PENGERTIAN DEMOKRASI   Leave a comment

Oleh : M.Saeri, M.Hum
Demokrasi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari dua suku kata yaitu “demos” berarti rakyat, dan “kratos” berarti kedaulatan. Demokrasi dengan demikian dimaknai sebagai kedaulatan ditangan rakyat. Ini berarti hak menentukan nilai (benar-salah, baik-buruk, halal-haram), dan menetapkan norma (hukum) ada ditangan rakyat. Berdasarkan pemahaman inilah muncul selogan “suara rakyat suara Tuhan”.
Asas filosofis demokrasi adalah menjamin hak-hak rakyat dalam kehidupan sosialnya secara luas sehingga tidak dieksploitasi oleh negara. Jika demokrasi mau dipandang punya nilai maka nilai demokrasi adalah kebebasan. Mekanisme untuk mengekspresikan kebebasan ini adalah kesepakatan bersama berdasarkan norma yang diakui bersama.
Demokrasi tidak memiliki nilai asas yang absolut. Seluruh nilai dipandang relatif, dan batas absolutnya adalah keinginan mayoritas, sehingga dengan demikian apapun yang diinginkan mayoritas akan berlaku.
Demokrasi sebenarnya mengandung dua makna besar yaitu sebagai perinsip tujuan dan sebagai sarana. Sebagai perinsip tujuan dia menjadi pedoman hidup bagi setiap orang yang meyakininya, karena didalam sistem ini nilai, norma, cita-cita apapun akan ditetapkan bersama. Umumnya masyarakat non Islam memandang demokrasi pada tataran ini, walaupun tidak absolut juga. Sebagai sarana, demokrasi hanya digunakan untuk legitimasi sosial dan politik. Sementara nilai yang akan dimuat didalam sistem ini tergantung pada kesepakatan mayoritas. Ketika proses sosial-politik didalam sistem ini memenangkan nilai yang positif (misalnya Islam) maka nilai positif ini yang akan berlaku, sebaliknya ketika proses sosial-politik sistem melegitimasi nilai negatif (misalnya bukan Islam) maka nilai negatif ini yang dipaksakan berlaku. Didalam sistem seperti ini demokrasi hanya dijadikan sarana atau wadah bagi sebuah mekanisme konflik untuk mencapai sebuah rekonsiliasi (islah), sementara nilai islah itu sendiri bisa dipisahkan dari demokrasi sebagai wadah karena pada hakekatnya demokrasi tidak punya nilai keculi kebebasan. Ini memang kelemahan demokrasi.
Tetapi dalam kelemahan ini keuntungan masih bisa diraih dengan maksimal, terutama oleh masyarakat Islam. Justru didalam proses sosial yang terbuka seperti ini Islam dapat menunjukkan keunggulannya bersaing dengan nilai-nilai lain. Islam tidak dipandang sebagai nilai otoriter yang hanya melegitimasi kekerasan secara hukum dan militer yang diatas namakan Allah, tetapi justru sangat paiawai bermain diwilayah konflik kepentingan dengan mengedepankan intelektual dan rasional yang dilandasi oleh nilai Islam.
Konflik kepentingan tidak hanya terjadi didalam demokrasi. Konflik kepentingan adalah sunatullah yang melekat pada komunitas manapun termasuk Islam. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW sering berhadapan dengan konflik kepentingan. Beliau Yang Mulia pernah menyelesaikan konflik kepentingan dalam masalah pembagian ghonimah yang dalam satu kasus pernah beliau bagikan lebih banyak kepada masyarakat Mekah yang baru masuk Islam (setelah fattu Makkah). Kebijakan ini menyinggung perasaan kaum Anshor, tetapi Beliau selesaikan dengan musyawarah bersama kaum Anshor itu.
Tulisan singkat ini hanya sebuah menu pembuka dari sebuah diskusi yang masih menyisakan banyak pertanyaan mendasar, diantaranya:
Nilai apa yang hari ini diadopsi oleh demokrasi
Apakah metode demokrasi hanya terhukum oleh “one man one vote”
Mengapa masyarakat Islam dunia saat ini sangat piawai main di gelanggang demokrasi tanpa kehilangan sedikitpun karakter keislamannya.
Pertanyaan di atas mudah-mudahan akan dibahas dalam tulisan berikutnya, kalau sempat lho ya…, sebab sekarang sedang sibuk nulis disertasi, tapi tentang security diplomacy bukan tentang demokrasi.
Catatan
Tulisan singkat ini hadir karena keprihatinan atas sebuah realitas sosial hari ini ada orang Islam tanpa pengetahuan Islam yang memadai mencaci maki saudaranya yang sedang bertarung digelanggang demokrasi, sementara dia setiap saat menikmati hasil perjuangan saudaranya yang dicaci maki itu, seperti kebebasan berpendapat, kebebasan beribadah, kebebasan berdakwah, perempuan-perempuan mereka bebas berkendaraan di jalan tanpa dikekang seperti di Arab Saudi.
Wassalam
Saeri

Sent from Samsung tablet

Posted April 15, 2013 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: