Dalam Kepahitan Tersimpan Kemanisan   Leave a comment

Seorang anak kecil duduk di samping sebuah meja di dapur. Ibunya lagi mempersiapkan bahan-bahan untuk membikin kue yang ia sukai.

Karena sifat suka makannya, ia mulai mencicipi bahan-bahan yang dijejerkan di atas meja. Dia awali dengan mencicipi tepung. Segera ia meludah karena rasanya yang aneh. Kemudian ia ambil vanille dengan telunjuknya. Matanya terpejam-pejam karena rasanya yang aneh. Lanjut ia coba pengembang. Baru saja bahan itu menyentuh lidahnya ia berteriak minta minum sambil meludah berulang kali ke lantai.

Anak kecil itu berkata kepada ibunya: "Kelihatannya ibu tidak akan membuat kue yang enak kali ini, karena bahan-bahan yang ibu gunakan tidak ada yang enak sama sekali."

Akan tetapi ibunya menjawab: "Aku tidak akan menjawab perkataanmu sekarang, tapi tunggulah beberapa saat sampai kuenya masak. Kamu sendiri yang akan menjawab pertanyaanmu."

Setelah ibunya selesai memasak kue di dalam oven, ia memberikannya kepada anaknya yang masih kecil itu. Sang anak mulai memakan dengan hati-hati dan kelihatan tidak berselera. Akan tetapi setelah ia makan dua gigitan ternyata kuenya lezat sekali. Seperti biasanya, ia minta kue berikutnya.

Saat itulah ibunya bertanya: "Apa pendapatmu dengan kue yang ada sekarang?"

Anak kecil itu menjawab: "Suatu hal yang mustahil bila bahan-bahan yang aku cicipi itu memberikan rasa yang enak jika dimakan satu persatu."

Ibunya menimpali: "Sebenarnya segala sesuatu yang bergabung bersamaan dengan ukuran yang pas dan tepat, itulah yang akan memberikan rasa yang enak di akhirnya."

***

Inilah kehidupan kita di dunia ini. Dia adalah campuran dari perkara-perkara pahid dan manis, asam dan getir, asin dan hambar, bahagia dan sedih, sakit dan sehat, jauh dan dekat, berhasil dan gagal. Akan tetapi segala sesuatu yang ada akan besinergi bersama-sama untuk menciptakan kebaikan di ujungnya.

Maka permasalahan-permasalahan yang kita rasakan susah, pahit, menyedihkan, dialah sebenarnya yang membangun kepribadian kita.

Dia lah yang membantu kita untuk bisa empati terhadap orang lain bila terjadi permasalahan yang sama pada diri mereka. Baik perkaranya menyedihkan maupun menggembirakan.

Orang yang pintar adalah orang yang mampu mengolah apa yang terjadi dalam hidupnya supaya menjadi manis dan lezat. Semakin bervariasi apa yang ia alami semakin indah dan lezat akhirnya.

Alangkah malangnya orang yang hanya mencicipi alur kehidupannya satu persatu apa adanya tanpa berusaha mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih indah dan berharga.

*by Zulfi Akmal
sumber: http://www.pkspiyungan.org/2014/01/dalam-kepahitan-tersimpan-kemanisan.html?m=1

Posted Januari 7, 2014 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: