Membangun Komitmen Dengan Dalil   Leave a comment

بسم الله الرحمن الرحيم

Membangun Komitmen Dengan Dalil

Dalam Keniscayaan Ikhtilaf Fiqih

([1])

DR. Mohamad Taufik Hulaimi MA.

Muqoddimah

Dalam benak seorang Muslim yang mempunyai “ghiroh” yang tinggi, muncul serangkaian pertanyaan: Kenapa Umat Islam berbeda dalam Fiqih? Bukankah Quran mereka satu? Rasul Mereka satu? Bukankah bersatu dalam sebuah mazhab lebih indah daripada berpecah belah ke dalam Mazhab-mazhab?

Besatu dalam sebuah Mazhab Fiqih adalah cita-cita yang sangat indah. Namun Kenyataan (al-waqi’) menjauhkan kita dari keinginan luhur tersebut. Untuk memberikan gambaran tentang iktilaf. Ada baiknya kita menyimak kisah berikut ini.

Suatu hari, setelah. selesai dari perang Khondaq, Rasulullah SAW hendak menanggalkan baju perangya, namun Malaikat Jibril datang dan bertanya: Apakah Engkau sudah menanngalkan baju perangmu? Padahal Malaikat dilangit masih memakai baju perang. Segeralah berangkat ke Bani Quraidhoh bersama Sahabatmu, Kami, para malaikat akan berangkat lebih dulu untuk mengguncang benteng mereka dan membuat mereka ketakutan. Kemudian Rasulullah berangkat disertai beberapa Sahabat, dan Rasulullh SAW. Berkata kepada Sahabat yang lainnya:

عن نافع عن بن عمر رضي الله عنهما قال قال النبي صلى الله عليه وسلم يوم الأحزاب لا يصلين أحد العصر إلا في بني قريظة . صحيح البخاري ج4/ص1510

“Tidak ada seorangpun yang sholat ‘Asar kecuali di Bani Quraidhoh”

Kemudian para Sahabat, yang tidak menyertai Rasulullah, segera berangkat menuju Bani Quraidhoh. Ditengah Jalan, sebelum sampai ke Bani Quraidhoh, Waktu sholat Asar Tiba. Disini terjadi Ikhtilaf diantara Sahabat yang berjalan dibelakang Rasulullah. Apakah Kita berhenti untuk sholat Asar atau kita terus berjalan dan Sholat Asar di bani Quraidhoh?

Para Sahabat terbagi dua, bagian pertama berpendapat terus berjalan dan sholat Asar di bani Quraidhoh sesuai dengan perintah Rasulullah. Kelompok ini terus berjalan dan mereka malakukan sholat Asar sesampainya mereka di bani Quraidhoh. Padahal mereka sampai ke Bani Quraidhoh tengah malam.

Bagian kedua berpendapat bahwa yang diinginkan Rasulullah SAW adalah agar kita sesegera mungklin dan secepat mungkin berangkat ke Bani Quraidhoh. Kelompok ini sholat Asar ditengah jalan dan melanjutkan perjalanan ke Bani Quraidhoh.

Kelompok pertama berpegang teguh pada ‘Nash’. Sedangkan kelompok kedua berpegang teguh pada makna dan maksud yang diinginkan Rasulullah. Pendapat kedua ini berdasarkan ayat bahwa sholat mempunyai waktu tertentu.

( إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَوْقُوتاً) (سورة النساء: من الآية 103)

Dari qishoh ini kita bisa menyimpulakan bahwa tex hadis Rasulullah SAW sangat renta ikhtilaf. Dan Ikhtilaf sudah terjadi sejak zaman Rasulullah SAW. Namun sewaktu Rasulullah hidup ikhtilaf bisa diatasi.

Menyatukan Umat Dalam Satu Mazhab sebuah Kemustahilan

Menyatukan Umat dalam satu mazhab Fiqih adalah kemustahilan. Imam malik beberapa abad yang lalu sudah memahami hal ini. Beliau pernah menolak keinginann khalifah Harun Ar Rosyid untuk memaksa umat untuk berpegang pada satu mazhab, menghapus mazhab fiqih yang lain dan menjadikan mazhab Malik dan kitab al Muwaththo sebagai satu-satunya mazhab dan satu-satunya kitab fiqih.

Hal itu disebabkan karena ruang lingkup fiqih adalah masalah-masalah Ijtihad. Tidak ada kepastian kebenaran dalam masalah-masalah Ijtihad. Ijtihad seorang mujtahid bukanlah sebuah kebenaran (al haq ) yang mutlak. Oleh karena itu dalam wacana ijtihad yang dipakai bukan kalimat al-haq dan al bathil, namun ash showab dan al khoto

عن أبي هُرَيْرَةَ قال قال رسول اللَّهِ e إذا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وإذا حَكَمَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ . سنن الترمذي ج/3 ص/ 615

Ash Showab mengandung makna tepat sasaran. Sasaran yang dimaksud adalah sesuai dengan yang Allah inginkan. Sedangkan al-khoto tidak mengenai sasaran.

Para Imam al Mujtahidiin menolak kalau pendapat mereka adalah al haq yang sudah pasti. Imam Abu Hanifah pernah ditanya, apakah hasil ijtihadmu ini sebuah kebenaran yang sudah pasti dan tidak ada keraguan dialamnya? Al Imam al Mukhlis menjawab: Saya tidak tahu, mungkin saja kebathilan yang tidak diragukan lagi.

Imam Mujtahiddin yang lain seperti , Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad bersikap yang sama dengan Imam abu Hanifah.

Sebab-Sebab Ikhtilaf

Sebab-sebab ikhtilaf tidak terhitung banyaknya. Namun disana terdapat beberpa sebab ikhtilaf yang paling penting. Antara lain:

  1. Penilaian terhadap hadis:

Contoh: Hadis al Qublah dalam masalah apakah menyentuh perempuan tanpa perantara membatalkan wudhu.

عن عَائِشَةَ أَنَّ النبي e قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إلى الصَّلَاةِ ولم يَتَوَضَّأْ

  1. Perbedaan dalam Periwayatan Hadis:

Contoh: Masalah menggerakkan telunjuk ketika tasyahhud

( ثم قعد وافترش رجله اليسرى ووضع كفه اليسرى على فخذه وركبته اليسرى وجعل حد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى ثم قبض اثنتين من أصابعه وحلق خلقة ثم رفع أصبعه فرأيته يحركها يدعو بها مختصر.) سنن النسائي الكبرى ج1/ص376

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بأصبعه إذا دعا لا يحركها. سنن البيهقي الكبرى ج2/ص131

  1. Tabiat Bahasa Arab:

Contoh: Masalah makna kata Laamastum

(… وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوّاً غَفُوراً) (سورة النساء: 43)

Terjadi perselisihan apakah “laamastum” dalam ayat ini bermakna haqiqi atau bermakana majazi.

Contoh : Hukum menikahi Perempuan berzina

(الزَّانِي لا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ) (سورة النور: 3)

مسند الشافعي ج1/ص289

عن عبد الله بن عبيد بن عمير قال أتى رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن لي امرأة لا ترد يد لامس فقال النبي صلى الله عليه وسلم فطلقها قال إني أحبها قال فأمسكها

  1. Perbedaan dalam Sumber Hukum:

Contoh: Khiyar majlis.

Menurut Iama Malik ‘Amal ahlu madinah adalah hujjah dan sejajar dengan Hadis mutawatir, oleh karena itu Imam Malik menolak hadis Khiyar Majlis:

مالك عن نافع عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال المتبايعان كل واحد منهما بالخيار على صاحبه ما لم يتفرقا إلا بيع الخيار. صحيح البخاري ج2/ص743

  1. Perbedaan Sudut Pandang.

Contoh: Dalam Menentukan ‘Illah dari barang-barang yang terkena hukum Riba.

عبادة بن الصامت فقام فقال إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهى عن بيع الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح إلا سواء بسواء عينا بعين فمن زاد أو ازداد فقد أربى. صحيح مسلم ج3/ص1210

Al Imam Syafi’I berpendapat ‘Ilah dari al bur, al Sya’ir, at tamr dan al milh adalah ath tho’am al muqtaat. Imam Malik ath Tho’am al Muddakhor. Sedangkan Imam abu Hanifah Ilah nya adalah ath ho’am al makiil

Taqlid

Ikhtilaf adalah sebuah keniscayaan. Tidak semua orang mampu melakukan ijtihad. Demikian pula tidak semua orang mampu melihat dalil-dalil yang dikemukakan para mujtahidin dalam membangun pendapatnya. Allah SWT tidak memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu diluar kemampuannya.

(لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا ) (سورة البقرة: من الآية 286)

Bagi orang awam yang tidak mempunyai kemampuan berijtihad boleh melakukan taqlid. Taqlid dalam istilah fiqih adalam: أخذ قول الغير من غير معرفة دليله mengambil pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Allah Berfirman:

( فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ) (سورة النحل: من الآية 43)

Pembagian taqlid:

Taqlid dibagi dua, pertama taqlid yang dibolehkan, yaitu taqlid kepada mujtahid. Kedua taqlid yang dilarang. Taqlid yang dilarang ada tiga bagian:

  1. Taqlid kepada pendapat yang mengandung hal-hal yang bertentangan dengan hukum Allah.
  2. Taqlid kepada seseorang yang tidak diketahui apakah dia itu boleh diambil pendapatnya atau tidak
  3. Taqlid kepada pendapat yang telah terbukti bahwa pendapat tersebut lemah dan tidak didukung oleh dalil. Sebaliknya, dalil-dalil menguatkan pendapa yang bertentangan dengannya.

Al Ittiba’:

Bagi orang yang mempunyai Ilmu akan tetapi belum sampai derajat mujtahid, maka baginya taqlid tidak boleh. Ia wajib melihat dalil yang ada dan menentukan pilihannya. Dalam hal ini ia wajib melakukan ittiba’.

Al ittiba’ dalam istilah : الرجوع إلى قول ثبتت له حجة Berpegang pada pendapat yang didukung oleh dalil. Perbedaan antara al ittiba’ dengan at taqlid adalah dari sisi mengetahui dalil dan tidak mengetahui.

(اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُونِ اللَّهِ ) (سورة التوبة: من الآية 31(

(اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ) (سورة الأعراف: من الآية 3)

Apakah Seorang Muslim Diwajibkan mengikuti Mazhab Tertentu

Berpegah teguh pada suatu Mazhab dalam seluruh masalah fiqih bukan sebuah keharusan. Allah SWT dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan untuk berpegang teguh pada pendapat seseorang dalam seluruh masalah. Bagi seorang awam boleh mengambil pendapat siapa saja dalam beberapa masalah fiqih. Seandainya ia berpegang teguh dengan satu mazhab, diperbolehkan untuk meninngagalkan mazhab tersebut dan berpindah ke pendapat yang lain. Allah SWT memerintahkan untuk bertanya pada Ulama, akan tetapi tidak ditentukan siapa ulamanya.

( فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ) (سورة النحل: من الآية 43)

At Talfiq:

At Talfiq dalam Istlah : الاتيان بكيفية لا يقول بها المجتهد mengadakan sebuah cara ( yang dikumpulkan dari berbagai pendapat) dalam sebuah masalah yang mempunyai bagian, tidak seorangpun dari para mujtahid yang berpendapat seperti itu. Misalkan masalah wudhu, dalam membasuh kepala mengikuti mazhab syafi’I , cukup membasuh sebagian rambut saja. Akan tetapi dalam hal membatalkan wudhu mengikuti mazhab maliki atau hanafi, yang berpendapat bahwa menyentuh perempuan tanpa penghalang tidak membatalkan wudhu. Paramujtahid tidak ada yang berpendapat bahwa wudhu seperti ini sah dan bias dipakai Sholat.

Contoh lain: seseorang menikah tanpa wali (mengikuti mazhab hanafi) tanpa syahid ( mengikuti mazhab maliki) dan tanpa ‘Ilan (mengikuti mazhab Syafi’i). Para mujtahid tidak ada yang berpendapat bahwa nikah seperti ini syah.

Walaupun demikian hukum talfiq tidak serta merta haram. Bahkan Talfiq hukumnya boleh. Karena talfiq sebuah konsekwensi dari dibolehkannya taqlid dan tidak diwajibkannya bermazhab dengan satu mazhab. Disamping itu pelarangan talfiq menimbulkan kesulitan dalam beribadah. Kesulitan ( al Harj) harus dihilangkan. ( رفع الحرج ). Juga Agama Islam dibangun diatas prinsip at Taisir ( mudah ), dibolehkannya talfiq merupakan perwujudan prinsip tersebut.

Tidak semua talfiq dibolehkan. Ada beberapa talfik ang diharamkan, antara lain:

I. At talfiq al Bathil lizaatihi. Yaitu talfik yang mengarah kepada penghalalan hal yang diharamkan Allah. Seperti talfiq yang menghalalkan zina.

II. At Talfiq al al mahdhuur la lizaatihi: . Yaitu talfik yang diharamkan bukan karena zatnya akan tetapi karena sebab lain. Talfiq jenis ini mempunyai 4 macam:

1. Mengikuti keringana-keringan dari pendapat para ulama.

2. Talfiq yang membatalkan keputusan Hakim. Karena dalam Kaidah Fiqih: Keputusan hakim menghilangkan perselisihan. قرار الحاكم ترفع الخلاف

3. Talfiq yang mengubah sebuah keputusan yang sudah diputuskan. Cotoh kalau ada seorang suami mengatakan kepada istrinya: Saya cerai istri saya dengan talak tiga. Sang suami mengucapkan kalimat ini dengan tujuan bahwa istrinya haram dinikahi lagi. Akan tetapi selang beberapa waktu sang suami menyesal dan mengatakan bahwa kalimat saya cerai istri saya talak tiga tidak dianggap sebagai talak tiga, dan boleh baginya mengawini lagi mantan istrinya.

4. Talfik yang membatalkan sebuah konsekwensi dari pendapat yang ditinggalkannya. Contoh: seseorang apabila ia menikah dengan tanpa wali karena setuju dengan pendapat abu Hanifah, maka ketika ia mentalak istrinya tiga kali, kemudian ia mengatakan bahwasannya talak tersebut tidak sah karena nikahnya tidak sah menurut mazhab Syafi’i. Pindahnya dia dari mazhab Hanafi ke mazhab Syafi’I merubah konsekwensi pernikahan sebelumnya.

Penutup:

Adanya ikhtilaf fiqih dalam berbagai masalah tidak berarti bahwa hukum masalah-masalah tersebut boleh-boleh saja. Sikap yang perlu dikembangkan dalam memilih pendapat-pendapat fiqih adalah kesetiaan dan komitmen dengan dalil.

Hidup adalah ujian. Memilih pendapat fiqih dengan komitmen pada dalil adalah sebuah sikap yang mencerminkan kecintaan kita pada Allah dan Rasulnya.

-(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً) (سورة النساء: 59)

Wallahu ‘Alam.


( [1]( Makalah ini disampaikan Pada seminar sehari dengan Thema: yang diselenggarakan oleh IKADI Dumai pada tanggal 6 April 2008m.

Posted Desember 16, 2008 by Saproni M Samin in suara

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: