Pengakuan Guru Tentang Ujian Nasional   1 comment

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ini sebuah email dari seorang guru yang dikirim kepada saya. Saya dapat izin untuk membagikan dengan teman2 yang lain, dan sengaja tidak menyebut nama sang guru yang lapor. (Supaya tidak ditangkap seperti Susno!)

Silahkan membaca.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

********

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Pak Gene, membaca dan menyimak tulisan Bapak tentang “Ini Saatnya Mengubah Peran Guru Dalam Pendidikan Nasional”, saya merasa perlu untuk memberikan komentar. Komentar yang saya tulis adalah lebih bersifat pengalaman pribadi.

Saya adalah seorang guru SMK & SMA yang sudah mengajar selama 15 tahun dengan status guru honor lepas. Selama 15 tahun saya mengajar tidak pernah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena sistem pengangkatan PNS yang diperjual-belikan. Sedangkan saya tidak tertarik dengan cara seperti itu. Saya lebih bangga menjadi guru Sa’i (guru ke sana ke mari/mengajar dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain), tetapi dengan cara yang “Fair”.

Pada saat pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA tahun ini, saya bertugas sebagai pengawas di salah satu SMA negeri. Pada hari pertama mengawas, saya sudah menemukan kecurangan yang dilakukan oleh siswa (membuka Hp yang berisi kunci jawaban). Hp saya ambil dan saya laporkan kepada panitia ujian di sekolah tersebut. Tetapi saya mendapat jawaban yang kurang enak didengar oleh telinga: “Wah, saya juga dapat sms yang sama di 3 Hp saya Bu, biar nanti siswanya saya tangani”. (Itu jawaban yang dikeluarkan dari mulut salah satu panitia ujian di SMA tersebut).

Hari ketiga mengawas, saya menemukan hal yang sama. Seorang siswi yang duduk tepat di depan mata saya membawa secarik kertas yang berisi kunci jawaban. Setelah diperingati dengan isyarat dan kata-kata, siswi tersebut tetep “nekat” dan akhirnya saya mengambil kertas kunci jawaban tersebut.
Peristiwa ini saya tulis dalam berita acara dan ditanda-tangani oleh saya dan satu orang guru yang berasal dari SMA lain.

Pada hari keempat mengawas, saya mendapat sms bahwa saya tidak diperkenankan untuk mengawas dan diminta untuk menghadap kepala sekolah tempat saya mengajar.
Saya dimintai keterangan mengenai hal tersebut. Setelah memberikan penjelasan panjang lebar akhirnya Kepala Sekolah itu berkata bahwa hal ini menjadi masalah besar karena beliau ditelpon oleh Kepala Dinas, Ketua Panitia Ujian Nasional Tingkat Kota sampai Ketua PGRI di kota saya. Dan hari itu juga dilakukan rapat pertemuan diantara mereka pada jam 13.00.

Hari kelima mengawas, saya tetap di skorsing dan anehnya, saya mendapat ancaman yang berisi: Kalau saya memperpanjang masalah ini, maka urusannya bisa panjang dan keselamatan saya terancam (saya akan dibunuh). Dan hari itu juga saya kedatangan tamu seorang polisi yang menanyakan peristiwa tersebut.
Saya tidak gentar walau ada perasaan was-was.

Waktu berlalu, hasil Ujian Nasional diumumkan. Dari hasil pengumuman yang saya baca ternyata semua siswa SMA tempat dimana saya mengawas “LULUS 100%”.
Timbul pertanyaan dalam hati kecil saya: “APAKAH INI PENILAIAN YANG OBYEKTIF?”
Saya berusaha mencari jawaban secara diam-diam (seperti detektif amatiran). Akhirnya saya menemukan jawabannya. Ternyata berita acara yang saya buat diganti dengan berita acara yang baru dan tanda tangan saya yang simple dipalsukan. Wah….wah.. ..wah….”HEBAT” , dunia pendidikan juga ada mafianya, itu pemikiran saya.

Kejadian tersebut tersebar luas diantara teman sejawat. Sekarang mereka memperlakukan saya acuh tak acuh dan saya mendapatkan stempel “GURU IDEALIS”.
Memang sedih rasanya melakukan hal yang “HAQ” tetapi harus menerima kenyataan diperlakukan bagaikan orang asing yang baru dikenal.

Saya bukan guru idealis, tetapi saya ingin mendidik anak-anak dengan sikap yang sportif.
Memang berat pak mengahadapi dunia pendidikan di Indonesia, dan saya sudah berkali-kali mendapat benturan di sana-sini hanya demi sebuah kebenaran. (Masih ada pengalaman -pengalaman lain).
Karena dalam hal ini mayoritas guru hanya menjalani pekerjaannya seperti robot, datang-mengajar- pulang.
Sementara minoritas guru yang berusaha untuk memperbaiki dunia pendidikan ini selalu “terkalahkan” oleh yang mayoritas.

Pertanyaan yang ada di benak saya: Sampai kapan pendidikan akan berjalan seperti ini????
Apakah ada wadah guru-guru yang berani berdiri di depan untuk menegakkan kebenaran dan berusaha memperbaiki sistem yang berlaku saat ini????

Rasanya, hanya Allah SWT yang Maha Tahu apa yang ada di dalam hati saya.
Sekarang dan hari-hari selanjutnya saya tetap melakukan aktivitas saya sebagai guru, walaupun dengan situasi dan suasana lingkungan kerja yang tidak seperti biasanya.

Terima kasih Pak Gene yang sudah mau membaca email saya.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

[nama dihapus]
diambil dari milist

Posted Juni 2, 2010 by Saproni M Samin in opini

One response to “Pengakuan Guru Tentang Ujian Nasional

Subscribe to comments with RSS.

  1. Insya Allah nanti juga bakalan kena seleksi alam Pak kalau yang lulusnya dengan cara yang aneh-aneh…..tapi memang menyediahkan kalau mafia sudah merambah dunia pendidikan …apalagi dunia yang lain ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: