“Menikmati Demokrasi Tanpa Sadar”   Leave a comment

by @hafidz_ary

“Demokrasi yg kau nikmati skrg ini lahir dari rahim zionisme”
| nyeriii katanya | menarik untuk dibahas..

Semua org -baik yg menerima demokrasi atau anti demokrasi- sebenernya menikmati demokrasi .

Bicara ‘anti demokrasi’ jelas mustahil di suasana negara yang ‘anti demokrasi’. Bicara anti demokrasi justru hanya mungkin di alam demokrasi.

Kebaikan dan keburukan sama2 menikmati buah demokrasi.

Sy gak mau debat, mau monolog aja ah. biar gak ribut.

Bicara anti pancasila justru hy bisa di era demokrasi. Bicara tegakkan khilafah atau syariah justru hanya bisa di era demokrasi.

Demonstrasi propaganda syariah atau khilafah justru jd sangat bisa dilakukan di alam demokrasi. Kita semua menikmati demokrasi.

Istri sy cerita, saat ikhwah2 tarbiyah dg KAMMI nya itu demo menggulingkan suharto, justru kelompok lain nyinyir dan mengharamkan demo.

Tapi ketika KAMMI bersama elemen lain berhasil menggulingkan suharto dan mengantarkan keterbukaan, kelompok2 ini juga menikmati keterbukaan.

Zaman orde baru, khatib yg mau khutbah jum’at harus melaporkan materinya ke koramil. Boro2 ngomongin khilafah dan syariah.

Semua gerakan islam yg ‘anti demonstrasi’ berhutang besar pada @fahrihamzah dkk. Beliau jd jalan keterbukaan da’wah.

Semua harokah berhutang budi pada tokoh2 mahasiswa yg siap serahkan nyawanya untuk harga kebebasan.

Bang @fahrihamzah ketua KAMMI pertama, organisasi mahasiswa paling penting dalam gerakan penggulingan suharto, lokomotif keterbukaan.

Alhamdulillah, jamaah tarbiyah (sekarang PKS) bukan skedar penikmat kebebasan da’wah. Tapi kebebasan ini kami rebut sendiri.

Kebebasan da’wah ini kami rebut sendiri dg mengguligkan rezim otoriter, dg darah dan keringat kami sendiri, bukan orang lain.

Dan siapakah tokoh dibalik pendirian KAMMI? ustadz Mahfudz Sidik dan Agus Nurhadi.

Ada yang kemudian menikmati kebebasan da’wah buah demokrasi ini tapi kemudian mencela demokrasi, padahal tidak pernah keringetan.

Mereka gak keringetan, gak berdarah2 untuk mendapatkan kebebasan da’wah yang mereka nikmati sekarang.

Hari ini kita bisa teriak2 tentang apapun dari kebaikan, sesuatu yg tdk bisa dilakukan di era rezim otoriter orde baru.

Ada efek negatif dari ini, kebatilan juga memiliki kebebasannya. Tapi inilah ruang pertarungannya.

Salah satu buah demokrasi adalah selesai DOM di aceh. Masy Aceh bisa menentukan nasibnya sendiri.

Kemerdekaan itu harus kita rebut, bukan berharap otomatis kita terima.

(Membayangkan ada yang teriak2 tegakkan syariah dan khilafah islam di depan istana di zaman Suharto plus bilang pancasila thoghut :D)

Karena itu saya respect sekali dg bang @fahrihamzah, meskipun bbrp hal sy tdk setuju, beliau punya jasa besar bagi keterbukaan da’wah.

(Membayangkan ada yg demo “Pancasila thoghut” “pokoknya khilafah” di depan istananya suharto :D)

(Membayangkan ada yg demo di kedubes AS teriak khilafah di zaman suharto :D)

Kebebasan da’wah ini, alhamdulillah kami rebut sendiri, bukan dari keringat dan darah orang lain, untuk kemudian yg keringetan ini dicaci.

Kebebasan da’wah yg kami rasakan tdk kami dapatkan dr darah dan keringat orang lain. tp ikhwah2 kami sendiri yg gagah berani. @fahrihamzah.

Kami bebas teriak syariah atau khilafah krn kebebasan yg kami perjuangkan sendiri, bukan keringat org lain.

Dulu kalian mencaci ikhwah kami yg berjuang menggulingkan rezim, hari ini kalian juga menikmati hasilnya. #menikmatidemokrasitanpasadar

Yang lantang anti pancasila, anti demokrasi baru bisa teriak tentang ke-anti-annya justru saat era nya demokrasi😀

Saya cuma mau bilang #menikmatidemokrasitanpasadar.

Karena yang paling menikmati demokrasi justru mereka yg tersumbat tapi saat dulu tdk berani menggulingkan rezim.

Yang anti demokrasi baru bisa nyaman teriak “demokrasi kufur” “pancasila thaghut” justru di era demokrasi.

Inget zaman mahasiswa demo penggulingan gus dur, pulang babak belur dipukulin polisi. trus dirawat sama ibu mertua krn istri lg KP di jkt.

Sambil ngompres tangan dan kepala saya yg babak belur, ibu mertua nasehatin: “Nak, kalau sudah nikah gak usah demo demo lagi”😀

Resiko nikah sambil kuliah. ibu mertua bilang “inget anak istrimu nak, sudah berhenti demo demo nya”😀

Kami menikmati demokrasi dg sadar, faham dg apa yg harus diambil dan apa yang harus ditolak dr demokrasi.

Makanya waktu demo bareng temen2 FPI di depan kedubes, nostalgia banget.

Salah satu demo paling parah waktu demo bulog gate nya akbar tanjung di depan MA. musuhnya ada 2 : polisi di depan, anak kiri di belakang.

Terus terang sy jd bingung jk ada yg bilang : “ayo revolusi, ayo kudeta”, krn dulu mrk skedar menonton penggulingan rezim.

Org ini mengajak revolusi atau kudeta kpd ikhwah yg dulu di KAMMI … yg mengajak tdk lebih pengalaman dr yg diajak.

Anak2 KAMMI dkk nya turun demonstrasi penggulingan 3 presiden. 2 berhasil dan satu presiden hanya berhasil dibunuh karakternya

Suharto berhasil dilengserkan , Gus Dur diimpeach, dan mega didemo sepanjang pemerintahan, akhinya tdk terpilih di pemilu berikutnya.

Plis jangan bicara revolusi dan kudeta pd mereka yg justru sdh melakukannya.

Saya mau menonton ah, mereka yg teriak revolusi benar benar melakukan revolusi. apa mrk berani dan berhasil? sy menantikannya.

“ayo revolusi” | sok atuh, kami sdh pernah dan skrg mau menonton.

Coba anda bayangkan apa yg ada di benak fahri hamzah dan kawan2 tarbiyah kalo dibilangin gini: “ayo revolusi, jgn cuma di ruang berAC”😀

Saya tebak fahri mikir gini: “ini orang ngomong apa sih, dulu kita demo suharto ente kemane aje, nyinyir doang”😀

Maaf ye, jangan kebanyakan ngomong revolusi dan kudeta, dulu kite gak pake ngomong-ngomong, 2 presiden turun. Buruan kalo mau kudeta.

Maaf agak belagu, agak menggelitik saya liat ada org kyk anak kecil baru denger kosa kata revolusi dan kudeta.

Sok atuh kalau mau kudeta presiden sekarang | kita gak ikutan lagi. alhmdlh, kita dah pernah nyoba demo menurunkan 3 presiden.

Sekian #menikmatidemokrasitanpasadar.

*http://chirpstory.com/li/62103

Sent from Samsung tablet

Posted April 5, 2013 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: