Sedekah dan Fenomena Bokek Mahasiswa   Leave a comment

Jum’at, 15 Maret 2013 – 16:36 wib
detail M. Rahmad Royan. (Foto: dok. pribadi) enlarge this image

SEDEKAH merupakan suatu tindakan moral yang sangat terpuji. Melalui sedekah, seseorang bisa tahu bagaimana rasanya berada dalam kondisi kekurangan. Dengan sedekah pula, seseorang bisa merasakan kepuasan tersendiri karena turut membantu mengurangi beban orang lain.
Namun demikian, tidak sedikit orang yang mengetahui manfaat utama yang didapat melalui bersedekah, terkhusus bagi mahasiswa yang notabenenya memiliki kondisi finansial yang kembang kempis setiap bulan. Lain cerita jika si mahasiswa memiliki bisnis kecil-kecilan yang memberikannya penghasilan tambahan.

Sedekah itu ibarat indikator yang berbanding lurus dengan keberlimpahan rezeki. Artinya, semakin banyak dan sering seseorang bersedekah, maka semakin berlimpah rezekinya. Itulah mengapa, para motivator entrepreneur menyarankan untuk melakukan akselerasi pendapatan dengan sedekah. Para motivator tersebut seolah tidak ada habis-habisnya mengaitkan antara rezeki dengan sedekah. Hal inilah yang mengindikasikan bahwasanya ada “sesuatu” di balik sedekah.

Seolah menjadi suatu keniscayaan, pada umumnya mahasiswa sering bokek di akhir bulan. Jika sedekah dikaitkan dengan kondisi keuangan mahasiswa, maka sudah semestinya kita menerapkan hal tersebut. Meskipun tidak punya sumber penghasilan dari bisnis kecil-kecilan, tetap bersedekah membuat akhir bulan kita tidak sengsara, percayalah. Selain merupakan rekomendasi dari para motivator entrepreneur, toh hal ini juga anjuran dari agama.

Dengan bersedekah, kita bisa mendapatkan tiga keuntungan sekaligus, yaitu keuangan tak terancam, menjadi kesenangan tersendiri karena dapat membantu sesama, dan dapat pahala pula. Tidak sekadar teori, hal ini memang telah banyak terbukti. Mungkin bagi mahasiswa yang tidak memiliki bisnis agak sulit menerima hal ini secara logika, karena yang dikaitkan para motivator itu bukanlah mahasiswa dengan sedekah, melainkan entrepreneur dengan sedekah.

Namun demikian, satu hal yang pasti, mahasiswa dan entrepreneur adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, dan sama-sama dijamin rezekinya. Hanya saja, yang membedakan keduanya adalah masalah usaha untuk meraih rezeki itu. Mungkin saja, saat di awal bulan kita telah menabung lebih dulu (bersedekah). Kemudian, saat di akhir bulan keuangan sedang tersendat, mungkin saja ada teman yang mau mentraktir, atau mungkin juga dapat kiriman tambahan dari orangtua.

Oleh karena itu, bagi kita yang berstatus mahasiswa dan mengetahui bahwa kondisi keuangan dalam ketidakpastian, bersedekahlah. Hanya perlu menunggu waktu, niscaya kita bakal mendapatkan “sesuatu” yang “cetar membahana”, karena rezeki datangnya dari jalan yang tidak disangka-sangka. So, make it happen!

M. Rahmad Royan
Mahasiswa Budidaya Perairan
Universitas Airlangga (Unair)
Koordinator Fisheries Entrepereneur Club FPK UA
(/) (rfa)

Sent from Samsung tablet

Posted Maret 16, 2013 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: