Khusus Muslimah, Kenali Dulu Darah Istihadah   Leave a comment

REPUBLIKA.CO.ID, Di luar siklus bulanan
menstruasi pada perempuan, ada beberapa
jenis darah yang keluar dari rahimnya. Bagi
para ibu seusai melahirkan maka akan
keluar darah nifas. Namun, adakalanya muncul darah yang
keluar dari kebiasaan haid bulanan atau pascamelahirkan.
Keberadaannya bagi sebagian Muslimah akan
membingungkan lantaran darah itu bisa jadi keluar terus
menerus.
Mengutip kitab Mughni al-Muhtaj, darah yang keluar dari
kemaluan perempuan itu bisa akibat sakit dan dinamakan
dengandarah istihadah. Ciri-ciri darah haid dan nifas pada
darah istihadah tidak didapati. Dalam sebuah hadis sahih
disebutkan bahwa darah haid memiliki ciri hitam dan telah
diketahui (yu’raf).
Makna kata yu’raf bahwa perempuan hafal betul tentang
darah menstruasi, baik dari segi warna, aroma, dan
kebiasaan rutin bulanan, misalnya. Darah haid, selain bisa
dikenali dengan warnanya yang hitam, bisa pula dengan
melihat tekstur darahnya yang tak membeku, bahkan
hingga bertahun-tahun. Beda halnya dengan darah
istihadah. Tak ada aroma khas, warnanya merah, dan bisa
mengental atau beku dalam jangka panjang.

Timbul pertanyaan,
bagaimana cara memastikan bahwa darah
yang keluar tersebut termasuk kategori
darah haid atau istihadah? Rasulullah SAW memberikan
beberapa tips sederhana untuk menghilangkan keraguan
dan kegamangan saat darah “bayangan” itu keluar.
Cara yang pertama, merujuk pada kebiasaan bulanan.
Siklus haid bulanan biasanya bisa diketahui kapan dimulai
dan berakhir. Hanya berpaku pada ciri dan bentuk darah,
tak cukup meyakinkan. Ambil contoh, bila kebiasaan rutin
haid keluar selama enam hari, maka bila ada darah yang
keluar dari waktu itu, bisa dipastikan adalah darah
istihadah.
Kiat ini dilandasi dengan pernyataan dari Rasulullah SAW.
Hadis Ummu Salamah menyebutkan, ia pernah bertanya
terkait perempuan yang terus mengeluarkan darah dari
kemaluannya. Rasulullah memintanya agar menjadikan
malam dan hari kebiasaan haid sebagai tolak ukur. Bila
diketahui jelas, maka ia boleh meninggalkan shalat selama
positif dari haid. Jika diketahui bukan menstruasi, maka ia
segera mandi dan beribadah seperti sedia kala. Hadis ini
dikuatkan riwayat lain Aisyah RA dari Fatimah binti Jahsy.
Sedangkan cara yang kedua, memastikan ciri darah.
Perempuan yang bersangkutan melakukan pengecekan
sendiri. Hal ini dinilai lebih efektif. Pasalnya, ia adalah
sosok yang paling mengetahui seluk beluk menstruasi.
Hadis dari Fatimah bin Jahsy mengisahkan, kala itu ia
pernah mengalami kondisi istihadah.
Merasa kebingungan, ia pun lantas meminta arahan dari
Rasulullah. Menurut Nabi SAW, jika terbukti darah itu
adalah menstruasi, warnanya hitam dan telah diketahui,
maka jangan menunaikan shalat. Tetapi, kalau ternyata
bukan darah haid, tetap saja harus shalat. Lalu, bagaimana
dengan perempuan yang baru pertama kali mengalami
menstruasi, apa yang mesti dilakukan? Paling sederhana,
ialah mengembalikan standardnya pada kebiasaan yang
umum berlaku bagi perempuan normal. Pada umumnya,
siklus haid berkisar pada enam hingga tujuh hari. Hal ini
mengacu pada hadis riwayat Hamnah binti Jahsy.
Red: Endah Hapsari
Rep: Nashih Nasrullah

Sent from Samsung tablet

Posted Januari 16, 2013 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: