Refleksi 102 Tahun Natsir: PKS, Natsir yang Melembaga   1 comment

Natsir : Pemuda pembaharu zaman

H. Mohammad Natsir. Sebentar lagi kita akan memperingati hari lahir tokoh pembaharu negeri tersebut pada tanggal 17 Juli. HM. Natsir merupakan seorang sosok pemuda yang senantiasa gelisah terhadap situasi kebangsaan yang dialaminya ketika itu. Selepas menamatkan AMS (SMA), beliau tidak menjadi Messter in de Rechten (S1 ilmu hukum) yang ketika itu menjadi satu alasan mengapa pemuda mengambil jenjang menengah di AMS, namun malah mengambil suatu pilihan yang tidak lazim bagi pemuda sezamannya; beliau mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (PENDIS). Kegelisahannya kepada kondisi masyarakat ketika itu akhirnya menyulut jiwa patriotisme dalam diri seorang Natsir muda, sehingga dalam kurun waktu 10 tahun kedepan setelah itu, yayasan tersebut berkembang menjadi beberapa cabang, antara lain TK, HIS, dan MULO.

Konfliknya yang cukup terkenal adalah ketika beliau menelurkan suatu gagasan yang akhirnya menjadi populer akibat pertentangannya dengan Soekarno: Ideologi Nasionalisme Religius vs Nasionalisme Sekuler. Saat itu Natsir muda masih sangat belia, dengan usia belum tiba di kepala tiga. Namun asimilasi ide tersebutlah yang mewarnai harian-harian negeri Indonesia yang tengah mencari jati diri bangsanya.

Satu peristiwa yang menarik adalah kedekatannya dengan tokoh Partai Katolik I.J. Kasimo, dimana mereka saling bahu-membahu bekerjasama dalam memerangi ideologi ofensif komunis. Beberapa tokoh Katolik juga bertutur, salah seorang diantaranya adalah Chris Siner Key Timu, seorang tokoh Petisi 50, yang mengatakan bahwa Natsir merupakan seorang negarawan sejati. Ketika dalam satu momen Chris berdiskusi dengan Natsir, ia mempertanyakan tentang perjuangan ide penegakan syariat Islam dalam visi Natsir. Natsir menjawab, ” Saudara Chris, bagi kami umat Islam, ide bahwa sistem terbaik dalam pandangan kami adalah sistem Islam, dan kami diperintahkan untuk memperjuangkannya. Namun kami senantiasa menghormati proses demokratisasi yang terjadi dalam implementasinya. Jika dalam satu proses demokrasi ternyata ide kami belum diterima, tentu kami akan mencoba lagi dalam pemilu-pemilu selanjutnya”. Dalam satu segmen yang lain Natsir sering bersilaturahmi kepada keluarga IJ. Kasimo, khususnya pada saat momen Natal, begitu pula sebaliknya, IJ. Kasimo yang balas berkunjung ketika hari Ied tiba.

Natsir terkenal dengan ide kebangsaannya yang akhirnya menjadi satu faktor penentu dalam perubahan arah bangsa menjadi seperti yang kita alami saat ini. Beliau menelurkan konsep Integralistik kehidupan kebangsaan yang akhirnya dikemas dengan sebutan Mosi Integral Natsir. Beliau memaparkan di DPR Sementara RIS pada 3 April 1950, yang ahkirnya sejak saat itu, Mosi Integral Natsir inilah yang menjadi embrio NKRI, pengganti konsep federal Republik Indonesia Serikat.

Demikian, Natsir merupakan satu sosok yang menjadi teladan bagaimana Islam terimplementasikan dalam wujud keseharian seorang tokoh politik. Bersahaja, bervisi, berani mengambil resiko berbeda, revolusioner, dan konsisten dalam perjuangan. Di sisi lain, Natsir sebagai sosok Negarawan Islam menggambarkan bahwa politik Islam sangat erat kaitannya dengan pluralistik dan toleransi umat. Mengambil pelajaran dari sejarah Islam masa lampau, dimana piagam madinah diterapkan, bahwa Islam sebagai satu tata pemerintahan yang apik, dinamis, berkembang, dan toleran berusaha disampaikan oleh Natsir kepada khalayak ramai masyarakat Indonesia dalam visi-visi politiknya.

Namun sayang sekali, semakin hari kita semakin kehilangan sosok teladan negarawan Islam yang bervisi besar seperti Natsir. Masih terbayang dalam benak saya pribadi ketika membaca naskah-naskah lama riwayat Natsir, didalamnya digambarkan bahwa Natsir adalah seorang tokoh yang sangat plural, namun berkarakter, sederhana, dan santun.

Natsir yang melembaga itu bernama PKS

PKS saat ini menjadi satu dari partai yang saya sangat berharap besar agar bisa meneruskan jejak visi Natsir dalam berkarya. Beberapa langkah yang cukup melegakan seperti meluasnya ruang gerak PKS menjadi partai yang inklusif semakin menguatkan pemikiran saya, bahwa PKS akan menjadi suatu pribadi Natsir yang melembaga. Konsep pluralitas yang digambarkan oleh pemimpin PKS saat ini nampak sesuai dengan perkembangan pemikiran Islam mengenai politik saat ini. KH. Hilmi Aminuddin dalam wawancara eksklusifnya menyatakan bahwa masalah inklusivitas bukan perkara politik taktis bahkan bukan pula strategis. Tapi muncul dari konsekuensi keimanan kita selama ini, yakni sebagai ummatan wasathan, umat moderat, umat pertengahan. Konsekuensinya, PKS memang harus menerima pluralitas, Allah sengaja menciptakan keberagaman agar kita bisa saling menghormati dan menghargai.

Mental pembaharu dalam paradigma PKS juga cukup terlihat dari momen-momen politiknya yang cukup aktif melibatkan hubungan internasional seperti munas lalu yang menghadirkan duta besar dari Jerman, Australia, dan Amerika Serikat. Demikian juga hubungan antar partai lintas negara yang telah berhasil dibangun oleh PKS salah satunya dengan partai buruh Inggris dan Cina. Menurut saya ini merupakan satu langkah revolusioner dalam mengelola mental kebangsaan. Terkadang rasa rendah diri bangsa kita, atau mental “kampung” yang sering menjadi penyakit dalam bangsa kita seperti gontok-gontokan, berperang antar sesama, menjadikan kita lemah dan tidak berdaya menahan gempuran neo-liberalisme masa kini. Alhamdulillah, PKS berhasil memanajemen partainya sehingga dari luar, partai ini termasuk satu-satunya partai yang menurut Bachtiar Effendi, salah seorang pengamat politik nasional, partai yang mampu menyajikan politik berbiaya rendah. Satu entitas kesederhanaan berpolitik, yang secara tidak langsung cukup menguatkan ide saya bahwa PKS adalah Natsir yang melembaga.

Dalam keberjalanannya, sebagaimana Natsir yang mengawali proses perubahan sosial dari pengembangan pendidikan, PKS sepertinya juga memfokuskan pada pengelolaan dan pembinaan kader yang dipersiapkan untuk menjadi negarawan-negarawan baru, yang tergambar dalam beberapa aktivitas yang cukup kentara, yakni pembinaan kader berbasis sel. Dengan pembinaan ini, suatu kekuatan maha dahsyat, intangible Asset yang ditanamkan dalam benak kader tentang ide-ide masa depan, visi peradaban komprehensif, hubungan antara Islam dan kebangsaan, dapat mengkristal hingga menjadi satu budaya berpolitik. Lagi-lagi, saya kembali mendapatkan satu penegasan sikap bahwa PKS tampak seperti Natsir dalam ide yang mengglobal.

Mudah-mudahan apa yang tampak dari luar, demikian juga di dalam. Besar harapan saya untuk melihat PKS menjadi satu partai yang mampu mengusung perubahan zaman, menjadi leader dan rahmatan lil ‘alamin bagi entitas politik lainnya, menelurkan ide-ide visioner, membimbing bangsa ini menjadi bangsa yang besar seperti cita-cita para pendahulunya. Semoga PKS mampu berdamai dengan waktu, untuk mewujudkan visinya yang tak sederhana itu.

Selamat jalan dan ulang tahun, Natsir. Budimu pada negeri ini tak berbilang kata. Hanya Allah, Rasulullah, dan orang-orang yang beriman yang mampu menilainya. Selamat datang PKS dalam wajah baru. Segera lanjutkan visi besar seorang Natsir dalam membawa bangsa ini menjadi soko guru bagi dunia.

PS:

Tulisan ini juga tercantum di blog pribadi penulis: http://armyalghifari.wordpress.com/ . Simak juga blognya yang lain: http://tetirah.wordpress.com/

Posted Juli 12, 2010 by Saproni M Samin in BUKU

One response to “Refleksi 102 Tahun Natsir: PKS, Natsir yang Melembaga

Subscribe to comments with RSS.

  1. aslm,wr,wb
    Mantab Doktor….ada juga opini yang di buat pengamat J.kristiandi yang menyambut baik inklusifitas PKS. dimana menurut kaidah beliau “… Siapa yang menabrak pluralitas akan mengalami kehancuran”. dan itu sesuai dengan fitrah keislaman yang di anut PKS…islam adalah agama wasato,plural dsb….sbgamana yang di sampaikan Ktua MS Ust Hilmi aminudin dalam wawancaranya dgn wartawan. (Ini Blog anak ana shofiyyah BS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: