Sikap Islam Terhadap Tradisi   Leave a comment

Dr. Saproni M Samin
Masyarakat secara umum hidup dengan tradisi dan budaya yang mereka warisi secara turun temurun dari orang tua-orang tua atau nenek moyang mereka. Biasanya yang namanya tradisi mengandung kebiasaan-kebiasaan yang di ikuti tanpa melalui proses kritik, dan di terima apa adanya.
Disisi lain Islam datang dengan nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang berasal dari Allah SWT. Untuk menjadi panduan kehidupan manusia menuju kebahagiaan dunia akhirat.
Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan; bagaimana sikap Islam terhadap Tradisi?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, perlu memahami kaidah-kaidah berikut ini :
Pertama, Allah dan RosulNya harus lebih di cintai dari pada selain keduanya.
Ajaran Islam memerintahkan pemeluknya untuk menjadikan Allah dan RosulNya harus lebih di cintai dari selain keduanya, bahkan ini menjadi syarat kesempurnaan keimanan seseorang. Rosulullah SAW. Menerangkan kepada kita
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا (رواه أحمد)
Dari Anas bin Malik, dari Nabi Saw bersabda : tidaklah beriman seorang di antara kalian sehingga Allah dan RosulNya lebih di cintai dari selain keduanya. (HR. Ahmad)
Dari hadits tersebut diatas cukup jelas bagi seorang mukmin, jika di hadapkan pada dua pilihan antara tradisi yang bertentangan dengan Allah dan apa yang di perintahkan Allah maka wajib baginya untuk mendahulukan keinginan Allah.
Namun, jika kita amati kebanyakan masyarakat kita, mereka lebih mendahulukan tradisi meskipun harus bertentangan dengan larangan Allah. Fenomena ini adalah fenomena lama yang telah di gambarkan oleh Allah dalam surat Al baqoroh ayat 170 : “ Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.
Dari ayat diatas dapat kita fahami bahwa kebiasaan masyarakat adalah mengikuti kebiasaan yang turun temurun meskipun kadang mereka tidak mengetahui sumber dan dasar pemikiran awalnya. Padahal boleh jadi suatu tradisi di mulai oleh seseorang yang tidak mendapat petunjuk Allah, bahkan boleh jadi yang memberikan petunjuk adalah syaetan seperti yang tertera dalam surat Luqman ayat 21: “ Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. mereka menjawab: “(Tidak), tapi Kami (hanya) mengikuti apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?.
Kedua, Islam di bangun diatas Ilmu.
Ajaran Islam mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak menjadi para pengikut tanpa mengetahui sumber dan dasarnya. Namun mengikuti sesuatu yang jelas asal muasal dan landasan berfikirnya, sebagaimana dengan jelas di sebutkan oleh Allah dalam surat Al Isra ayat 30 : “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
Jika kita bandingkan dengan bangunan tradisi, biasanya dibangun diatas ketidakpastian. Hal ini di sebutkan allah dalam surat An Najm ayat 28 : “ Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran” .
Dalam istilah Al Quran, bangunan pemikiran tradisi adalah Adh dhon yang mempunyai arti persangkaan. Dengan istilah lain persangkaan adalah perkiraan, dugaan, mitos, dongeng, khayalan, atau ilusi. Dan ini semua tidaklah layak untuk menjadi dasar sebuah keyakinan.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari paparan singkat diatas bahwa sikap Islam terhadap tradisi adalah :
Jika berkesuaian dengan ajaran islam maka boleh di lestarikan
Jika bertentangan dengan ajaran Islam maka wajib hukumnya untuk di tinggalkan.
Demikianlah semoga bermanfaat untuk pembaca sekalian.

Posted Oktober 21, 2012 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: