SEMANGAT KOMPETISI   Leave a comment

Oleh : Dr. H. Saproni, M.Ed

Semangat menjalani kehidupan dan melakukan kebaikan atau dalam bahasa Al Quran di sebut Khaerat, seringkali Allah sebutkan dengan istilah perlombaan atau pertandingan,paling tidak tersebut sebanyak 8 kali dan enam kalinya di dahului dengan kata beradu cepat (musaro’ah) atau dahulu mendahului (musabaqoh).

QS. Al Baqoroh : 148. dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.

QS. Al Mukminun : 61. mereka itu bersegera untuk mendapat
kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya

Bila kita cermati dengan seksama, sifat yang seyogyanya ada para diri seorang mukmin dalam memperoleh kebaikan adalah dengan menciptakan suasana kompetisi dalam berbuat kebaikan. Hal ini karena jika kita tilik lebih dalam tabiaat mendasar manusia, pada hakekatnya bahwa setiap manusia selalu menyimpan keinginan ingin lebih baik dari yang lain. Dan tabiaat ini di arahkan oleh Islam agar sesuai dengan rel ajaran Islam. Namun sering kali suasana perlombaan ini selalu hadir dalam kompetisi materi bukan pada kompetisi kebaikan yang berorientasi ukhrowi.

2 Hal Yang Terkandung Dalam Istilah Kompetisi

Pertama, semangat menang dan mengalahkan

Modal terpenting dari kemenangan sebuah kompetisi adalah semangat juara dan harus menang. Dan tidaklah di sebut sebagai suatu perlombaan jika masing-masing pihak mengalah dan mempersilahkan pihak lawan menang. Jika mental mengalah yang mendominasi dalam kehidupan seseorang bisa di pastikan ia akan kalah. Dan kompetisi di katakan kompetisi jika ada beberapa pihak yang berlomba.

Begitupun dalam beribadah, modal seseorang akan mendapatkan kebaikan yang banyak dari Allah baik di dunia maupun dinegeri akhirat, adalah jika ia melakukan kebaikan dengan semangat mendahului dan ingin lebih baik dari yang lain.

Kedua, penuh dengan perhitungan dan kehati-hatian

Sebuah pertandingan akan melahirkan penyesalan jika tidak di barengi dengan penuh perhitungan dan kehati-hatian. Dan inilah makna taqwa sebenarnya dalam istilah Islam.

Suatu hari Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Kaab.

” wahai ubay apa itu taqwa?” Tanya Umar,

kemudian Ubay balik bertanya :” pernahkah engkau melewati sebuah jalan yang banyak durinya?”,

“pernah” jawab Umar,

dan Ubay pun kembali bertanya :” apa yang kau lakukan?”,

“ aku berhati-hati menitinya” jawab Umar.

“begitulah taqwa itu” ujar Ubay.

Sebuah diskusi yang menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana mendefinikan taqwa secara operasional.

Semoga Allah terima amal ibadah puasa kita di hari pertama ini. amin

Posted Juni 29, 2014 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: