Jadikan Zakat Sebagai Pengeluaran Utama   Leave a comment

04 April 2013 07:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Prof Dr KH Didin Hafidhuddin mengatakan zakat masih merupakan pengeluaran paling buntut dari daftar pengeluaran keluarga.

Itupun dikeluarkan, kata Didin, kalau masih ada sisa sehingga kalau tidak ada sisa tidak membayar zakat. Didin mengemukakan hal itu pada pembukaan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Baznas DIY di Yogyakarta, Rabu (3/4).

Akibatnya, sambung Didin, perolehan zakat sangat jauh dari potensi zakat yang ada. Saat ini potensi zakat sebesar Rp 213 triliun. Namun perolehan zakat tahun 2011 hanya Rp 1,7 triliun, tahun 2012 mendapat Rp 2,3 triliun. Tahun 2013, Baznas menargetkan sebesar Rp 3 triliun.

Untuk meningkatkan target zakat, Didin mengharapkan digalakan sosialisasi kepada masyarakat. Khususnya tentang pentingnya kewajiban membayar zakat. “Pengeluaran zakat jangan lagi kalau ada sisa, tapi harus menjadi urutan pertama dalam daftar pengeluaran keluarga,” kata Didin.

Baznas, lanjut Didin, terus berupaya agar masyarakat mau menyalurkan zakatnya. Di antaranya, dengan mengangkat tokoh masyarakat sebagai duta zakat. Sebab zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam dan tidak membuat miskin.

“Arti pentingnya zakat bisa menyelamatkan kehidupan, membuat indah kehidupan, membangun karakter dan mensejahterakan masyarakat,” kata Didin.

Untuk menghitung zakat, kata Didin, tidak sulit. Yaitu, 2,5 persen dikalikan pendapatan bruto. “Menghitung zakat itu mudah,” tandas Didin.

Selain melakukan sosialisasi, Didin juga meminta Baznas di daerah-daerah melakukan penguatan tenaga amil. Sebab zakat bukan urusan pribadi sehingga pengelola zakat harus orang yang kuat secara fisik dan bekerja secara profesional.

Menurut dia, perkembangan sumber daya manusia (SDM) saat ini sudah menggembirakan. Amil zakat tidak lagi orang-orang yang berumur di atas 60 tahun. Selain itu, juga didukung teknologi informasi sehingga penerimaan zakat dan penyalurannya transparan serta bisa dipantau melalui internet.

“Zakat adalah ibadah yang mempunyai posisi sosial strategis untuk meningkatkan kesejaheteraan masyarakat lewat pengelolaan oleh amil amanah. Zakat juga mampu menyelesaikan kemiskinan, meski tdk seratus persen,” ujarnya.

Untuk mensejahterakan masyarakat, Didin melanjutkan, Baznas melakukan empat pendekatan, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan agama. Saat ini, Baznas sedang membangun desa termiskin. Targetnya, 100 desa menggunakan empat pendekatan tersebut.

Salah satu pilot project, kata Didin, telah dilakukan di Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. “Untuk program ini pusat telah menyediakan Rp 5 miliar. Kecil, tetapi beberapa kemeneterian siap kerjasama,” jelas Didin menambahkan.

Sent from Samsung tablet

Posted April 4, 2013 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: