebenaran untuk menyelematkan dan
mengeluarkan mereka dari himpitan hidup yang
pengap kedalam rengkuhan cahaya Islam yang
penuh rahmat. Tangis hati para korban
kezaliman di Dunia Islam dan rintihan jiwa para
pencari kebenaran di Dunia Barat sama-sama
menantikan kehadiran kepemimpinan baru
yang datang membawa cahaya kebenaran,
cinta bagi kemanusiaan, tekad untuk bekerja
keras serta kemurahan hati untuk terus
berkorban.
Marilah kita bangkit membebaskan diri kita dari
keserakahan dan kebakhilan, kesedihan dan
ketakutan, kelemahan dan ketidakberdayaan,
egoisme dan perpecahan. Marilah kita bangkit
dengan semangat kerja keras dan pengorbanan
tanpa henti, melupakan masalah-masalah kecil
dan memikirkan serta merebut peluang-
peluang besar bagi kejayaan umat dan bangsa
kita. Marilah kita bangkit dengan kepercayaan
penuh bahwa Islam adalah masa depan
manusia dan bahwa masa depan adalah milik
Islam. Marilah kita bangkit dengan semangat
dan keyakinan penuh bahwa kita bisa
memimpin umat manusia kembali jika kita mau
bekerja keras dan berkorban demi cita-cita
besar kita.
ALLAHU AKBAR 3X

Posted Oktober 5, 2014 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: