China dan Jerat ‘One Child Policy’   Leave a comment

INILAH.COM, Jakarta – Populasi dunia diperkirakan akan mencapai tujuh miliar jiwa pada 31 Oktober ini. Namun, tonggak sejarah baru itu sebenarnya bisa lebih cepat teralisasi, jika China tak terapkan ‘One Child Policy’.

Profesor Zhai Zhenwu dari Renmin University School of Sociology and Population mengatakan, jika China tak membuat kebijakan untuk memperlambat populasinya, maka bayi ke tujuh miliar bisa dilahirkan lima tahun lalu.

“Populasi China saat ini bisa mencapai sekitar 1,7 miliar jika tak ada program Keluarga Berencana. Populasi dunia juga bisa mencapai tujuh miliar sejak 2006 lalu,” ujarnya. Saat ini, populasi China mencapai 1,34 miliar penduduk.

Jumlah tersebut diperkirakan takkan bertahan lama, karena tingkat kesuburan turun dalam beberapa tahun terakhir. Sejak menerapkan Keluarga Berencana tiga dekade lalu, China membatasi setiap pasangan dengan hanya satu anak.

Mereka yang melanggar akan dikenakan denda atau bahkan dipaksa melakukan aborsi. National Population and Family Planning Commission di China mengklaim, kebijakan yang diterapkan sejak 1979 itu mencegah lebih dari 400 juta kelahiran di Negeri Panda.

“Hal itu ditujukan menekan laju penduduk tahunan hingga 1,5 anak per perempuan usia di usia reproduksi,” ujar Aprodicio Laquian, perwakilan United Nations Fund for Population Activities (UNFPA serta mantan penasihat senior populasi China.

Saat diterapkan pada tahun tersebut, kata Laquian, China sedang menghadapi baby boomers atau gelombang kelahiran bayi besar-besaran pada 1960-an. Sehingga negara tersebut memerlukan program untuk ‘mengorbankan’ dua hingga tiga generasi berikutnya.

Meski sukses, kebijakan sebesar ini tentunya tak berjalan tanpa apa yang mereka sebut sebagai ‘efek samping’. Terdapat beberapa dampak sosio-ekonomi terhadap China. Mulai dari paksaan aborsi hingga para perempuan yang mensterilkan dirinya sendiri agar tak bisa hamil lagi.

Secara tradisional, warga China lebih memilih laki-laki karena dianggap lebih kuat dan bisa meneruskan garis keturunan keluarga. Alhasil, janin perempuan seringkali menjadi korban aborsi. Banyak bayi-bayi perempuan yang ditelantarkan dan dibuang oleh orangtuanya.

Hal ini merupakan topik yang sensitif dan menjadi rahasia umum di China. Namun mereka tak bisa lagi berdiam diri, karena terjadi ketimpangan porsi jenis kelamin bayi dan anak-anak. Berdasarkan Chinese Academy of Social Sciences, ada 100 bayi perempuan untuk 123 laki-laki.

Angka normal dunia adalah 100 hingga 103 banding 106. Pada angka dan kecepatan ini, China akan memiliki sekitar 30 juta pria tak menikah pada 2020. Belum lagi penurunan kesuburan yang menyebabkan populasi manula kian bertambah banyak.

Dua dekade lalu, populasi di atas 60 tahun hanya 7,6%. Jumlah ini naik ke 10,5% pada sensus 2000 lalu dan saat ini mencapai 12% atau 167 juta jiwa. Pada 2025 diperkirakan, satu dari lima orang yang hidup di pinggiran China berusia 60 tahun ke atas.

Lebih mengerikan lagi, per 2050 hanya akan ada 1,6 orang dewasa usia bekerja untuk setiap satu orang berusia 60 tahun ke atas. Artinya, akan ada rasio ketergantungan yang amat besar. Dengan demikian, layanan kesehatan dan asuransi sosial China akan timpang.

Beban ‘One Child Policy’ tak berhenti di situ. Banyak anak tunggal memang gembira karena menjadi satu-satunya pusat perhatian orangtua. Namun mereka amat kesepian dan tertekan, karena menjadi beban tumpuan harapan.

“Dulu, saya selalu ingin bunuh diri karena tak ada saudara untuk curhat setelah dimarahi orangtua. Saya benci mengatakan ini, tapi kebijakan satu anak ini memang salah satu faktor penyebab masalah sosial pemuda kami saat ini,” ujar Xiao Xuan (22), warga Beijing. [ast]

Posted Januari 19, 2012 by Saproni M Samin in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: