Menebar Islam Rahmat Lilalamin   Leave a comment

Oleh: DR. Saproni M Samin,Med *)

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(QS. Al Anbiya’:107)

Suatu penilaian terhadap permasalahan, selalu tergantung bagaimana cara memandangnya, paling tidak, ketika berbicara tentang ajaran Islam, selalu tanpa di sadari, hampir setiap kita mendefinisikan dalam pemahamannya bahwa aturan-aturan Islam “merupakan sekumpulan aturan Allah dan RosulNya yang Allah bebankan kepada Umat Islam untuk di terapkan dalam kehidupan”.

Kalau kita cermati, kata hati diatas merupakan cara pandang yang menjadikan Islam merupakan sekumpulan aturan yang berat untuk di laksanakan. Karena dengan asumsi bahwa Islam adalah aturan yang di bebankan, dan persepsi ‘beban’ selalu menjadi sesuatu yang berat untuk di pikul.

Islam adalah Rahmat dari Allah
Rahmat berasal dari kata Rahima yarhamu yang artinya mengasihani. Untuk memahami makna rahmat diatas adalah seperti ada seorang yang sangat membutuhkan, ia tidak mempunyai daya dan upaya.

Kemudian ada pihak kedua yang menaruh iba dan kasihan kepada pihak pertama, kemudian di berilah pihak pertama bantuan oleh pihak kedua. Itulah makna rahmat dari sisi Bahasa.

Kondisi contoh tadi menunjukan :
1 Pihak pertama adalah orang yang membutuhkan.
2. Pihak kedua membantu dengan tanpa imbalan, dan tidak meminta imbalan, karena ketika ia menolong berangkat dari perasaan iba dan kelembutan hati karena kasihan dan sayang.

Begitulah ketika Allah menciptakan manusia, Allah turunkan para Nabi dan Rosul untuk mengajarkan tiga hal besar:

1. Memperkenalkan siapa Tuhan Manusia (Tauhid).
2. Mengajarkan bagaimana manusia harus menyembah kepada Tuhan mereka (Ibadah). 3. Mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan.

Bagaimana interaksi manusia dengan sesama, dengan alam lingkungan, seperti hewan, tetumbuhan, lautan, daratan, udara, gegunungan, bebatuan dan lain-lainnya (Manhajul Hayah/pedoman tata cara menjalani kehidupan).

Ketiga hal inilah yang disebut sebagai Syariah. Jadi ketika berbicara masalah syariat Islam bukanlah sekedar berbicara tentang fikih ibadah saja, atau masalah tauhid saja. Akan tetapi Islam merupakan satu paket ajaran yang di persiapkan Allah untuk hambaNya. Itu di lakukan karena kasih sayang Allah terhadap manusia yang pada dasarnya adalah bodoh, karena tidak ada manusia yang dilahirkan dalam keadaan pandai dan mengerti.

Islam adalah rahmat dari Allah SWT, dan ia bukanlah beban dari sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, melainkan kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya, dan dari sudut pandang rahmatlah seharusnya Islam di lihat, bukan dari sudut pandang Taklif (beban), terlebih lagi, Allah SWT, menyebutkan bahwa Al Quran adalah Syifa (kesembuhan), Nur (cahaya), hudan (Hidayah atau petunjuk).

Allah Maha Kaya
Pandangan bahwa Islam harus di lihat dari sudut pandang rahmah bukan taklif di dukung oleh dalil-dalil berikut ini:

“ Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.”( QS.Muhammad:38)

” jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,..”(QS.Al Isra:7)

“ Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya”.(QS. Fushilat:46)

“ Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”(QS.Ali Imron:97).

Sedangkan di dalam Hadits Qudsi Rosulullah meriwayatkan dari Tuhannya,

“Wahai hamba-hambaKu, jikalah orang pertama kamu sampai orang terakhir kamu, baik dari golongan manusia maupun jin bertakwa semua, tidaklah itu akan menambah kekuasaanKu sedikitpun. Wahai hamba-hambaKu jikalah orang pertama kamu sampai orang terakhir kamu, baik dari golongan manusia maupun jin fajir semua, tidaklah itu akan mengurangi kekuasaanKu sedikitpun. (HR.Muslim).

Berangkat dari pemahaman bahwa Allah tidak membutuhkan akan hambaNya, dan semua yang Ia turunkan kepada manusia berupa aturan-aturan kehidupan, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk kemudian enggan dan merasa berat mengikuti petunjuk Yang maha Kuasa.

Rahmah, merupakan sifat yang selalu membarengi kata ‘Allah’ dalam basmallah, dan dan merupakan urutan pertama dalam asma’ul husna. Di sisi lain, kata rahman hanyalah mutlaq milik Allah,tidak di perkenankan makhluk menyandang sifat ini, dan sifat ini khusus hanya untuk Allah.

Oleh karenanya, ketika musailamah Al kadzab menamai dirinya dengan ‘Rahmanul Yamamah’ maka pada saat itu Rosulullah sangatlah murka.

Berbeda dengan sifat Allah yang lainnya, semisal jabbar, waddud dan lainnya, maka seorang hamba boleh memberikan namanya dengan sifat Allah tersebut meskipun tidak di sertai dengan kata ‘Abd’, selama tidak di barengi dengan ‘Al ta’rif’. Ini semuanya menunjukan, bagaimana sifat Rahmah dalam Dzat Allah mempunyai kedudukan sangat besar. Dan inilah yang menjadi cirri dasar seluruh aturan Allah SWT. Wallahu A’lam.

8) DR. Saproni M Samin,Med, Anggota MUI Riau Komisi Pendidikan

Posted September 28, 2012 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: