MENGENAL MANUSIA   Leave a comment

Mengenal Manusia
Pendahuluan
Siapakah manusia sebenarnya? Apakah kita sudah mengenal diri kita sendiri? Dimanakah kedudukan kita sebagai ciptaan Allah? Bagaimana seharusnya sikap kita pada Allah SWT? Dan masih banyak lagi persoalan yang perlu dilontarkan kepada manusia pada dirinya sendiri yang sudah hidup sekian lamanya di muka bumi. Masalah manusia adalah hal yang tidak pernah habis-habisnya dibicarakan. Banyak ilmuwan mencoba membicarakan dan mempelajarinya, namun tidak begitu berhasil. Karena masing-masing pakar mempunyai teori dan definisinya sendiri mengenai manusia. Berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, filsafat, dan teologi mempunyai berbagai pendekatan yang berbeda dan teori yang berlainan tentang manusia.
Memahami manusia melalui akal manusia saja akan menyebabkan kesesatan. Hal ini disebabkan karena manusia mempunyai berbagai keterbatasan dalam memahami dan mengenal dirinya dengan benar. Selain itu, sifat sombong serta merasa dirinya hebat dan pandai adalah sifat manusia yang menghalanginya mencapai kebenaran hakiki. Kesalahan yang terjadi pada berbagai teori tentang manusia tidak diakui oleh para pencetusnya. Bahkan sebagian besar pengikutnya tetap mendukung teori yang salah itu dengan menjadikannya sebagai landasan kehidupan, rujukan, dan model gaya hidup manusia untuk saat ini. Hal ini mengakibatkan munculnya kerusakan di mana-mana.
Kemunculan berbagai diin dan sistem buatan manusia yang mengatur manusia dari segi politik, ekonomi, dan kemasyarakatan di tingkat negara atau sekelompok masyarakat tertentu berakhir dengan keruntuhan dan kehancuran. Contohnya adalah hancurnya negara-negara komunis dan tidak lama lagi mungkin negara-negara kapitalis dan sekuler. Keadaan ini di kalangan muslim dapat di atasi apabila ia mengetahui siapakah dirinya yang sesungguhnya dan bagaimanakah cara untuk mengembangkan dan membangun dirinya ke arah yang lebih baik. Sebagai titik tolak menuju pengenalan dirinya, manusia harus menyadari bahwa ia adalah ciptaan Allah. Sebagai ciptaan, adalah keharusan baginya untuk mengakui kebesaran Sang Pencipta dan kebenaran firman-Nya.
Asal manusia adalah ruh dan tanah. Ia kemudian dilengkapi dengan potensi akal, hati, dan jasad yang merupakan suatu kelebihan yang Allah berikan dibanding makhluk lainnya. Dengan segala keutamaannya, manusia diberikan tugas untuk menjalankan amanah ibadah dan khalifah. Ciri manusia sebagai makhluk yang dimuliakan ialah ia diberikan beban dan balasan. Keadaan manusia seperti itu disiapkan untuk menjalankan amanah besar dari Allah sebagai khalifah. Untuk mencapai amanah tersebut, jiwa manusia harus selalu diisi dengan mengingat Allah dan dijauhi dari syahwat.
Dengan akal, hati, dan jasad, manusia dapat beribadah. Ibadah yang sesuai dengan fitrah manusia adalah ibadah yang komprehensif, baik dari segi kesempurnaan agama, kesempurnaan hidup, dan kesempurnaan dari segi hati, akal, dan anggota tubuh. Motivasi beribadah perlu dibangun oleh penerimaan manusia atas keagungan Allah dan rasa syukur atas banyaknya nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Ibadah tersebut ada dua macam. Yang pertama bersifat khusus dan yang kedua umum. Kita harus memperhatikan bagaimana Nabi melakukan kedua ibadah itu. Karena ibadah yang dilakukan dengan benar akan menghasilkan takwa dan mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Satu aplikasi dari mengenal manusia adalah aspek keseimbangan. Keseimbangan berlaku pada diri seorang muslim apabila terpenuhi semua keperluan akal, jasad, dan ruhnya. Kemudian keseimbangan itu dijalankan pada akal, jasad, dan ruh tersebut. Ruh yang lebih tinggi dibandingkan syahwat akan menjadikan hidup aman dan tenteram. Sebaliknya bila syahwat lebih tinggi dibandingkan ruh, maka akan membawa kesesatan di masa depan, terlebih lagi apabila ia tidak merubah diri akan membawanya kerusakan.
Mengenal manusia diperkenalkan dalam buku ini untuk menggambarkan gambaran yang menyeluruh tentang manusia dari definisi hingga tugasnya sebagai khalifah dan berdakwah. Fungsi khalifah adalah membangun dan memelihara alam. Kita dapat menjalankan amanah dan tugas ini apabila kita mengetahui diri kita sendiri secara keseluruhan, baik dari definisi, kedudukan, tugas, dan perannya.

Posted November 13, 2009 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: