Hubungan Otak Dan Jantung   Leave a comment

by : Muklis Gumilang

http://mirza-shahreza.blogspot.com/2013/02/hubungan-otak-dan-jantung.html

Heart atau Qalbu adalah Jantung. Jadi yang biasa kita kita sebut Hati itu adalah Heart atau Qalbu alias Jantung. Sedangkan hati itu liver. Jantung alias Qalbu ternyata memegang peran yang amat penting bagi baik buruknya keputusan manusia yang otomatis pada baik buruknya manusia itu sendiri.

Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, di antaranya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logikanya sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan sistem syaraf autonomic. Jantung tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang selain dipahami oleh otak juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.

Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikatakan bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.

Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.

Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.

Bahwa janin di dalam kandungan, jantungnya terbentuk lebih dulu dari otak, dan dengan jantung itulah kita berpikir sejak tahapan paling awal.
“Neurocardiology has many dimensions, but it may be conceptualized as divided into 3 major categories: the heart’s effects on the brain (eg, cardiac source embolic stroke), the brain’s effects on the heart (eg, neurogenic heart disease), and neurocardiac syndromes (eg, Friedreich disease). The present review deals with the nervous system’s capacity to injure the heart. This subject is inherently important but also represents an example of a much more widespread and conceptually fascinating area of neurovisceral damage in general (circ.ahajournals.org)”.

Kebanyakan orang berpikir bahwa komunikasi hanya terjadi dalam sinyal terbuka melalui bahasa, kualitas suara, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh. Namun, sekarang ada bukti bahwa medan elektromagnetik halus memiliki pengaruh atau sistem komunikasi “energik” yang beroperasi tepat di bawah kesadaran kita. Interaksi-interaksi energik nampaknya memberikan kontribusi terhadap tarikan-tarikan atau tolakan-tolakan “magnetis” yang terjadi pada antar individu, dan juga mempengaruhi pertukaran-pertukaran dan hubungan-hubungan sosial. Selain itu, tampak bahwa medan elektromegnetis jantung memainkan peran penting dalam mengkomunikasikan informasi fisiologis, psikologis, dan sosial antar individu.

Percobaan-percobaan yang dilakukan di Institut HeartMath telah menemukan bukti luar biasa bahwa medan elektromagnetik jantung dapat mengirimkan informasi di antara manusia. Bahwa gelombang otak satu orang benar-benar dapat melakukan sinkronisasi ke jantung seseorang lainnya. Selanjutnya, ketika seorang individu menghasilkan irama jantung koheren, sinkronisasi antara gelombang otak orang itu dan detak jantung orang lain adalah lebih mungkin terjadi. Temuan ini memiliki implikasi menarik, menunjukkan bahwa individu dalam keadaan psychophysiologis koheren menjadi lebih sadar akan informasi yang dikodekan di medan elektromagnetik jantung orang-orang di sekitar mereka.

Kini Sufisme dan Fisika telah bisa saling bergandengan, mengembangkan sains yang menggunakan perpaduan rasio dan rasa.
Referensi:

1- Pearsall P, Schwartz GE, Russek LG, Changes in heart transplant recipients that parallel the personalities of their donors, School of Nursing, University of Hawaii, http://www.springerlink.com, 2000.

2- Paul Pearsall, The Heart’s Code: Tapping the Wisdom and Power of Our Heart Energy, New York, Broadway Books, 1998.

3- Linda Marks, THE POWER OF THE HEART,www.healingheartpower.com, 2003.
4- http://www.heartmath.org/ – SufiWay

Sent from Samsung tablet

Posted Maret 17, 2013 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: