Bumi pun Turut “Merayakan” Kematian Ariel Sharon   Leave a comment

January 16, 2014

JERUSALEM, ISLAMICGEO- Saat mantan Perdana Menteri Ariel Sharon dikuburkan Senin (13/1) di ladangnya di Israel selatan, gempa kecil mengguncang wilayah utara negara itu. Israel Institut Geofisika melaporkan kekuatan gempa berkisar 3,5 skala richter .

“Ada kasus serupa di masa lalu di mana sejumlah gempa berkerumun di sekitar waktu yang sama dan tempat, antara lain kasus di Lebanon dan Gilboa, “kata Uri Friedlander, Kepala Israel Geophysical Institute seperti dilansir surat kabar harian Israel , Haaretz yang juga dikutip ibtimes.com.

Amotz Agnon, profesor geologi di Universitas Ibrani di Yerusalem, mengatakan, gempa besar dalam waktu dekat dapat menyebabkan ribuan kematian.”Dari pengalaman, kita tahu bahwa semuanya tergantung pada waktu hari gempa terjadi , ” kata Agnon. Gempa bumi itu menggegarkan utara Israel ketika Sharon dikebumikan, bukan seakan merayakan kematian Ariel Sharon.

Dr Zainur Rashid Zainuddin, Dekan International Medical University (IMU), Seremban, Malaysia dalam akun situs jejaring social media Facebook mengatakan, peristiwa serupa juga pernah dialami Mustafa Kamal Atarturk (Mantan Perdana Menteri Turki, orang yang bertanggungjawab terhadap runtuhnya Khilafah Islam -Turki pada tahun 1343 H (1924 M). “Peristiwa seumpama (seperti) ini mungkin memperingatkan kita semasa majlis pengkebumian Mustafa Kamal Atarturk pada satu ketika dulu,”tulisnya di akun Facebook personalnya.

Pada 29 September 1938 Kamal Ataturk mengalami koma selama 48 jam. Pada 9 November, ia mengalami koma kali kedua. Dan sewaktu itulah air dalam perutnya disedot keluar. Kemal kemudian tidak sadarkan diri selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia.

Cara kematiannya begitu menghinakan sekali. Begitu pula setelah kematiannya. Mayatnya tidak dimandikan, tidak dikafankan, tidak disembahyangkan dan tidak dikebumikan dengan segera seperti yang dituntut oleh ajaran Islam. Tetapi sebaliknya, mayatnya diawetkan dan diletakkan di ruang takhta di Istana Dolmabahce selama 9 hari 9 malam.

Setelah 9 hari, barulah mayatnya disembahyangkan, itupun setelah didesak oleh seorang adik perempuannya. Kemudian mayatnya telah dipindahkan ke Ankara dan dipertontonkan di hadapan Grand National Assembly Building. Pada 21 November 1938, dipindahkan pula ke sebuah tempat sementara di Museum Etnografi di Ankara yang berdekatan gedung parlemen Lima belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1953, barulah mayatnya diletakkan di sebuah bukit di Ankara.

Mayat Atarturk terpaksa diletakkan dalam keranda timah dan dibawa pula ke satu bukit, mayatnya ditanam di celah-celah batu marmar. Mayat Attaturk tidak pernah dikebumikan dalam tanah. Tiada tanah yang layak untuk menjadi kuburnya. Begitulah cara Allah memberikan azab untuk para penentangNya di dunia ini. Allah SWT berfirman dalam Alquran.

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS An-Nisaa’: 93).

Ulama-ulama Turki saat itu mengatakan, jangankan bumi Turki, seluruh bumi Allah ini tidak menerima Kamal Atartuk.

Sementara Sharon mulai menderita store ringan pada Desember 2005, pemimpin Zionis itu terpaksa dilarikan ke rumah sakit. 4 Januari 2006 ia mengalami stroke dan sejak itu berada dalam keadaan koma. Ia digantikan oleh Ehud Olmert sebagai Perdana Menteri.

Para doktor di Hospital Hadasa telah memasukkan Ariel Sharon ke ruang operasi untuk dilakukan pembedahan. Ia memiliki luka membusuk dan tidak sadarkan diri selama beberapa minggu. Operasi tersebut dilakukan untuk menyambung bahagian-bahagian ususnya yang telah membusuk dan telah menyebar ke bahagian tubuh lain. 11 Januari 2014, setelah 8 tahun dalam keadaan koma, Ariel Sharon dinyatakan meninggal pada usia 85 tahun.

Reaksi mengenai Ariel Sharon bervariasi dari kekaguman sampai kebencian. Bagi warga Israel, ia seorang pahlawan perang, sedangkan warga Palestina menjulukinya Penjagal Sabra dan Shatila.

Saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Sharon memerintahkan militer Israel masuk ke Libanon untuk mengejar para pejuang PLO. Dalam operasi itu, milisi Libanon yang bersekutu dengan Israel kemudian memasuki kamp pengungsi di Sabra dan Shatila dan melakukan pembantaian massal. Lebih 3.000 orang dibunuh dalam aksi pembantaian kejam itu. Insiden tersebut menyulut protes internasional terhadap Israel.

Seperti dikutip dw.de, sebuah komisi penyelidik yang dibentuk Israel kemudian menyimpulkan bahwa Ariel Sharon turut bertanggung jawab atas pembantaian Sabra dan Shatila. Tahun 1983 ia terpaksa meletakkan jabatannya sebagai Menteri Pertahanan. Tapi ini rupanya bukan akhir dari karir politik Sharon.

Posted Januari 16, 2014 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: