SEJARAH AHMADIAH 3   Leave a comment

4.1   Ciuman Judas l
 

Kedudukan, pangkat-pangkat serta tingkah laku yang dipamerkan oleh Mirza Ghulam Ahmad, putera dan cucunya maupun oleh pengikut­pengikutnya  yang tiada tolok-bandingannya, pada hakikatnya hanyalah merupakan perisai atau selubung dari kelemahan, kepalsuan yang terdapat didalam diri Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya. Demikianlah satu kelemahan harus dilindungi banyak kekuatan, barulah persembunyian itu berhasil lolos dari setiap pencaharian. Akan tetapi satu keanehan telah terjadi, bahwa kekuatan-kekuatan yang dipamerkan Ahmadiyah itu, ternyata menjadi boomerang memukul balik pada dirinya sendiri.

Kekuatan-kekuatan dalil yang dipakai tentang kemahdian Mirza Ghulam Ahmad, kealmasihannya, kenabian dan kerasulannya akhirnya menjadi satu bahan yang menarik untuk dibicarakan. Justru pada posisi-posisi Mirza Ghulam yang berat itulah, ia dan alirannya menutup semua kemungkinan bagi lolosnya suatu penelitian terhadap dirinya. Kubu-kubu pertahanan yang dibangun Mirza dan Ahmadiyahnya dalam masalah ke-mahdian kealmasihan, kenabian maupun kerasulannya, merupakan kubu-kubu yang ampuh untuk diterobos.

Akan tetapi, sebagaimana dikatakan tadi, satu keanehan telah terjadi; justru daripada pertahanan yang tertutup rapat itu, secara tidak sengaja pintu-pintu rahasia dari kubu-kubu pertahanan Ahmadiyah, terbuka lebar dan mereka sendirilah yang membukanya. Bahkan boleh dikata ibarat tubuh bertelanjang bulat di hadapan cermin seiarah, Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya telah mempertontonkan segala jenis kemunafikan­nya yang paling samar sekalipun. Padahal Ahmadiyah pada zhahirnya menyuguhkan ajaran-ajarannya ke tengan-tengah masyarakat diluar Jemaatnya, dengan segala macam kalimat-kalimat puji dan puja kepada Allah dan Nabi Muhammad s.a.w.

Penjelasan-penjelasan yang menarik yang disajikan Mirza dan Ahmadiyah­nya tentang sebab-sebabnya mengapa ia harus menjadi nabi, rasul dan sebagainya itu, menurut Ahmadiyah sama sekali tidak mengandung maksud untuk mengecilkan kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. Mirza Ghulam Ahmad, kata Ahmadiyah, tidak lain hanyalah khadim nabi Muhammad, melanjutkan serta menerangkan ajaran-ajaran tuannya.2 Bahkan Mirza Ghulam adalah orang pertama yang jatuh cinta pada Nabi Muhammad. Dalam syairnya Mirza Ghulam berkata:
 

“Lihatlah kepadaku dengan pandangan rahmat

dan kasih wahai penghuluku.

aku adalah seorang sahayamu yang paling hina dina.

wahai kekasihku, cinta kepadamu sudah amal meresap dalam jiwa

ragaku, ke dalam jantungku dan benakku.

wahai taman firdaus dari seluruh kegembiraanku!

Alam pikiranku tidak pernah sunyi sesaat atau sedetikpun dari mengenang engkau.

Jiwaku sudah menjadi milikmu. Jisimkupun bercita-cita benar ingin terbang ke hadiratmu.

alangkah bahagianya bila dalam diriku ada daya untuk terbang.”3
 

Dalam syairnya yang lain, Mirza Ghulam berkata lagi:

“Sesudah asyik kepada Allah, akupun mabuk pula pada keasyikan terhadap Muhammad. Kalau ini dikatakan kufur, maka demi Tuhan akulah orang yang sangat kafir! “4
 

Bahkan dari keasyikan Mirza Ghulam kepada Nabi Muhammad, menurut Ahmadiyah, ia telah fana fir-rasul yakni pada dirinya membayang wujud yang mulya Rasulullah s.a.w.5 Malahan bila diperhatikan benar-benar, Mirza Ghulam adalah kenabian Muhamadiyan juga, yang zhahir dalam suatu cara yang baru. Ibarat melihat cermin, demikian Ahmadiyah melanjutkan, kamu tidak menjadi dua, bahkan kamu tetap satu juga adanya, kendatipun nampaknya dua.6 Salah seorang pengikut Mirza yang setia menceritakan bahwa ia pernah melihat dalam mimpi, wujud suci Hadrat Rasulullah Muhammad Mustafa s.a.w. adalah juga merupakan wujud suci Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Ma’uud a.s. Aku tidak ingat, demikian sahibul mimpi melanjutkan, apakah lebih dahulu melihat Mirza sahib Mirza Ghulam Ahmad atau melihat wujud suci nabi Muhammad s.a.w. Tetapi yang jelas ialah kedua wujud suci itu telah diperlihatkan dalam keadaan hanya merupakan satu wujud suci. Hal ini mengandung arti, bahwa pada masa kini, pantulan dan kazhahiran yang sempurna dari wujud suci nabi Muhammad adalah wujud Mirza Ghulam Ahmad.7

Apakah yang demikian itu, tidak suatu penghormatan pada nabi Muhammad oleh Mirza Ghulam?! Maka, terimalah nabi yang datang dari Allah ini, demikian seru seorang Ahmadiyah.8 Akan tetapi dilain kesempatan datang ancaman keras dari Ahmadiyah pada mereka yang tidak mau percaya pada kenabian Mirza, dengan kata-kata lantang:

Bahwa semua orang Islam harus percaya pada nabi Mirza Ghulam Ahmad; kalau tidak, berarti mereka tidak mengikuti ajaran-ajaran Al-Qur’an. Dan siapa-siapa yang tidak mengikuli Al-Qur’an maka ia bukan muslim. Dan barang siapa mengingkari seorang nabi, menurut istilah agama Islam disebut kafir! “9
 

Demikian Ahmadiyah, mula-mula mereka memuji-memuji Nabi Muham­mad, kemudian minta agar ia diakui sebagai nabi, akhirnya ia mengancam vonnis kafir bagi siapa-siapa yang tidak mau percaya kenabiannya. Jelas disini adanya watak-watak munafik pada diri Mirza Ghulam maupun pengikut-pengikutnya.

Namun demikian apakah benar kaum Muslimin tidak mengikuti ajaran­ajaran Al-Qur’an bila tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi? Untuk menjawab soal diatas sebaiknya kita lebih jauh melihat ajaran­ajaran Ahmadiyah tentang sebab-sebabnya mengapa Mirza Ghulam memakai gelar nabi. Dalil-dalil yang dipakai Ahmadiyah guna menguatkan landasan bagi tegaknya kenabian maupun kerasulan Mirza Ghulam, ialah dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits. Tentu saja menurut penafsiran cara-cara mereka sendiri. Mula­mula dalil yang dipakai, berkisar pada ayat “khataman nabiyin” dalam surah Al-Ahzab ayat 40. Kata khatam disitu menurut Ahmadiyah bukan berarti “penutup” melainkan termulya. Jadi nabi Muhammad adalah nabi yang “termulya,” bukan nabi penutup. Oleh karena itu pengertian yang diberikan oleh sebagian orang-orang Islam terhadap kata khatam dengan pengertian pintu wahyu tertutup, bertentangan dengan kandungan Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah s.a.w.10

 

4.2    Vonnis Yang Mengejutkan
 

Oleh karena itu, demikian Ahmadiyah melanjutkan, perlu kiranya dijelaskan ala kadarnya arti “khataman” didalam ayat tersebut yang dijadikan sumber salah mengerti oleh sebagian orang. 11

Kata-kata: bertentangan dengan kandungan Al-Qur’an dan sabda­sabda Rasulullah, dan kata-kata: sumber salah mengerti, tampaknya tidak mempunyai effek-effek yang berat pada mereka “sebagian orang itu.” Padahal kenyataannya itu adalah sebaliknya; effek-effek itu telah disuarakan sendiri oleh Ahmadiyah, yaitu effek yang paling berat bagi “sebagian orang itu,” yakni bagi orang-orang yang menentang kandungan Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad s.a.w. adalah kafir buat mereka. Kemudian kata-kata: “sebagian orang-orang Islam,” kami garis-bawahi, oleh karena kata­kata tersebut seolah-olah tidak mengandung problema yang serius atau persoalan-persoalan yang perlu dibahas; demikian kelihatannya. Padahal jika diteliti dengan seksama kata-kata sebagian orang-orang Islam itu, mengandung isi yang berat atau jumlah yang sangat banyak. Sebagian orang tentunya orang-orang sang berada di luar Ahmadiyah, dan kalau dibandingkan dengan jumlah pengikut-pengikut Ahmadiyah maka sebagian orang-orang itu, mungkin sudah dua-ratus kali lebih banyak dari pengikut Ahmadiyah. Bahkan lebih dari itu, mungkin sudah empat ratus juta kaum Muslimin yang oleh Ahmadiyah dikatakan: “telah bertentangan dengan kandungan Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah s.a.w. atau dengan kata lain, tidak mengikuti Al­Qur’an dan sabda Nabi s.a.w. atau dengan kata lain tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi atau dengan kata lain, mengingkari seorang nabi Mirza Ghulam, yang menurut istilah Islam adalah kafir! 12

Tegasnya ratusan juta kaum Muslimin yang non Ahmadiyah adalah kafir, demikian vonnisnya kaum Mirza Ghulam Ahmad. Maka untuk kata­kata: “sebagian orang-orang Islam” itu hendaknya dihapus saja dan se­baliknya Ahmadiyah berterus-terang bila menyebut jumlah yang sebenarnya, jangan bermain diplomasi. Belum lagi kaum Muslimin yang hidup sebelum pendiri Ahmadiyah itu muncul, generasi-generasi sampai pada Tabi’in dan para Sahabat Nabi s.a.w., mereka telah bertentangan dengan faham Ahmadiyah yang menabikan orang dari Qadian itu, dan alangkah malangnya nasib mereka yang salah mengerti itu. Ataukah mereka adalah orang-orang – hanifan, karena belum kedatangan seorang nabi (Mirza Ghulam Ahmad)?!

Pendirian bahwa Ahmadiyahlah yang haq, oleh karena hanya mereka yang memiliki nabi baru itu, maka untuk persiapan-persiapannya untuk menguatkan landasan berpijaknya Mirza Ghulam Ahmad diatas kenabiannya itu, tidak tanggung­tanggung lagi, mereka menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan sabda-sabda Nabi Muhammad s.a.w.

Kembali pada pegangan mereka yang mula-mula yakni kata “khatam” dari khataman nabiyin, menurut Ahmadiyah, perkataan khatam adalah perkataan yang ratusan kali dapat dijumpai dalam kata-kata lainnya yang menerangkan arti yang jelas yaitu bukan penghabisan atau penutup. Didalam Itqaan juz I ditulis, bahwa Imam Suyuthi adalah “khatam” bagi orang-orang Muhaqqiq, padahal orang Muhaqqiq {penyelidik) tidak pernah henti-hentinya di dunia ini. Muhammad Rasyid Ridha, pujangga Mesir yang kenamaan menulis dalam tafsir Fatihahnya halaman 148 tentang Syeikh Muhammad Abduh: “khatimul – A-immah ini tidak berarti Muhammad Abduh itu sebagai penutup dari pemimpin-pemimpin (Imam). Seorang penyair yang kenamaan yaitu Abu Tamam dikatakan “khatam Asy-Syu’ara” penyair yang termulya. Tentu tidak dapat dikatakan penutup dari semua penyair yang penghabisan. Singkatnya arti khatam tidak lain ialah mulya dan kalimat tersebut dalam ayat tadi dimaksudkan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Nabi termulya dari semua nabi-nabi.l3 Demikian Ahmadiyah menjelaskan.

Benarkah bahwa Suyuthi, Abduh dan Abu Tamam adalah orang-orang yang digelari “khatam”? Jika salah seorang murid­nya atau banyak muridnya atau semua pengikut­pengikutnya mengatakan bahwa Suyuthi adalah Muhaqqiq termulya, Abduh adalah Imam yang termulya, dan Abu Tamam adalah penyair yang termulya, maka biarkanlah mereka berkata demikian. Itu adalah hak mereka. Bahkan jika mereka mengatakan bahwa ketiga orang tersebut bergelar yang penghabisan atau penutup, itupun adalah hak mereka. Keyakinan yang mereka utarakan tentang ketiga orang itu adalah relatip. Kita dan siapapun juga berhak untuk menolak kedudukan khatam pada mereka itu.

Sebaliknya, jika Ahmadiyah mempopulerkan pengertiannya tentang khatam dalam khataman nabiyin dari Al-Ahzab ayat 40 itu dengan menuduhkan pada ratusan juta kaum Muslimin bahwa pendapat mereka telah bertentangan dengan kandungan isi Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad s.a.w.. yang menimbulkan effek paling berat dalam pandangan Agama Islam, yakni menjadi kafir, belum lagi mereka-mereka yang hidup sebelum munculnya tokoh Qadian itu sampai pada para Tabi’in dan sahabat-sahabat Nabi, maka atas penilaian Ahmadiyah yang gegabah itu, akan kita lihat satu persatu.

Selanjutnya Ahmadiyah mengatakan bahwa sekiranya sebagai perumpa­maan kita terima arti dan pengertian sementara orang-orang itu, bahwa khatam itu berarti penutup, dapat pula diartikan penutup, nabi-nabi yang membawa syariat.14 Sekali lagi Ahmadivah ingin mendekatkan pengertiannya dengan pengertian kaum muslimin. Namun untuk menyebut bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi pertutup yang membawa syariat, pengertian yang demikian tidak bisa diterima.

Pengertian yang benar adalah yang diberikan oleh ratusan juta kaum muslimin, bahwa Nabi Muhammad adalah penutup segala nabi­nabi. Tidak lagi ditambahi, yang membawa syari’at. Itu hanya satu helah, dimana Ahmadiyah akan berkata bahwa kesempatan untuk datang nabi baru sesudah Nabi Muhammad akan ada. Dan satu hal yang pasti bagi mereka bahwa nabi yang akan datang itu telah ada, yakni Mirza Ghulam Ahmad, dengan tambahan di belakangnya: nabi ghair tasyri’ (nabi yang tidak membawa syariat) .

Jika Ahmadiyah mengatakan lagi bahwa sebab-sebab turunnya ayat 40 dari surah Al-Ahzab itu, juga dikarenakan atau dimaksudkan Allah untuk membela nama baik nabi Muhammad dikarenakan beliau mengawini bekas istri anak angkatnya, maka andaikata yang diniatkan mereka itu demikian, justru jalan yang mereka tempuh itu keliru. Jelasnya, bahwa Ahmadiyah dengan hanya mengutamakan kata khataman nabiyin saja yang diartikan termulya, mereka merasa telah mengangkat nama baik Nabi Muhammad s.a.w.; padahal yang utama dari ayat 40 Al-Ahzab itu terletaknya pada ayat: “Aba Ahadin min rijalikum” (bukan ayah seorang di antara laki-laki kamu), hal ini telah diabaikan dan di sinilah letak salah jalannya mereka.

Surah Al-Ahzab ayat 40, adalah mengandung salah-satu hukum dari hukum­hukum Allah untuk menunjukkan pada kaum kuffar bahwa apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. yakni mengawini bekas istri anak angkat beliau (Zaid) adalah boleh dan haq. Inilah hukum Allah dan inilah pembelaan Allah pada Rasul-Nya. Adapun ayat “Rasulullah” dan “khataman nabiyin” pengertiannya adalah pesuruh Allah dan Nabi penutup semua nabi. Pengertian inipun adalah hukum Allah, ketetapanNya yang harus diketahui semua manusia, termasuk orang-orangnya Mirza Ghulam Ahmad, bahwa jumiah 124 ribu nabi itu telah diakhiri dengan kenabian Muhammad s.a.w.

Ahmadiyah mengatakan, bahwa ayat tersebut tidak ada hubungannya sedikitpun dengan soal ada atau tidak adanya Nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w., padahal justru beberapa kitab-kitab Ahmadiyah berbicara tentang khataman nabiyin dari Al-Ahzab ayat 40 itu, selalu menghubung­hubungkan dengan alasan-alasan yang memungkinkan munculnya nabi sesudah Ke-Nabian Muhammad s.a.w. Kenyataannya Ahmadiyah berbicara:

“Banyak orang mengatakan bahwa kata “Khataman Nabi-“yin” yang tercantum dalam Al-Qur’an Surah Ahzab ayat 40 maknanya ialah Nabi Muhammad s.a.w. itu Nabi penutup dengan pengertian, bahwa sesudah beliau tak akan datang lagi Nabi sekalipun hanya nabi-ikutan atau  nabi tak membawa syari’at. Benarkah arti ayat termaksud demikian? Ahmadiyah menjawab:  “Baik menurut sebab musabab turunnya ayat, menurut jalan uraian Al-Qur’an mengenai soal kenabian menurut pengertian Rasulullah s.a.w. dengan para sahabat menurut para pujangga dan orang suci terdahulu maupun menurut lughah, pengertian tersebut di atas tidak benar.”15
 

Jelasnya Ahmadiyah selalu menghubung-hubungkan ayat 40 Al-Ahzab itu dengan soal ada atau adanya nabi sesudah nabi Muhammad.

Maka untuk pengertian kata “khatam” dari khataman nabiyin surah Al-Ahzab ayat 40 itu, tidak ada arti lain selain pengertian: penutup! Dan tidak perlu menambah embel-embel syari’at di belakang penutup itu. Demikian tafsir Jalalain Al-Misbahul-Munir, tafsir Syaukani, tafsir Kabir (Mafatihul ghaib) dari Muhammad Arrazi Fahruddin – Kairo-1324 H – Amelia syarafia hal. 581, tafsir Ruhul Ma’ani {Alusi) sayid Mahmud Alusi – 1270 H – juz 22 – Al-Muniriyah Mesir, hal. 30, juga tafsir-tafsir lainnya, tidak menyebutkan pengertian lain melainkan arti “penutup” dari semua nabi-nabi.

Selanjutnya Ahmadiyah berkata; bahwasanya kalimat khatam dapat pula dibaca “khatim” yang berarti hiasan bagi sang pemakainya. Apabila diartikan demikian, maka Rasulullah s.a.w. itu bagaikan hiasan indah bagi nabi­nabi. Dalam Fathul-Bayan juga dikatakan, bahwa nabi Muhammad s.a.w. adalah bagaikan hiasan cincin yang dipakai oleh para nabi karena beliau nabi termulia.16 Kemudian masih dalam pengertian khatam itu, Ahmadiyah berkata:

“Jadi, perkataan “khataman nabiyin” berarti cap atau stempel daripada nabi-nabi. Yakni Nabi Muhammad s.a.w.  ialah kebagusan daripada segala nabi-nabi.”17
 

Ahmadiyah mengartikan cincin dan stempel buat Nabi Muhammad sebagai kiasan dan menafsirkannya dengan kebagusan atau termulia merupakan cara­cara orang yang telah kehabisan bahan, hanya dengan maksud memanjang­manjangkan pujian palsu pada Nabi s.a.w. Apakah bukan satu penghinaan, kalau Nabi Muhammad dikiaskan sebagai cincin yang dipakai jari-jemari para Nabi, dan stempel daripada Nabi-nabi? Yang patut ialah jika Nabi Muhammad dikiaskan dengan benda maka seharusnya para Nabi dikiaskan dengan benda juga. Misalnya baris-baris kalimat dalam suatu surat (warkah) yang disudahi dengan stempel. Baris-baris kalimat itu adalah para Nabi, warkah itu adalah bumi, dan stempel (cap) itu adalah Nabi Muhammad saw. Pada hamparan warkah itulah kalimat-kalimat yang rapi merupakan barisan Nabi-Nabi dimana kesudahan dari baris Nabi-nabi ditutup dengan stempel yakni Nabi Muhammad. Cap atau stempel itu sendiri lebih bagus dan lebih mulia dari barisan kalimat, dan cap itu pula yang menyudahi (menutup) kalimat-kalimat itu. Pengibaratan inilah kiranya yang lebih memadai dari pada cara-cara yang dikemukakan Ahmadiyah.

 

 

1 Dalam kisah Beibel dikatakan, bahwa bila Judas mencium Yesus, itu tidak berarti ia cinta pada Gurunya, melainkan ia telah merencanakan suatu pengkhianatan yang keji. ^

2 lih: Saleh Nahdi, selayang pandang Ahmadiyah, ha1.41.

3 lih: Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 22 ^

4 lih: Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 17. ^
5 lih: Mirza Ghulam Ahmad, Ajaranku, terjemah R. Ahmad Anwar, 1966, Wisma damai, Bandung, hal. 20. ^

6 lih: idem nomer. 4, hal. 20 ^

7 lih: Sinar Islam, Januari/Pebruari/Maret/April 1974, No: 5-6, hal. 34  ^
8 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, ha1.41. ^

9 lih. Syafi R. Batuah Ahmadiyah Apa, dan Mengapa?, Jakarta, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1968, hal. 19. .^

10 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, hal. 33.  ^
11 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, hal. 33. ^

12 lih: Syafi R. Batuah, Ahmadiyah Apa dan Mengapa?, hal. 19 ^

13 lih: Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, ha1.35 dan  ^
14 lih: Saleh A.Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah bag. I, Ujung Pandang Rapen, 1972, hal. 11 ^

15 lih: Saleh A.Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah, hal. 8/10. ^

16 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 34.
17 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jasa Imam Mahdi a.s.

 

 


 

4.3   Demagoog Qadiani. 18
 

Bukan itu saja yang dipakai oleh Ahmadiyah untuk meluruskan jalan buat kenabian Mirza Ghulam Ahmad, melainkan juga mereka menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits. Mula-mula Ahmadiyah berkata dengan lantangnya:

“Sekarang kita lihat arti khataman Nabiyin menurut pengertian Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Apakah beliau memahaminya, dalam arti tidak akan ada lagi Nabi sesudah beliau.” 19
 

Apakah beliau memahaminya, benarkah kalimat itu dipakai dan ditujukan pada Nabi Muhammad?! Kiranya Ahmadiyah telah melakukan keasalahan, ceroboh dan kurang-ajar dalam bahasa dan akhlak terhadap Nabi. Sebelum sampai pada ucapan-ucapan Nabi sendiri, marilah kita lihat bagaimana Ahmadiyah mengutip dari ucapan Aisyah, isteri Nabi Muhammad s.a.w.:

“Katakanlah Rasulullah itu khataman Nabiyin, tapi jangan dikatakan tidak akan ada Nabi sesudah beliau.”20
 

Sungguh menggembirakan bahwa Ahmadiyah memperoleh landasan berpijak yang kuat daripada ucapan isteri Nabi itu. Dengan ucapan Aisyah itu, maka pintu kenabian sesudah Nabi Muhammad terbuka lebar-lebar. Sudah tentu para pengikut Mirza menyambut gembira ucapan Aisyah itu. Sekiranya perlu menambah maka tambahkanlah ucapan-ucapan dari isteri-isteri Nabi yang lain. Katakan juga bahwa Hafsah, Ummi Salamah berkata seperti apa yang dikatakan Aisyah itu. Tentu saja sangat lemah ucapan-ucapan demikian untuk dipakai menjadi dasar.

Apakah beliau memahaminya? Seperti apa yang dikatakan Ahmadiyah terhadap Nabi Muhammad s.a.w. demikian Ahmadiyah mulai menggunakan Hadits-hadits untuk kepentingan. Mirza Ghulam. Lima tahun sesudah turunnya ayat khataman Nabiyin, demikian Ahmadiyah berkata, putera Nabi s.a.w. yang bernama Ibrahim wafat. Dalam hubungannya dengan wafatnya putera beliau ini, Nabi Muhammad s.a.w . bersabda:

“Sekiranya dia (Ibrahim) terus hidup niscaya dia  menjadi seorang Nabi yang benar. (Ibnu Majah).”21
 

Dari sabda Nabi tersebut di atas nyatalah pengertian Nabi kita yang sebe­narnya, pengertian yang tidak membenarkan faham bahwa khataman Nabiyin berarti penutup Nabi-nabi. Lebih jelas lagi Ahmadiyah mengatakan, bahwa sekiranya Rasulullah berpengertian tidak akan ada Nabi lagi sesudah beliau, niscaya tidak beliau katakan yang tersebut di atas.22

Ahmadiyah mengutip hadits tersebut dari ibn Majah jilid satu halaman 234, yang kedudukannya tanpa menyebut-nyebut sanadnya. Sedangkan kata “sekiranya” itu memberi arti “tidak mungkin terjadi” sebab sekiranya Ibrahim hidup, padahal ia telah wafat. Anehnya, sesudah seribu tahun lebih dari kewafatan putera Rasulullah s.a.w. itu, ada seorang yang berambisi mengambil­alih kesempatan yang mungkin ada pada Ibrahim untuk menjadi Nabi, yakni Mirza Ghulam Ahmad.

Oleh karena segala kemungkinan adanya Nabi baru tidak akan pernah ada dan tidak akan ada samasekali, bersabda Nabi Muhammad:

“Kalau sekiranya ada Nabi sesudahku, maka Umarlah dia”
(Masnad ibn Hambal Umar bin Khattab masih hidup tatkala Nabi Muhammad s.a.w. mengucapkan ucapan beliau tersebut. Dan tatkala beliau s.a.w. telah lama pergi,
Umar masih ada, namun beliau hanyalah seorang Khalifah.)

Ini bertepatan dengan sabda Rasul:

“Adapun bani Israil itu terpimpin oleh Nabi-nabi. Tiap seorang Nabi wafat maka datanglah Nabi yang lain mengikutinya. Dan sesungguhnya sesudah saya tidak akan ada Nabi, melainkan Khalifah.” (Ibn Hambal, Muslim, Ibn Majah)
 

Akan tetapi ambisi yang meluap-luap itu tidak memungkinkan Mirza Ghulam mundur selangkah saja untuk membuang titel kenabiannya. Juga ia tidak akan berkompromi pada siapa saja untuk meninggalkan kerasulan­nya, keyesusannya, dan kemahdiannya .

Saya ini Nabi, kata Mirza Ghulam Ahmad, dan saya bukan nabi palsu! Sebab nabi palsu sudah diberi definisi oleh Ahmadiyah, ialah, bahwa hidupnya singkat tidak lebih dari 23 tahun, setelah mana ia dan pengikut­pengikutnya hapus dari muka bumi dengan tiada meninggalkan bekas, mereka tidak memperoleh bantuan Tuhan.23

Dan kelahuilah bahwa Mirza Ghulam Ahmad hidup lebih dari 23 tahun. Untuk ini Ahmadiyah berkata:

“Beliau hidup lebih dari 23 tahun setelah menerima wahyu dari pada Allah Ta’ala dan mengaku utusanNya.

Orang yang mengaku terima wahyu dari Allah Ta’ala dan disiarkannya dengan pengakuannya sebagai utusan daripada Allah Ta’ala dan dia hidup 23 tahun atau lebih, maka (Qur’an mensahkan dakwanya. (seperti tersebut di dalam surat Al-Haqqah: 45-47) “24

Menarik buat ditelaah, bahwa Ahmadiyah menggunakan limit waktu 23 tahun, atau lebih untuk kebenaran suatu pendakwaan kenabian sesudah Nabi Muhammad s.a.w. Bahkan Al-Qur’an yang mensahkan kenabian baru itu seperti tersebut dalam surah Al-Haqqah ayat 45-47. Padahal isi ayat itu tidak ada hubungannya dengan pengesahan sesuatu kenabian baru. Ayat dari Al-Haqqah itu terjemahnya sebagai berikut:

“Sebab itu biarkanlah Aku (menyiksa) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Qur’an). Nanti akan Kami turunkan (siksaan) kepada mereka sedikit demi sedikit,  sedang mereka tiada tahu. Aku beri mereka tempo, sungguh tipu muslihatKu (siksaanKu) amat kuat. Bahkan adakah engkau (ya Muhammad) meminta upah kepada mereka lalu mereka merasa keberatan membayarnya? Atau adakah di sisi mereka (ilmu) ghaib, lalu mereka menuliskannya?”
 

Jelas ayat-ayat tersebut tidak mempunyai kaitan atau hubungan apa-apa dengan dakwaan nabi baru sesudah ke-Nabian Muhammad s.a.w.

Adapun alasan limit waktu yang dipakai Ahmadiyah yakni 23 tahun itu, adalah masa yang telah dilalui oleh perjuangan Rasulullah s.a.w. Jika 23 tahun tersebut diterapkan oleh Ahmadiyah pada Mirza Ghulam Ahmad, maka sungguh kelihatan bahwa pegangan yang demikian itu adalah lucu. Andaikata ada orang mengaku Nabi sesudah kenabian Muhammad s.a.w., dan ia hidup lebih dari limapuluh tahun, menyiarkan kenabiannya dan matinya tidak terbunuh, maka kenabiannya itu tetap sebagai satu kepalsuan. Abad­abad terakhir ini banyak kepalsuan-kepalsuan bertahan berpuluh­puluh tahun bukan karena kebetulan saja, melainkan karena keorganisasiannya yang rapi dan landasan hidupnya yang kuat serta tameng pelindungnya yang ampuh.

Adalah satu contoh seperti Ahmadiyah ini yang datang menyusup­nyusup ke dalam tubuh Islam dengan merangkak-rangkak kemudian tegak dan mulai berbicara lantang bahwa ialah yang mewarisi kesejatian agama, membawa ajaran-ajaran yang kacau dan mengacaukan ketenangan iman ummat Islam, mendakwa diri dengan seribu macam pangkat, nama, keturunan, tingkah-laku, merupakan contoh yang bisa diidentikkan dengan kelakuan-kelakuan biadab, penghinaan maupun maki-makian yang keji terhadap pribadi Nabi Muhammad s.a.w. perusakan mesjid-mesjid, pembunuhan biadab pada ummat Muhammad, penghinaan kepada Allah, syirik, anti Tuhan, anti Agama, dimana mereka itu hidup lebih dari duapuluh tahun. Jika sekiranya Tuhan telah membinasakan nabi-nabi palsu maka seharusnyalah Tuhan juga membinasakan kejahatan-kejahatan di atas. Kedua­duanya tidak berbeda bahkan sejalan!

Kembali kita pada persoalan-persoalan Ahmadiyah dimana dis­ajikan berbagai dalil guna menguatkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad, maka sampailah kita pada ucapan-ucapan tokoh-tokoh Ahmadiyah, antara lain Bashiruddin Mahmud Ahmad, putera Mirza Ghulam Ahmad itu berkata:

“Dan beliau s.a.w., sahkan kebenarannya semuanya Nabi-nabi baik yang dahulu baik yang akan datang. “25
 

Maknanya Nabi Muhammad telah mensahkan kebenaran Nabi-nabi, baik yang datang sebelum beliau maupun Nabi-nabi yang datang sesudah beliau. Jika yang dimaksud oleh Bashiruddin bahwa sesudah Nabi Muhammad ada Nabi seorang saja yang disahkan, maka itulah sebenarnya yang menjadi tujuannya

dan tujuan Ahmadiyah. Akan tetapi kenyataan dari ucapan Bashir itu tidak demikian, sebab ia mengatakan nabi-nabi yang berarti banyak Nabi. Bukan begitu, tukas Ahmadiyah, melainkan banyak Nabi sebelum Nabi Muhammad dan hanya satu Nabi sesudah beliau. Itu hanyalah tergelincir pena atau keliru cetak. Maka untuk sejenak kesalahan ucapan Bashir itu kita lampaui saja. Baiknya melihat keterangan-keterangan atau dalil-dalil lain seperti yang diucapkan tokoh-tokoh Ahmadiyah lainnya. Berkata Ahmadiyah:

“Bahwa Nabi sesudah Nabi Muhammad itu kita akui ada dan seterusnya akan ada.”26
 

Muncul lagi Kata-kata “dan seterusnya akan ada” yang tentunya mengandung arti akan berdatangan Nabi-nabi sesudah Nabi Muhammad, bukan begitu ? Dimana dan siapa-siapa mereka gerangan Nabi-nabi sesudah Nabi Muhammad yang disahkan itu? Bashiruddin tampil kemudian dengan memamerkan beberapa Nabi-nabi akan tetapi sayangnya mereka Nabi­nabi palsu belaka, yaitu Musailamah, Aswad Al-Ansi, Syajjah Al-Kahinah, Abdullatif, Maulawi  Muhammad Jar, Zahiruddin Abdullah Timapuri, dan Nabi Bux.27 Tentu saja bagi Ahmadiyah kedudukan Mirza Ghulam Ahmad tidak berada diantara Nabi-nabi palsu itu. Lantas dimana dan siapa Nabi-nabi sah yang seterusnya akan ada itu? Jika memang dicukupkan satu orang saja menjadi Nabi dan “seterusnya akan ada” itu ternyata menjadi seterusnya tidak akan ada, maka Ahmadiyah sewajarnya menjelaskan bahwa hal itu kebetulan juga salah cetak atau tergelincir lidah. Satu-dua kali keliru tidak apa-apa akan tetapi berulang-ulang salah, adalah memalukan sekali.

Meskipun demikian, ternyata Ahmadiyah tidak kehilangan langkah buat menutup-nutupi kesalahannya, sebab kemudian Ahmadiyah berkata, bahwa adanya Nabi sesudah Nabi India Mirza Ghulam Ahmad, bisa saja dan mungkin, bila Tuhan menghendaki.28 Ahmadiyah masih memberi kesempatan, tentu saja bila Tuhan menghendaki, adanya Nabi pengganti Mirza Ghulam. Sikap lunaknya ini ternyata membelakangi sikapnya yang lain. Ahmadiyah masih menggoreskan kedalam hati pengikut­pengikutnya satu kebulatan iman bahwa Tuhan hanya akan mengutus satu Nabi saja sesudah kenabian Muhammad s.a.w. Cukup dan selesai dengan kenabian Mirza saja. Ahmadiyah berkata:

“Didalam ummat Rasulullah yang mengikuti jejak beliau memper­oleh berkah ribuan hingga mendapat kedudukan wali. Tetapi satu orang ada yang menjadi ummati dan juga menjadi Nabi.”29
 

Satu orang cukup dengan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, yang lain wali­wali.

 

 

18 Demagoog Qadiani ialah seorang pembohong dari Qadian yakni Mirza Ghulam. ^
19 lih. Saleh A.Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 10 ^

20 lih.M.Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, Wisma Damai Bandung, 1967, hal. 12: (qulu innahu khatamul ambiya’i wa la taqulu la nabiyya ba’dahu) 19). ^

21 lih. Saleh A.Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 10 ^

22 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 36. ^

23 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 46. ^

24 lih: sayyid Shah Muhammad, Menyingkap Keraguan, Jakarta, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, tahun tidak ada, hal. 18. ^
2
5 lih. Bashirudin Mahmud Ahmad, jasa-jasa Imam Mahdi, hal. (e) ^
26 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal. 16. ^
27 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jasa-jasa Imam Mahdi, hal. 15.  ^
28 lih: Syafi R. Batuah, Ahmadiyah Apa dan Mengapa? hal. 6 ^

29 lih: Saleh A. Nahdi, Mengapa dua Ahmadiyah? Jogyakarta, 1966, hal. 19. ^

 

 

 

4.4    Watak Yahudi
 

Tingkah laku yang disukai oleh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah­nya   ialah mengubah makna maupun tujuan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan   Hadits dengan selera serta kepentingan mereka. Seperti watak yang dimiliki kaum Yahudi, yaitu yuharriful alkalimah an-mawadi’ih, maka begitulah sikap dan kelakuan kaum Ahmadiyah ini.

Dalam suatu penjelasan atas sebuah hadits yang menerangkan tentang kesudahan Nabi pada Nabi Muhammad, Ahmadiyah menyatakan pendiriannya yang menarik. Lebih dahulu kita ketahui isi hadits tersebut, yaitu:

“Misal aku dengan Nabi-nabi yang sebelum aku seperti seorang laki-laki yang telah mendirikan sebuah gedung yang indah tetapi ketinggalan satu bata dan mereka bertanya mengapa tidak engkau pasang sebata yang ketinggalan itu. Akulah bata itu dan aku juga kesudahan Nabi-nabi.”30
 

Apabila Hadits tersebut dipakai oleh ulama-ulama dengan mengkiaskan satu bata itu untuk menyatakan kenabian Muhammad sebagai Nabi terakhir, maka menurut Ahmadiyah, itu adalah satu penghinaan atas diri beliau. Adakah beliau hanya seperti batu bata saja bagi sebuah gedung yang indah bentuknya itu? Jika dimisalkan dengan tiang mungkin juga diterima, tapi jika Nabi s.a.w. cuma sekedar batu bata saja, sangat keterlaluan, padahal Nabi Muhammad s.a.w. lebih dari Nabi-nabi yang lain bahkan dari Malaikat-malaikat sekalipun.31

Akhirnya karena itu satu penghinaan pada Nabi Muhammad, maka Ahmadiyah mengajukan satu pembelaan juga. Adapun yang dimaksud dengan satu bata itu, kata Ahmadiyah, ialah syari’at atau Agama. Syari’at yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi yang dahulu merupakan satu gedung yang masih kurang (satu bata, bukan? pen.) maka dengan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. sempurnalah gedung itu.32

Yang menarik dari penjelasan Ahmadiyah di atas ialah bahwa satu bata itu jika dimisalkan Nabi Muhammad adalah satu penghinaan. Yang benar, kata Ahmadiyah, bahwa satu bata itu adalah syari’at atau Agama, yakni Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Coba bayangkan bahwa gedung yang indah itu diibaratkan syari’at-syari’at Nabi-nabi yang sebelum Nabi Muhammad. Kemudian karena masih ketinggalan satu bata yaitu masih ada satu lobang bata pada gedung yang indah itu. Maka syari’at Nabi Muhammadlah pengisi lobang sebata itu. Apakah ini bukan penghinaan juga?!

Ataukah ada pengertian lain dari Ahmadiyah, bahwa setiap batu-bata pada bangunan yang indah itu adalah syariat atau agama nabi-nabi sebelum nabi Muhammad. Hal ini perlu kiranya minta bantuan Ahmadiyah untuk menaksir berapa jumlah batu bata yang terdapat pada gedung yang indah itu? Jelasnya berapa puluh ribu syariat atau agama sebelum syariat/agama Islam datang? Apa yang dikatakan Ahmadiyah itu adalah nonsense, omong-kosong. Itu tidak lain satu penghinaan atas diri Nabi dan atas syariat yang dibawa beliau.

Selanjutnya Ahmadiyah mengatakan bahwa hadits tersebut adalah dha’if atau lemah dan para perawi dalam hadits itu tidak dapat dijadikan ukuran dan pegangan.33 Pada akhirnya Ahmadiyah mengatakan bahwa dalam hadits itu ada satu keganjilan yang perlu dipikirkan disini. Kalau hadits itu shahih dan Nabi kita s.a.w. sudah menyempurnakan gedung indah dengan penutup lobang yang tadinya terbuka dengan kedatangan beliau. Dalam gedung yang sudah demikian itu Nabi Isa a.s. akan menjadi sebagai apanya? Kita berdasarkan Qur’an dan Hadits masih menunggu kedatangan Nabi, dalam hadits dikatakan nabi Isa akan datang.34 Terakhir Ahmadiyah bertanya:

“Kalau kita ibaratkan Nabi Isa sebagai batu-bata pula dalam rangka susunan Nabi-nabi, maka dimana batu-bata ini akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada  lobangnya itu?”35

 

Sekali lagi ulasan Ahmadiyah di atas menarik untuk dibahas. Untuk menjawab pertanyaan: dimana batu-bata Nabi Isa akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya itu? Ahmadiyah telah menjawab pertanyaan ini, akan tetapi dua jawaban, dari mereka satu sama lain sudah tidak sama. Yang pertama Ahmadiyah menjawab: “Hendaknya dikatakan, masih tinggal dua batu bata lagi yaitu batu-bata nabi Muhammad s.a.w. dan batu-bata nabi Isa a.s. yang akan turun di akhir zaman.36 Jawaban mereka yang pertama ini jelas mengandung satu penghinaan    pada nabi Muhammad. Beliau s.a.w. diibaratkan satu bata saja dan beliau disejajarkan dengan satu bata lainnya yakni batanya nabi Isa a.s. akhir zaman yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian pada jawaban yang kedua, Ahmadiyah berkata:
 

“Itulah sebabnya untuk menyempurnakan syariat-syariat para nabi terdahulu itu datanglah nabi Muhammad membawa syariat Al-Qur’an yang sempurna. Yang sempurna itu tak memerlukan lagi perubahan apapun dalam gedung indah itu. Tetapi untuk merawat, mengapur, membersihkan dan menjaga gedung itu diperlukan seorang petugas, dan untuk memelihara kebun dan halamannya diperlukan tukang kebun yang diberi tugas oleh Tuhan.”37
 

Disini pada jawaban yang kedua, gedung indah itu sudah tidak ada lobangnya lagi sebab sudah terisi dengan Nabi Muhammad. Jadi yang ditanyakan oleh Ahmadiyah, dimana batu bata ini akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya lagi? Telah dijawab sendiri oleh mereka, sedang Nabi Isa itu hanya tukang kapur, tukang sapu, tukang kebun dan tukang rawat atas gedung indah itu. Apa tidak kurang kalau hanya seorang tukang yang merangkap segala pekerjaan atas gedung yang indah itu? Salah-salah Tukang itu (Mirza Ghulam Ahmad) bisa kelabakan, letih dan sakit-sakitan, bukan begitu? Memang ternyata demikian keadaan si tukang Mirza Ghulam itu. Ia sakit-sakitan saja dan kelak kita akan mengetahui betapa hebatnya sakitnya dan betapa pula effeknya terhadap tugasnya itu.

Dengan jawaban yang pertama yaitu bahwa seharusnya ada dua batu-bata pada gedung indah itu, dan pada jawaban yang kedua, bahwa sudah tidak ada lobang untuk pengisian satu bata iagi, sehingga Nabi Isa (Mirza Ghulam) bukan lagi satu batu-bata melainkan hanya tukang kebun dan lain-lain itu, di sinilah Ahmadiyah berbeda jawab satu dengan yang lainnya.

Lebih menarik lagi kalau kita terus memperhatikan ulasan Ahmadiyah atas hadits tersebut di atas. Sebagaimana tersebut Ahmadiyah menyatakan bahwa hadits itu adalah dha’if dan dengan sendirinya tidak dapat dijadikan ukuran dan pegangan.38 Kalau sudah dinyatakan dha’if buat apa dipakai dan diperpanjang uraiannya bertele-tele?! Dha’if ya sudah, tidak perlu lagi. Akan tetapi rupa-rupanya tidak demikian yang diniatkan oleh Ahmadiyah. Sebab hadits itu masih dipakainya dan kemungkinan untuk terlaksananya satu pengisian batu-bata pada lobangnya masih diharapkan dan dipastikan ada.
 

Untuk ini lebih tepat kalau kita mendengar langsung ucapan yang disampaikan oleh Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Ia berkata tentang hadits itu:

“Adalah golongan Nabi-nabi yang diibaratkan satu gedung itu kekurangan satu batu-bata, maka Allah akan cukupkan dan sempurnakan gedung itu dengan satu bata yang akhir. Maka akulah bata yang terakhir itu, hai orang yang melihat! “39
 

4.5   Mirza Pelepas Azab
 

Itulah yang diniatkan oleh Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya, bahwa hadits itu tidak dha’if dan bahwa satu bata itu memang ada, jadi bukan dua bata, dan bukan tukang kapur maupun tukang kebunnya gedung indah itu. Yang jelas bagi Ahmadiyah, bahwa semua Nabi-nabi itu ibarat batu-batu bata, termasuk Nabi Muhammad s.a.w. dan satu batu-bata yang kekurangan atas gedung itu diisi oleh Mirza Ghulam Ahmad, sebab dialah Nabi yang terakhir itu.

Selanjutnya Ahmadiyah masih mengutarakan dalil-dalilnya yang lain, dalam rangka menyongsong kedatangan nabi baru sesudah kenabian Muhammad s.a.w. Mereka lebih suka menggunakan ayat-ayat Qur’an dan sekaligus mengartikan sesuai dengan maksud-maksud mereka. Ayat 15 dari surah Bani Israiel, oleh Ahmadiyah diartikan:

“Tidaklah kami menurunkan adzab, melainkan kami kirimkan Rasul lebih dahulu. Ini untuk mencegah agar jangan sampai orang-orang nanti pada hari qiamat   menyoal: {surah Thoha ayat 134): Wahai Tuhan kami, kenapa Engkau tidak mengirimkan Rasul kepada kami lebih dahulu supaya kami dapat menurut ayat-ayat Engkau sebelum kami menderita kehinaan dan sengsara.”

Kemudian ayat lain yang berbunyi, ayat 58 Bani Israil:

“Tidaklah satu dusunpun sebelum berdirinya kiamat, melainkan kami akan membinasakan atau mengadzabnya dengan sehebat-hebatnya.”
 

Dari kedua ayat ini, demikian Ahmadiyah menegaskan, kita dapat mengam­bil kesimpulan bahwa kedatangan Rasul-rasul sebelum hari kiamat bukan mungkin saja, bahkan harus dan pasti.40 Lagi-lagi Ahmadiyah mengatakan

Rasul-rasul yang akan datang. Kedatangan Rasul-rasul itu justru untuk menyelamatkan kaum Muslimin dari kehancuran dan kesengsaraannya. Bila kehancuran itu terjadi? Ahmadiyah menjawab:

“Ummat Islam telah mengalami kehancuran dua kali. Kehancuran pertama tatkala penyerbuan raja Moghol, Hulagu Khan, pada tahun 1258 itu, dan kehancuran yang kedua tatkala berada di bawah penjajahan imperialisme Barat. “41
 

Karena dua kali kehancuran inilah maka Tuhan mengirim Rasul-rasulNya. Siapakah rasul yang dikirim Tuhan pada tahun 1258 itu dan siapa Rasul yang dikirim pada masa penindasan imperialisme Barat itu? Kaum Ahmadiyah tidak pernah menyebut-nyebut nama rasul yang diutus Tuhan pada tahun penyerbuan Hulagu Khan itu. Melainkan hanya satu rasul yang diutus pada masa penindasan imperialisme Barat, yakni Mirza Ghulam Ahmad. Ada kemungkinan Mirza rnerangkap sebagai rasul tahun 1258 itu juga. Sungguh menarik, bagaimana ia dapat menyelamatkan adzab sengsara kaum Muslimin pada tahun 1258 itu, padahal Mirza Ghulam Ahmad baru muncul ke dunia ini lima ratus tahun kemudian. Tentunya dari saat ke saat kaum Muslimin yang hidup antara 500 tahun itu akan mengajukan soal pada Tuhan: “Wahai Tuhan kami, kenapa Engkau tidak kirim rasul-Mu?” Justru pada waktu itulah saat yang paling tepat bila Tuhan mengutus rasul-Nya,dan tidak menunggu sampai Mirza Ghulam Ahmad lahir.

Kemudian pada kehancuran kaum Muslimin yang kedua kalinya, Tuhan telah mengirimkan: rasulNya, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Yang penting untuk ditanyakan di sini, apakah gerangan kiranya yang dibuat Mirza Ghulam Ahmad untuk menyelamatkan kaum Musilmin dan penindasan imperialisme Barat?!

Berikut ini Ahmadiyah mengemukakan satu dalil dari Al­Qur’an. Diambil dari surah An-Nisa’ ayat 69 yang berbunyi:

“Barangsiapa yang menurut perintah Allah dan RasulNya, nabi Muhammad s.a.w., mereka akan termasuk golongan orang­orang yang diberi nikmat oleh Allah yaitu, nabi-nabi orang­orang siddiq, syahid, dan saleh.”
 

Jelasnya mereka sebagai ummat selaras dengan keimanan kesetiaan dan keikhlasan mereka masing-masing dan taufik Ilahi menyertainya pula dapat menerima keempat kedudukan tersebut. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ummat Islam sebagai ummat yang terbaik dan patuh serta setia kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. mereka akan diberi empat macam nikmat yaitu: menjadi nabi, menjadi siddiq, menjadi syahid dan menjadi orang saleh. “42

Ahmadiyah meneruskan lagi uraiannya tentang ayat An-Nisa’ itu dengan mengatakan, dan jika perkataan minannabiyin (dari Nabi-nabi) dihubungkan dengan perkataan wa man yuthi’illaha warrusula (dan barangsiapa mengikut Allah dan rasul) maka adalah perkataan minan nabiyin itu tafsir (penjelasan) dari kalimat wa man yuthi’ilaha {barangsiapa yang mengikut Allah). Akhirnya Ahmadiyah berkata: “Maka dengan susunan seperti ini sudah pasti adanya nabi-nabi pada masa rasul atau kemudian beliau yang akan mengikut beliau. “43

Yang menarik buat kita bukan saja adanya nabi-nabi sesudah Nabi Muhammad melainkan kata-kata: ada nabi-nabi pada masa rasul. Untuk apa ditulis itu, apa Ahmadiyah buta pada sejarah atau membodoh-bodohi pengikut­pengikutnya. Lebih baik sebut saja: nabi-nabi di kemudian beliau. Inipun tidak terlepas juga dari blundernya, sebab nabi-nabi itu masih ditulisnya jua.

Lebih menarik lagi pada watak Ahmadiyah ialah mengubah arti dan tujuan dari ayat-ayat Al-Qur’an. Seperti dalam surah An-Nisa’ tersebut di atas, pengertiannya, bukanlah dimaksud bahwa yang taat pada Allah dan RasulNya akan diberi nikmat menjadi nabi-nabi, siddiqin, syuhada, dan shalihin, melainkan bagi mereka yang taat akan diberi nikmat sebagaimana nikmat yang diterima oleh para nabi, siddiqin, syuhada’ dan shalihin. Jika ada dari orang-orang itu muttaqin, shabirin, syakirin, mu’minin, maka Allah akan memberi nikmat sebagaimana yang diterima oleh Nabi-nabi siddiqin syuhada’ dan shalihin. Bukankah yang diharap mereka itu ialah keridhaan Allah di dunia dan di akhirat? Jadi jelas bukan nikmat menjadi nabi-nabi. Memang benar sudah banyak ummat Muhammad s.a.w. yang siddiqin, syuhada dan shalihin, tapi tidak pernah ada yang nabiyin, bahkan tidak pernah ada yang nabi, sekalipun. Itu hanya satu kecerdikan Ahmadiyah dengan tujuan membuka jalan bagi masuknya Mirza Ghulam Ahmad menjadi nabi.
Dan inipun juga satu kecerdikan kaum Ahmadiyah yang lain. Diambilnya dari surah Al-Maidah ayat 21:
 

 “Dan ketika nabi Musa a.s. berkata pada kaumnya (Bani Israel) wahai kaumku, ingatlah kamu pada, nikmat Allah yang telah diberikannya kepadamu yaitu waktu ia mengangkat diantara kamu menjadi Nabi-nabi dan raja-raja.”
 

Ayat ini tegas menjelaskan bahwa ummat Islam pasti akan menerima kedua macam nikmat tersebut. Nikmat yang kedua sudah sempurna yaitu sudah banyak sekali ummat Islam yang telah menjadi raja-raja dan nikmat yang kedua pasti sempurna pula. “44 Demikian Ahmadiyah.

Yang dimaksud nikmat pertama yang ditunggu-tunggu kaum Muslimin ialah nikmat menjadi nabi-nabi. Nikmat yang kedua menjadi raja-raja sudah banyak dan kalau nikmat itu sudah dirasakan ummat Muhammad, maka itu sudah berlawanan dengan kenyataannya. Justru raja-raja dalam Islam tidak ada dan syari’at Muhammad s.a.w. tidak mengenal kerajaan serta tidak mengajarnya. Raya-raja yang bangun di kalangan kaum muslimin adalah raja­raja yang banyak mendzalimi rakyatnya, dan hanya menikmati kemewahan harta dan perempuan. Apakah yang demikian satu kenikmatan dari Allah?! Ahmadiyah hanya omong-kosong. Apatah lagi datangnya nikmat inabi-nabi sesudah Nabi Muhammad.
 

 

30 lih: A. Nuruddin, arti hakiki dari ayat katamannabiyin, hal. 44  ^
31 idem. ^

32 idem. ^

33 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54. ^
34 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54. ^
35 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 55. ^

36 lih: A. Nuruddin , khataman nabiyin , hal. 45. ^

37 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 55. ^

38 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54. ^

39 lih: Mirza Ghulam Ahmad, Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. 32: (fa kaana khaliyan maudi’u labinatin, au’nil mun-amaq alaihi min hadzihil imarah, fa aradha Allahu an yutimma-nabaa’ wa yukmila-al-binaa bil labinati – akhirah, fa-ana tilkal-labinatu ayyuhan – nadhiruun.) ^

40 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal 22. ^

41 lih: Ali Muchajat, Hakikat al-Masih, Jakarta Al-Busyra, tanpa tahun, hal. 53. ^
42 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian hal. 20. ^
43 lih: idem hal. 21/22. ^

44 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal. 17/18. ^

 

 


 

4.6   Cabiklah Tirai Itu
 

Satu ucapan tidak beres yang berkali-kali dilontarkan Ahmadiyah. Namun demikian kalau sekiranya hendak ditanggapi obrolan Ahmadiyah itu, hanya semata-mata for the sake of arguments saja, katakanlah bahwa menjadi raja­raja di kalangan ummat Islam itu adalah satu kenikmatan dari Allah, lantas menjadi nabi-nabi, yang mana mereka itu? Satu hal yang pasti ialah bahwa Ahmadiyah hanya memiliki satu nabi saja sesudah Nabi Muhammad s.a.w., yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Jika ini dikatakan satu kenikmatan pula, maka yang dimaksud ialah kenikmatan buat Mirza sendiri, ketuarganya maupun para pengikut-pengikutnya yang setia. Bahkan kenikmatan itu begitu besarnya sehingga Ahmadiyah berani mengatakan bahwa ayat-ayat 6 dan 7 dari surah Al-Fatihah, tidak lain ditujukan bagi datangnya Mirza Ghulam.

Jelasnya, menurut Ahmadiyah bahwa dari surah Al-Fatihah ayat 6 dan ayat 7 yang berbunyi:

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus yaitu jalan yang telah Engkau tunjukkan kepada orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”

 

Ayat ini, demikian Ahmadiyah, ialah ayat di mana Allah telah memerintahkan kepada ummat Islam supaya sebagai ummat meminta kepadaNya, agar nikmat-nikmat yang pernah diterima oleh ummat dahulu terutama kaum Bani Israiel (Yahudi) diberikan pula pada mereka. Apakah nikmat-nikmat itu? Tidak lain, kata Ahmadiyah, ialah menjadi raja-raja dan nabi-nabi.45

Jadi bagi kaum Muslimin yang selalu mengucapkan do’a dalam Al-Fatihah pada waktu mereka melakukan shalat, tujuh belas kali sehari semalam itu, ternyata do’a mereka telah dikabulkan Tuhan yaitu, dengan munculnya Mirza Ghulam Ahmad dari India, sebagai satu-satunya nabi. Pantas juga kalau orang­orang pengikut Mirza mengatakan bahwa kedatangan Mirza sebagai fadhlan kabiran (buat siapa?!)

Last but not least, untuk lebih banyak mengenal model watak ke-Yahudian kaum Ahmadiyah ini, kita melihat satu uraian lagi dari mereka, dimana satu khabar gembira dari Tuhan telah turun pada Mirza Ghulam Ahmad, isi kabar itu ialah:

“Hai Mirza engkau dari Aku dan Aku dari engkau. “46
 

Wahyu Tuhan di atas sangat menggembirakan Mirza Ghulam, akan tetapi bagaimana mengartikannya? Satu hal yang tidak beres pada Ahmadiyah; bagaimana Tuhan bisa dikatakan dari Mirza dan Mirza dikatakan dari Tuhan? Apanya yang dari Tuhan dan apanya Tuhan yang dari Mirza Ghulam? Ada lagi wahyu yang bikin Mirza Ghulam Ahmad lebih bergembira:

“Wahai bulan (Mirza) engkau dari padaKu dan Aku dari padamu. “47
 

Andaikata wahyu Tuhan itu diartikan harafiah, maka kata-kata itu jelas keluar dari akal tidak waras. Tentu saja Ahmadiyah menolak tuduhan semacam itu. Maka inilah pengertian mereka yang disodorkan ke tengah­tengah pengikutnya. Mula-mula dikemukakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda pada Sayyidina Ali r.a.:

“Hai Ali engkau dari padaku, dan aku dari padamu. “48
 

Kemudian dikemukakan contoh lain, yaitu ketika Nabi Muhammad bersabda pada suku Asy’ari, ialah:

“Mereka dari padaku dan aku dari pada mereka. “49
 

Akhirnya Ahmadiyah bertanya tentang contoh-contoh yang dikemukakannya itu: anehkah itu dan ganjilkah? Dijawab sendiri oleh Ahmadiyah:

 “Ini senafas dengan ilham di atas, yakni ilham Tuhan pada Mirza di atas.”50
 

Tentu saja kalau Ahmadiyah yang menjawab, tidak aneh dan tidak ganjil wahyu Tuhan pada Mirza itu. Akan tetapi obrolan-obrolan mereka itu lebih daripada aneh dan ganjil, malah sangat tidak beres maupun tidak karuan.

Bahwa nabi Muhammad pernah bersabda, beliau s.a.w. daripada suku Asy’ari dan suku tersebut dari pada Nabi, ucapan yang demikian itu wajar, sebab terjadi antara dua jenis yang sama yaitu manusia. Juga sabda beliau s.a.w. pada sayyidina Ali tersebut di atas, wajar pula adanya. Bahwa Nabi adalah sepupu Ali bin Abi Thalib r.a., Nabi dipelihara ayah Ali, dan Ali diambil Nabi, dikawinkan pada puteri beliau, kemudian Nabi bersaudara dengan Ali, maka sungguh bahwa Nabi dari pada Ali dan Ali dari pada Nabi s.a.w. Terserah pada Ahmadiyah kini kalau mereka hendak menurunkan martabat Ketuhanan pada dan menjadi martabat manusia seperti Mirza Ghulam Ahmad itu; suatu kebodohan pada akal yang cerdik. Bahkan kecerdikan itu bertambah­tambah karena ucapan-ucapan mereka yang salah. Antara lain Ahmadiyah mengemukakan contoh ayat-ayat al-Qur’an yang diartikan menurut selera mereka, misalnya ayat 249 dari surah Al-Baqarah. Anak buah Mirza Ghulam Ahmad ini mengartikan ayat tersebut sebagai berikut:

“Siapa yang minum dari padanya (air sungai) dia bukan dari padaKU.” (faman syariba minhu falaisa minni).51
 

Kemudian Ahmadiyah bertanya:

“Apakah ini berarti bahwa orang yang tidak minum air sungai itu dia dari pada TUHAN?” Inipun senada dengan ilham Tuhan pada Mirza di atas tadi.52
 

Cobalah perhatikan bagaimana Ahmadiyah telah mengubah makna dari ayat tersebut dan sekaligus mengubah jalannya sejarah. Mereka suka mengambil ayat-ayat Al-Qur’an hanya potong-potongannya saja. Tentu saja mereka bermaksud untuk menguatkan ucapan-ucapan mereka. Padahal kelengkapan makna dari surah Al-Baqarah ayat 249 itu ialah sebagai berikut:
 

“Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada merasakan airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.”
 

Itulah arti yang sebenarnya sesuai dengan sejarah terjadinya peristiwa itu. Bukan diartikan seperti kehendak kaum Ahmadiyah, bahwa yang minum air dari sungai itu, ia bukan dari padaKu (TUHAN). Ini pengertian yang dibuat­buat atau sikap ke-Yahudiannya dengan yuharrifun-al-kalimah an-mawadhi’ih, selalu tampak menyolok pada mereka.

Contoh lain daripada watak-watak menyalah-gunakan arti dan tujuan dari ayat-ayat Al-Qur’an, dikemukakan lagi oleh golongan Mirza Ghulam Ahmad ini. Ahmadiyah mengatakan bahwa kedatangan Imam Mahdi yang dinanti-nantikan itu telah disabdakan Nabi Muhammad dalam sabda beliau:
 

“Sesungguhnya bagi kedatangan Imam Mahdi itu ada dua tanda yang belum pernah terjadi sejak dijadikan langit dan bumi oleh Allah. Tanda itu ialah: akan terjadi gerhana bulan pada permulaan bulan puasa dan gerhana matahari pada pertengahan bulan puasa yang sama. Kejadian serupa ini belum pernah terjadi sejak dijadikannya langit dan bumi oleh Allah.”
 

Tanda-tanda tersebut yang dinyatakan dalam hadits di atas, telah terjadi sesuai dengan berita yang tertera, yaitu terjadi pada tahun 1311 hijriah atau bertepatan dengan tahun 1894 masehi.53

Tanda-tanda yang istimewa itulah yang menyongsong kedatangan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi yang dinanti-nantikan. Menurut Ahmadiyah keistimewaan tanda-tanda dari datangnya Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Mahdi Al-Ma’huud itu, telah disinggung secara nyata, baik dalam kitab Beibel maupun dalam Al-Qur’anul Karim.54

Lebih lanjut meneruskan, bahwa Yesus telah memberi isyarat akan saat-saat kedatangan beliau yang kedua kalinya itu dalam kitab Beibel. Dalam surat Mattius 24;29, tanda-tanda itu dikatakan:

“Maka sejurus kemudian daripada ketika sengsara itu, matahari akan dikelamkan, dan bulan juga tiada akan bercahaya.”55
 

Itulah kutipan Ahmadiyah dari Beibel yang menggambarkan saat-saat kedatangan Yesus kembali. Orang-orang Ahmadiyah ini ternyata berbicara cukup hanya pada dua tanda saja. Tanda pertama, matahari akan dikelamkan, dan tanda kedua, bulan tiada akan bercahaya. Apabila kita melihat sepintas saja akan kejadian-kejadian dari matahari dan bulan di atas, maka kita melihat seolah-olah memang sudah terjadi gerhana bulan dan matahari, dalam bulan yang sama pula. Akan tetapi pada kenyataannya peristiwa bulan tidak bercahaya dan matahari akan dikelamkan itu, sama sekali bukan satu gerhana, sebagaimana yang diuraikan kaum Ahmadiyah. Melainkan satu peristiwa yang terjadi pada saat-saat dunia akan kiamat. Dan bukan itu saja tanda-tanda yang ada dalam kalimat Mattius 24: 29 itu, melainkan lebih dari itu. Justru disinilah kelihatan lagi hobby dari kaum Ahmadiyah, bahwa mereka senang sekali memotong-motong ayat-ayat Al-Qur’an maupun kalimat-kalimat dalam Beibel. Padahal kalimat dalam Mattius 24: 29 itu masih panjang, dan bila diteruskan bunyinya:

“… dan segala bintang di langit akan gugur, dan segala kuat-kuasa yang di langit itupun akan berguncang-gancing.”
 

Apa sebab Ahmadiyah membatasi tanda-tanda itu hanya pada matahari kelam dan bulan tiada bercahaya? Jawabnya diberikan oleh mereka sendiri. Hanya tanda-tanda itu saja yang disebut sebab tanda-tanda yang menyongsong datangnya Al-Mahdi Al-Mahuud Mirza Ghulam Ahmad Qadiani.

Yang menarik buat cerita di sini, ialah bahwa kepercayaan orang-orang Kristen tentang “the second coming”nya Yesus Kristus itu, telah diambil alih dan dioper oleh seorang lain, yang mungkin mengaku dirinya sebagai baruz atau inkarnasinya Yesus Israeli itu. Justru orang istimewa si pengoper kedudukan Yesus ini, tidak lain juga Mirza Ghulam Ahmad. Alhasil entah harus berapa kali nama Mirza Ghulam disebut-sebut dalam tulisan ini. Pokoknya ia menjadi tokoh dalam cerita di sini. Tentu saja tokoh pahlawan buat keluarga pengikut­pengikutnya dan mereka yang antipati pada Islam dan ummatnya.
 

Alangkah bahagia Ahmadiyah bahwa kitab suci orang-orang Kristen telah menyambut kedatangan Mirza, dan sungguh lebih berbahagia lagi bila Al­Qur’anul Karim ikut menyambut pula padanya. Kelihatannya Tuhan benar­benar menaruh segala pengharapanNya pada orang India ini.

Dan memang itulah yang dinyatakan sendiri oleh Ahmadiyah bahwa Al­Qur’anul Karim bukan saja menyambut Mirza Ghulam sebagai AHMAD yang DIJANJIKAN56 melainkan juga sebagai IMAM MAHDI yang DINANTI­NANTIKAN. Mengutip dari Al-Qur’an, Ahmadiyah berkata:

“Kitab suci Al-Qur’an berbicara tentang hari kebangkitan itu: Maka apabila pemandangan itu begitu mencengangkan, dan bulan telah gelap cahayanya (gerhana), dan matahari serta bulan telah dihimpunkan.’ (Antara lain Qur’an 75: 7-10)
 

Maka pertemuan antara bulan dan matahari itu berkenaan jatuhnya dua gerhana sekaligus terjadi dalam satu bulan yang sama, yaitu bulan Ramadhan seperti yang tersebut dalam hadits. Dua gerhana sekaligus itu mengambil tempat persis pada tahun 1311 hijrah atau 1894 masehi.” 57

Demikian uraian Ahmadiyah dan kutipannya dari surah Al-Qiyamah ayat 7 sampai dengan ayat 10. Marilah kita lihat bagaimana kaum Ahmadiyah dalam hal ini putera Mirza Ghulam sendiri, telah bersilat pena.

Mula-mula Ahmadiyah mengambil dari surah Al-Qiyamah itu jumlah 4 (empat) ayat, yaitu dengan menulis di pojok kanan dari terjemahannya angka­angka: Al-Qur’an 75: 7-10, yang berarti ayat ketujuh sampai dengan kesepuluh dari surah Al-Qiyamah telah dikutipnya. Akan tetapi anehnya, mereka tidak menterjemahkan empat ayat, melainkan hanya dua ayat saja, yaitu ayat ketujuh sampai dengan kedelapan.

Kedua, cara Ahmadiyah menterjemahkan dua ayat, tujuh dan delapan dari surah Al-Qiyamah itu jauh menyimpang dari maknanya bahkan dari peristiwa yang terkandung di dalamnya. Mereka, anak buah Mirza Ghulam ini menterjemahkannya ayat-ayat itu sebagai berikut:

“Maka apabila pemandangan itu begitu mencengangkan, dan bulan telah gelap cahayanya (gerhana), dan matahari serta bulan telah dihimpun. “58
 

Kemudian Ahmadiyah mengartikan matahari dan bulan telah dihimpun itu, dengan kata-kata:

“Maka pertemuan antara bulan dan matahari itu berkenaan dengan terjadinya dua gerhana dalam satu bulan, yaitu bulan Ramadhan. sebagaimana yang tersebut dalam hadits.”59
 

Yang ketiga, Ahmadiyah sengaja berbuat dengan memotong ayat-ayat Al-Qur’an itu dan menterjemahkannya dengan semaunya, supaya dapat mengkaitkan ayat-ayat tersebut dengan peristiwa munculnya Imam Mahdi India, Mirza Ghulam Ahmad. Satu perbuatan yang lucu dan memalukan.

Tidak lain surah 75: 7-10 itu terkandung didalamnya saat-saat terjadinya hari kiamat. Surahnya sudah jelas disebut: surah Al-Qiyamah. Dan isi dari ayat-ayat 7 sampai dengan sepuluh itu adalah:

Apabila pemandangan sangat mencengangkan serta menakutkan, dan bulan telah gelap cahayanya, dan matahari dan bulan telah dihimpun, rusak peredarannya, ketika itu, manusia bertanya: ke manakah kita akan lari?!”
 

Jelas bahwa ayat-ayat tujuh sampai dengan sepuluh itu menggambarkan peristiwa datangnya hari kiamat. Tidaklah kita lihat bahwa ayat sebelumnya, yakni ayat enam, merupakan soal: “apakah hari kiamat itu?” Maka Allah s.w.t. menjawab dari soal itu pada ayat sesudahnya yaitu ayat-ayat tujuh sampai ayat-ayat seterusnya.

Satu penipuan dan kedustaanlah yang dilakukan orang-orang Yahudi dari desa Qadian India ini. Mereka selalu mencari jalan buat melogiskan maupun meyakinkan orang-orang yang di luar jemaatnya, dengan cara apa saja. Satu hal yang ajaib, adakah orang-orang Ahmadiyah sendiri sudah tidak bisa memakai logikanya? Kita ingin tahu dimana tafsir Al-Qur’an yang menyebut seperti model Ahmadiyah bahwa: “dan bulan telah gelap cahayanya,” diartikan: gerhana bulan. Kemudian “dan matahari serta bulan telah dihimpun” diartikan: dua gerhana dalam satu bulan dari tahun 1311 hijrah itu. Jelas tidak mungkin ada tafsir maupun pengertian seperti cara-cara yang dilakukan kaum Mirza itu.

Mereka banyak sekali mengubah-ubah makna maupun tujuan dari ayat-ayat Al­Qur’anul Karim secara seenaknya saja asal bisa dicocokkan dengan munculnya Mahdi Mirza Ghulam Ahmad.

 

 

45 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal. 17. ^

46 lih: Analyst, facts about Ahmadiyya movement, Lahore ahmadiyya Anjuman Isha’at-i­ islam, 1951, hal. 21.: (anta minni wa ana minka) ^

47 Mirza Ghulam Ahmad, fountain of Christianity, Rabwah Ahmadiyya muslim missions office, 1961, hal. 45: (ya qamar ya syamsu anta minni wa ana minka). ^

48 Saleh Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid Bakry BA., Ujung Pandang, Jema’at Ahmadiyah Indonesia, 1972, hal. 38/39. ^

49 idem no. 46. ^
50 idem no. 46 dan 47. ^
51lih: Saleh Nahdi, bantahan atas tuduhan Wahid Bakry, hal. 38. ^
52 idem no. 49, hal. 38. ^

53 lih: Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 25. ^

54lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Invitation, Rabwah, the Ahmadiyya muslim foreign missions office, 1961, hal. 47: (its uniqueness is enhanced by the fact that it is also mentioned in the new testament and in the holy Qur’an). ^

55 lih: idem – no 52: ( immediately after the tribulation of those days shall the sun be darkened and the moon shall not give her light.) ^

56 lih: Suara Ansharulah no. 3 & 4. 1955. hal. 18. ^

57 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Invitation, hal. 47: (the holy Quran speaks of the Day of Awakening and goes on: “it is when the sight is dazzled and the moon is eclipsed and the sun and the moon are conjoined. The conjoining refers to the occurence of the two eclipses in the same month, the month of ramadhan as in the hadith. The eclipses took place in 1311 hejira or 1894 A.D.) ^

58 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmah, Invitation, hal. 47: (it is when the sight is dazzled and the moon is eclipsed and the sun and the moon are conjoined). ^

59 lih: Bashiruddin. MA., invitation, hal. 47: (the conjoining refers to the occurence of the two eclipses in the same month, the month of ramadhan as in the hadith.) ^

 

 


 

4.7   Organisasi Musailamah Modern
 

Inilah beberapa contoh yang dikerjakan organisasi Mirza Ghulam Ahmad dalam rangka mengubah ayat-ayat Al-Qur’an untuk kepentingan Imam Mahdi India. Mereka berkata:

“Apabila tanda-tanda akhir zaman yang digambarkan oleh Al­Qur’an itu telah tampak dengan jelasnya, maka bersedialah hendaknya kita menerima kedatangan Imam Mahdi itu. “60
 

Kemudian mereka meneruskan uraiannya berkenaan dengan turunnya ayat-ayat suci itu dengan penjelasan seperti berikut:

“Nubuwat-nubuwat Al-Qur’an ini menyangkut beberapa perubahan besar yang bakal terjadi secara menyolok yang pada masa turunnya ayat-ayat tersebut belum ada. Tatkala mendengar tentang bakal terjadinya perubahan- perubahan besar itu orang tercengang karena tidak dapat melukiskan di dalam pikirannya hal-hal besar yang luar biasa itu. “61
 

Dan akhirnya Ahmadiyah melukiskan bahwa perubahan-perubahan besar yang luar biasa itu dan mencengangkan pula itu, kini tidak lagi bersifat luar biasa, bahkan kata Ahmadiyah:

“Tetapi sekarang telah menjadi kenyataan yang oleh kita sekarang dianggap sebagai soal biasa saja.”62
 

Apakah gerangan nubuwat-nubuwat Al-Qur’anul Karim yang melukiskan terjadinya perubahan-perubahan besar, yang mencengangkan pikiran manusia luar biasa, akan tetapi justru pada saat-saat sekarang ini, sudah tidak lagi bersifat demikian, melainkan hanya dianggap soal biasa saja? Inilah jawaban Ahmadiyah dari ayat-ayat Al-Qur’an, diambil dari surah At-Takwir ayat 1 sampai dengan ayat 11. Mereka terjemahkan dan tafsirkan satu persatu sebagai berikut:
 

“idza’sy syamsu kuwwirat:” apabila matahari telah tertutup, periksa tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi yang disebutkan bersangkutan dengan gerhana matahari;

“waidza’n nujumun kadarat:” apabila bintang-bintang menjadi pudar; bintang adalah orang-orang besar Islam, besar dalam arti ilmunya. Kerohanian dan kesuciannya. Ayat ini menubuwatkan akan berkurangnya orang-orang itu yang dalam segi agama mereka bagaikan bintang pembawa pelita rohaniah dan pembimbing yang baik. Rasulullah s.a.w. bersabda, bahwa sahabat-sahabat beliau adalah bagaikan bintang. Siapa saja dari pada sahabat-sahabat itu dijadikan ikutan pengikut itu akan memperoleh petunjuk yang pasti;

“waidzal jibalu suyyirat:” apabila gunung-gunung bergerak; kapal-kapal laut yang besar-besar bergerak di samudera dinamakan pula sebagai gunung;

“waidzal isyaru ‘uththilat:” apabila onta-onta betina yang bunting ditinggalkan; dengan adanya kendaraan-kendaraan modern, mobil, pesawat terbang dan sebagainya di akhir zarnain onta-onta tidak memainkan peranan penting lagi di bidang angkutan seperti dahulu;

“waidzal wuhusyu husyirat:” apabila binatang-binatang buas atau orang-orang primitip dikumpulkan; kita periksa kebun binatang umpamanya atau lihat bangsa-bangsa orang yang tadinya biadab dan terbelakang. Kita lihat orang-orang Afrika dahulu dan sekarang;

“waidzal biharu sujjirat:” apabila lautan membual dan dipertemukan; terusan Suez dan sudah ditembus itu menyatukan dua samudera yang tadinya terpisah, begitu pula terusan Panama;

“waidzan nufusu zuwwijat:” apabila manusia disatukan; PBB, K.A.A. dan organisasi lainnya adalah satu contoh yang hidup. Manusia dari tiap penjuru dunia dahulu tidak pernah berhimpun seperti sekarang. Dari sudut lain nubuwat ini menyangkut pula bidang perhubungan dan komunikasi. Adalah masa dahulu orang yang dapat mengadakan perhubungan dalam sedetik dari timur ke barat? kita camkan sekarang;

“waidzash-shufu nusyriyat:” apablla surat-surat kabar, majallah dan buku-buku tersebut; sejarah menjadi saksi bahwa pada masa dahulu tidak pernah tersebar luas seperti sekarang ini. Ini nubuwatan yang luar biasa pula;

“waidza’s samau kusyihat:” apabila langit terbuka; bukan rahasia lagi manusia sekarang terbang di luar angkasa, mengitari bumi berulang kali, hal yang tidak pernah terjadi dalam sejarall dunia;63

Akhirnya Ahmadiyah memberi penegasan tentang ayat-ayat tersebut di atas:

“Inilah beberapa tanda yang dinubuwatkan Al-Qur’an agar manusia memperhatikannya lalu mengenal Imam Mahdi, reformer agung sedunia. “64
 

Demikian cara Ahmadiyah mengartikan dan menafsirkan ayat-ayat satu sampai dengan sebelas dari surah At-Takwir. Cara-cara mereka ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sungguh satu hal yang luar biasa, mencengangkan bahkan tidak terpikirkan oleh manusia abad sekarang ini, bahwasanya kedatangan Imam Mahdi Mirza Ghulam Ahmad didahului dengan peristiwa-peristiwa yang dinubuwatkan dalam Al-Qur’an. Alangkah hebat mukaddimah penyambutan datangnya Imam Mahdi dari India itu. Bahkan kelak sampai dunia kiamat, manusia pasti akan tercengang tak habis-habisnya, atas keluar-biasaan Tuhan menyambut Mirza Ghulam. Bayangkan, sebelas kali dentuman meriam untuk Imam Mahdi dari desa Qadian itu.

Satu perbuatan cerdik, terang-terangan disengaja dilakukan Ahmadiyah dengan menghilangkan dua buah ayat dari surah At-Takwir itu. Diantara ayat yang berbunyi: “waidzan’ nufusu zuwwujat” dengan ayat yang berbunyi “waidzashshuhut nusyirat” terdapat dua ayat yang berbunvi: “waidzal mau’udatu suilat” dan “bi ayyi dzanbin Qutilat.” Kedua ayat ini dihilangkan oleh Ahmadiyah, tidak dipakai untuk kepentingan Imam Mahdi Mirza. Apa alasan mereka menghilangkan kedua ayat itu? Apakah tidak bisa dipakai penafsirannya untuk tanda diantara banyak tanda datangnya Imam Mahdi?

Kenyataan bahwa kaum Ahmadiyah ini telah menghilangkan ayat 8 dan ayat 9 dari surah At-Takwir, oleh karena ayat-ayat itu bila diterjemahkan berbunyi:

“Dan apabila anak-anak perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, karena dosa apakah ia sampai dibunuh demikian?”
 

Maka dari terjemahan itu, Ahmadiyah tidak menemukan bahan-bahan zaman sekarang yang bisa diterapkan pada ayat-ayat tersebut .

Surat At-Takwir adalah surat yang sifatnya memberi ingat, membawa kabar takut akan hebatnya peristiwa hari kiamat terjadi. Dalam surat ini dari ayat pertama sampai ayat ke 14 Allah menerangkan bagaimana hebat dan dahsyatnya malapetaka yang menimpa alam sejagad di hari kiamat termasuk matahari, bintang-bintang, gunung-gunung binatang-binatang liar dan jinak dan lautan, dan bagaimana tiap jiwa dipertemukan kembali dengan jasadnya, anak-anak perempuan yang tidak bersalah yang di kubur hidup-hidup sebagaimana banyak terjadi di kalangan sebagian suku-suku yang berdiam di tanah Arab, ditanyai mengapa mereka dibunuh. Ketika itu dibuka kitab setiap manusia yang berisi catatan perbuatan dan amalnya di dunia dan ketika itu pula dinyalakan api neraka dan didekatkan syurga. Di kala itu insaflah setiap insan dan sadarlah dia bahwa segala apa yang dikerjakannya di dunia akan mendapat balasan yang seadil-adilnya dari Allah.65

Peristiwa itu pasti akan terjadi dan saat-saat tibanya berada di tangan Tuhan. Tidak seperti yang diutarakan Ahmadiyah, ayat-ayat dari surah At­Takwir diartikan kiasan belaka seperti:

“Matahari digulung, mereka artikan matahari tertutup atau gerhana. Bintang-bintang berjatuhan, mereka artikan orang-orang besar Islam berkurang. Gunung-gunung dihancurkan, mereka artikan kapal-kapal besar bergerak di samudera. Unta-unta bunting ditinggalkan, mereka artikan mobil pesawat dan lain-lain. Binatang­binatang liar dikumpulkan, mereka artikan kebun binatang. Lautan dijadikan meluap, mereka artikan terusan Suez dan Panama dipertemukan. Arwah dipertemukan dengan jasad, mereka artikan manusia disatukan, PBB-K.A.A. Catatan amal manusia, mereka artikan surat-surat kabar dan majalah. Langit dilenyapkan, mereka artikan manusia kini terbang ke luar angkasa.”
 

Tingkah laku yang di luar batas ini sengaja mereka lakukan terang-terangan. Mereka akan terus berbuat demikian demi kepentingan Mirza Ghulam Ahmad.

Bisa dipastikan bahwa Mirza Ghulam sendiri pada waktu masih hidupnya tidak kenal apa itu mobil pesawat ataupun PBB. Jelas bahwa tafsir demikian adalah oleh pengikut-pengikutnya untuk menguatkan kedudukan Mirza Ghulam Ahmad. Mereka menjadi mufassir-mufassir jagoan yang menafsirkan surah At­Takwir menurut selera akal mereka.
Tidak berlebih-lebihan kalau dikatakan bila sang Imam Mahdi Mirza sudah tidak waras akalnya, maka sang cucu, sang putra dan pengikut-pengikutnya tentu jatuh tidak waras pula. Untuk lebih kenal diagnose “ketidak-warasnya” itu marilah kita periksa cara­cara mereka menterjemahkan maupun menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang lain.

Lagi-lagi Ahmadiyah berkata:

“Imam Mahdi atau reformer agung adalah petugas dari Allah yang membawa kabar suka dan peringatan-peringatan keras. Di satu pihak Al-Qur’an memberikan tanda guna memudahkan cara mengenalnya oleh manusia, di lain pihak merupakan tanda peringatan-peringatan keras. Sebab itu dalam hubungan kedatangan Imam Mahdi Al-Qur’an memberikan tanda-tanda yang dinubuwatkan dalam ayat-ayat AI-Qurtan yang berikut: idza zulzilat’il ardhu zilzalaha wa-akhrajatil ardhu atsqalaha wa-qala’1 insanu malaha? Apabila bumi digempakan sekeras-kerasnya, bumi mengeluarkan muatannya, lalu manusia berkata: mengapa ini terjadi?”66
 

Demikian kutipan Ahmadiyah dari surah Az-Zalzalah ayat 1 sampai dengan ayat tiga. Mereka tidak melanjutkan kesudahan dari ayat-ayat dalam surah Zalzalah itu. Kebutuhan mereka tampaknya hanya sampai pada ayat 1 sampat tiga saja. Tentu saja kebutuhan untuk Mirza Imam Mahdi, yang dimaksud. Karena itu mereka mengatakan bahwa apabila utusan-utusan Allah itu ditolak termasuk didalamnya petugas Ilahy Mirza Ghulam, maka Allah bertindak dengan berbaga peringatan berupa cobaan-cobaan, adzab, sampai mereka mau menerima para utusanNya. Dan diantara adzab-adzab itu, termasuk gempabumi.67

Surah Zalzalah yang dikutip Ahmadiyah dari ayat I sampai dengan ayat 3 adalah ayat-ayat gempa. Mereka berkata tentang ayat-ayat tersebut:

“Secara harafiah saja nubuwat-nubuwat Al-Qur’an ini sudah beberapa puluh kali digenapkan Tuhan. Ratusan ribu manusia menjadi korban gempa bumi sedang sekarang kita masih dikejutkan oleh berita-berita gempa yang terjadi di berbagai negeri.”68
 

Perlu apa lagi disebut secara harafiah saja, bukankah mereka jauh menyimpang dari makna dan tafsir yang sebenarnya, hanya semata-mata untuk memuaskan selera mereka dan Imam Mahdinya? Padahal surah itu adalah surah yang menerangkan peristiwa saat hari kiamat tiba. Bukan tentang gempa-gempa bumi yang telah terjadi di berbagai negeri, seperti maunya Ahmadiyah.

Last but not least, kita akan periksa tubuh Ahmadiyah yang kehilangan akal warasnya ini dengan satu kali lagi melihat cara-cara mereka mengartikan dan menafsirkan Al-Qur’an. Antara lain mereka berkata:

“Peperangan-peperangan dahsyat yang terjadi dan memakan korban jutaan manusia dengan akibat-akibatnya yang mempengaruhi jalannya kehidupan semua mahluk di permukaan bumi ini telah dinubuwatkan Al-Qur’an sebagai salahsatu tanda kedatangan Utusan Agung Ilahi. “69
 

Kedatangan Utusan Agung Ilahy yang dimaksud di atas ialah datangnya utusan yang bernama: Mirza Ghulam Ahmad. Sekali lagi adzab Tuhan terjadi karena penolakan utusan agung dari India itu.

Apakah gerangan yang dinubuwatkan Al-Qur’an tentang peristiwa terjadinya peperangan-peperangan yang dahsyat itu? Sekali lagi Ahmadiyah menjawab bahwa di dalam Al-Qur’an dicatat dalam surah (101: 6) sebagai berikut:

“Alqari’atu malqari’ah? Wa ma adraka mal qari’ah? Yauma yakunu’n nasu kalfarasyil mabtsuts, watakunul jibalu kal ihnil manfusy; yang artinya:

Penggegar, apakah penggegar dan taukah apa yang dikatakan penggegar. Ia adalah hari dimana manusia akan merupakan rama-rama bertebaran dan gunung-gunung akan jadi seperti bulu berhamburan.”70
 

Kita ingin tau gerangan apa tafsir kaum Ahmadiyah atas kata-kata: Penggegar itu. Maka inilah dia jawaban mereka yang paling menarik:

“Dua kali ‘penggegar’ adalah dua kali perang dunia, dan mungkin lebih hebat lagi ‘wa ma adraka mal qari’ah?’ atau ‘penggegar’ ketiga yang disertai tanda dahsyat karena tekanan khususnya. Memang bila kita perhitungkan keadaan perlengkapan dan alat-alat perusak sekarang dapatlah dibayangkan betapa hebatnya ‘penggegar’ ketiga yang akan terjadi nanti yang oleh agama tidak dapat dilepaskan dan silsilah adzab-adzab Ilahi.”71
 

Demikian itulah obrolan-obrolan Ahmadiyah tentang Suratul Qari’ah, Suratul Qiyamah; diartikan oleh mereka: perang dunia kesatu, kedua dan ketiga. Mungkin akan menjadi berpuluh-puluh halaman di sini bila kita terus menerus memeriksa cara-cara mereka memberi arti maupun tafsir atas ayat-ayat Al­Qur’anul Karim.

Sebaiknya kita tidak ke situ lagi, melainkan melihat dan memeriksa cara-cara mereka yang lain, hasil refleksi dari akal tidak warasnya.
 

 

60 lih: Saleh A. Nahdi, majallah Sinar Islam, Yayasan Wisma Damai Bandung, no. 13 th. XV/1965, hal. 18. ^

61lih: idem no. 58, hal. 18. ^
621ih: idem no. 58, hal. 18. ^

63 lih: Saleh Nahdi, Majalah Sinar Islam, no. 13/1965, hal. 18/19.  ^
64 idem, no. 61, hal. 19. ^

65 lih: Juz ‘Amma dan Terjemahannya, Dewan Penterjemah Kitab Suci Al-Qur’an, 1973, Jakarta Bumi Restu PT., hal. 87. ^

66 lih: Saleh A. Nahdi, majalah Sinar Islam, no. 13/1965, hal. 20. ^
67 1ih: idem. no. 64, hal. 20. ^

68 lih: idem. no. 64, hal. 20. ^
69 lih: idem. no. 64, hal. 20. ^
70 lih: Saleh A. Nahdi, Sinar Islam no: 13/1965, hal. 20. ^

71 lih: idem no. 68, hal. 20. ^

 

 


 

Posted April 22, 2008 by Saproni M Samin in Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: