SEJARAH AHMADIAH 2   Leave a comment

2.5    Sir Syed Ahmad Khan
 

Dilahirkan di Delhi pada tanggal 27 Oktober 1817, wafat di Aligarh tahun 1898, dalam usia 81 tahun. Ayah beliau bernama syed Muhammad Muttaqi dan kakek beliau bernama syed Hadi.

Pada usia lebih dari tiga-perempat abad itu, benar-benar merupakan tahun­tahun yang dijalani syed Ahmad dengan penuh pengabdian serta pengorbanan buat bangsanya. Semenjak usia yang masih muda, beliau sudah produktif dalam segala aspek ilmu pengetahuan, seperti ilmu sejarah, politik, hukum, Agama dan kesusasteraan. Tafsir Al-Qur,an buah karyanya yang tiada tandingannya itu, telah memberikan kesegaran iman serta daya kreatif buat sarjana-sarjana Muslim serta generasi-generasi sesudahnya.

Dalam kegiatan sehari-hari beliau adalah seorang pegawai sipil dalam pe­merintahan Inggris yang berkuasa di India waktu itu. Akan tetapi lingkungan gerak syed Ahmad Khan bukan hanya pulang-pergi kantor saja; beliau jauh daripada itu. Beliau adalah contoh figur pejuang yang tak kenal letih. Seorang teoritis dan sekaligus seorang realis. Penelitiannya yang tajam pada situasi dan kondisi bangsanya yang berada dalam penjajahan Inggris; pengalaman-pengalaman hidupnya tatkala terjadi perang tahun 1857, dimana kaum Muslimin hancur berantakan dan berada dalam tragedi hidup, semua itu telah menggerakkan syed Ahmad pada jalan lepas yang mengagumkan.

Lebih-lebih lagi setelah kembali dari perjalanannya ke Inggris tahun 1869 itu, syed Ahmad Khan mendapatkan saudara-saudaranya dalam keadaan parah, terbelakang, dan rasa rendah diri.

Dengan diagnose yang jelas itu, syed Ahmad berjuang untuk perbaikan­perbaikan yang menyeluruh. Lebih dahulu beliau mengajak kaum Muslimin agar bersikap loyal kepada penguasa Inggris. Beliau memberi contoh bagaimana nabi Yusuf a.s. bersikap Ioyal bahkan duduk dalam pemerintahan Fir’aun yang kafir itu.30  Bagi syed Ahmad, suatu bangsa yang dikalahkan harus menyiapkan waktu yang lama untuk dapat tegak kembali, dan hal ini tidak cukup dijalani hanya dengan satu jalan kekerasan saja, melainkan suatu perjalanan damai yang effektif haruslah ditempuh. Cara-cara beliau ini merupakan jalan terbaik dan konstruktif yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh kaum Muslimin India serta generasi sesudahnya.

Meskipun demikian sikap syed Ahmad Khan, beliau tidak pernah menyembunyikan kepribadian Muslimnya. Terhadap Missionaris-missionaris Kristen yang berusaha menggoncangkan iman generasi muda Islam, beliau tidak tanggung-tanggung melawannya. Ketika Sir Muir menerbitkan tulisannya tentang pribadi Nabi Muhammad s.a.w. sebanyak empat jilid, dimana isinya merupakan senjata penghinaan terhadap Islam dan RasulNya, sehingga kitab Muir tersebut dipakai oleh Dr. Pfandar, seorang zending Kristen yang militant, untuk mengkocar-kacirkan pemuda­pemuda Islam, maka segera bangkitlah syed Ahmad Khan dengan sanggahan­sanggahan yang gemilang. Beliau telah terbitkan jawaban-jawaban atas tulisan Muir itu, dengan judul: Al-Khutbat -ul-Ahmadiyah, yang merupakan senjata pengobrak-abrik dasar-dasar dari tulisan Muir.

Ketika Komisaris pembagian Benares, tuan Shakespeare, sahabat beliau, menawarkan sebidang tanah serta uang untuk diri beliau dan keluarga, Syed Ahmad Khan dengan tegas menolak pemberian itu, bahkan beliau merasa tersinggung serta tertusuk hati.

“Bagaimana saya harus menerima hadiah itu, kata beliau dalam pidatonya tanggal 28 Desember I889, ketika membuka konperensi pendidikan bagi semua muslim India, bagaimana saya harus menjadi tuan tanah, padahal itulah penghinaan vang berat buat saya, justru di saat bangsaku berada dalam penderitaan yang hebat. “31
 

Apa yang telah beliau saksikan sendiri dalam peperangan tahun 1857, juga yang terjadi di Khanam Bazar, Balakot dan di daerah-daerah lainnya, dimana kaum muslimin dibinasakan, tidak dapat lenyap selamanya dari ingatan syed Ahmad. Ketika negara berada dalam hukum militer, Ahmad Khan telah berbuat sesuatu yang amat membahayakan keselamatan dirinya. Dengan keberanian yang luar biasa ia menerbitkan pamphlet dengan judul: “Penyebab timbulnya revolusi bangsa India.”

Beliau membuka terang-terangan kesalahan-kesalahan Penguasa­penguasa Inggris terhadap anak negeri India, terutama dan terlebih­lebih terhadap kaum Musliminnya. Phamplet itu beliau sebarkan kemana­mana, bahkan sampai terbaca oleh anggauta-anggauta Parlemen di Inggris. Demikian pula ketika Sir W.W. Hunter menulis buku yang berjudul: “Orang­orang Islam India adakah mereka terikat kesadaran terhadap pembrontakan melawan Ratu!”32  Syed Ahmad Khan telah menjawabnya dengan suatu pandangan yang menakjubkan.

Karier syed Ahmad yang gemilang itu telah membuka kesadaran kaum Muslimin India. Penyair yang mashur, Maulana Hali, penulis riwayat hidup syed Ahmad Khan, mencatat suatu peristiwa tahun 1867, ketika beberapa orang Hindu dari Benares dengan sepenuh daya upaya mengusulkan penghapusan bahasa Urdu dan tulisan Persia dalam kantor pemerintahan serta memasukkan sebagai gantinya bahasa Bhasa (suatu logat Hindu) yang bertuliskan Sankrit.

Syed Ahmad Khan seorang pengawas situasi yang tajam serta cepat menangkap makna dan tujuan dari orang-orang Benares itu, merasa terkejut dan menyadari bahwa tidaklah mungkin kiranya bagi orang-orang Muslim dan Hindu untuk bersatu. Dari peristiwa itulah lahirnya satu benih baru yang kemudian tumbuh menjadi suatu gagasan dan akhirnya terlaksana kelak menjadi suatu negara untuk orang-orang Islam (Pakistan).

Apa yang telah beliau tempuh sebagai suatu cara terbaik konstruktif serta sangat dirasakan manfaatnya oleh bangsa Islam India, ialah dibinanya su­atu pendidikan yang menyeluruh bagi semua tingkatan Muslimin. Ketika beliau pindah dari Ghazipur ke Aligarh pada bulan April 1864, syed Ahmad Khan memindahkan seluruh kekayaan yang dimilikinya dan diserahkan untuk masyarakat ilmu pengetahuan Aligarh.

Putera beliau yang mashur, syed Mahmud Ahmad, seorang ahli hukum, cendikiawan, saling bahu membahu dengan ayahnya dalam merintis suatu pendidikan buat semua Muslimin. Melalui Aligarhnya yang terkenal itu terbukalah jalan lempang bagi keluasan aspirasi dan dinamika kaum Muslimin maupun bangsa India. Dari Aligarh Universitynya syed Ahmad Khan kelak lahir suatu badan pendidikan bagi Muslim India, menyusul ,gerakan Universitas Muslim India, kemudian Liga Ummat Islam India. Semua itu telah mengangkat kepribadian Muslims, harga diri, serta semangat untuk berjuang. Suatu kemustahilan logika di atas tanah jajahan Inggris, telah terjadi di India. Realita yang menggembirakan kaum tertindas muslimin, hasil jerih-payah syed Ahmad Khan.

Tokoh-tokoh Pujangga besar Urdu seperti Nasir Ahmad, Shibli, Hali, Zakaullah, Wahiduddin Salim, Abdul Halim Sharar, Dr. Maulvi Abdul Haq, Zafar Ali Khan, Hazrat Mohani, dan lain-lain adalah alumni-alumni Universitas Aligarh syed Ahmad Khan. Pujangga besar Pakistan, DR. Mohammad Iqbal, menulis tentang syed Ahmad Khan:

“Pengaruh dari syed Ahmad meluas ke seluruh India. Beliaulah kiranya seorang modernisir yang dengan tangkasnya menangkap kilatan sinar dari watak zaman yang datang. Obat mujarrab bagi tubuh Islam yang sakit, telah diberikan oleh beliau, sebagaimana di Russia diberikan oleh Mufti Alam Jan. Obat mana tidak lain ialah pendidikan buat setiap Muslim. Akan tetapi letak kebesaran yang sesungguhnya dari syed Ahmad Khan, ialah bahwa beliaulah Muslim India yang pertama kali nnerasakan perlunya pembaharuan alam pemikiran kaum Muslimin, dan beliau pulalah orang pertama yang melaksanakannya. Kita boleh saja berbeda pendapat dalam masalah Agama dengan beliau, akan tetapi kita tidak bisa menolak suatu kenyataan dari beliau, bahwa pengabdiannya yang tulus Ikhlas itu, telah menjadikan zaman kehidupan ummat Islam semerbak harum.”33

 

 

30 lih. Maryam Jameelah, Islam and Modernism, hal. 50/54: (In an attemp to reconcile political servility to Islam, Sir sayyid Ahmad Khan cited the example of Yoseph who served the Egyptian Pharaoh loyally and obediently even though the latter was not a Muslim.”) ^

31 lih.Jamil-ud-Din Ahmad, Early Phase of Muslim Political Movement, 1967, Publishers United Ltd. Lahore, ha1.42: (When my late mented friend, mr. Shakespeare, whose I shared and who share mine, wished to give me the taluka of Jahanabad belonging to a prominent family of syeds and yielding an annual income of over one lakh rupees my hearth was deeply

grieved. I said to my self no one would be more despicable then I if, at a time when my nation was facing.ruin I should become a talukadar (lanlord) by acception this property. I refused to accept it and said that I had no intention of stayins in India. This was a fact.”) ^

32 lih. Haroon Khan Sherwani, Islam Tentang Administrasi Negara, Jakarta, Tinta Mas, terjemah M.Arief Lubis, 1964, ha1.198: (The Indian Muhammedans, are they bound in conscience to rebel against the Queen.”) ^

33 lih.The influence of Sir syed Ahmad Khan remained on the whole confined to India. It is probable, however, that he was the first modern Muslim to catch a glimpse of the positive character of the age which was aoming. The remedy for the ills of Islam proposed by him, as by Mufti Alam Jan in Russia, was modern education. But the real greatness of the man consists in the fact that he was the first Indian Muslim who felt the need of a fresh orientation of Islam and worked for it. We may differ from his religious views, but there can be no denying the fact that his sensitive soul was the first to react to the modern age.”) hal. 277, syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal.  ^

 

 


 

 

2.6    Metode Pendekatan
 

Itulah tokoh syed Ahmad Khan, seorang diri merencanakan dan mencetuskan satu revolusi zaman baru bagi ummat Islam India. DR.J.M.S. Baljon, seorang sarjana bangsa Belanda berkata:

Syed Ahmad Khan telah merencanakan dan melakukan pemberontakan (mutiny) India yang kedua.”34

Maka sungguh tidak patut dan keliwat batas bila pendiri Aligarh itu, hendak disejajarkan atau ditandingkan dengan pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. Bagaimana hendak ditandingkan, syed ahmad Khan seorang realis tulen dengan Mirza Ghulam seorang khayalis itu? Bahkan tidaklah patut untuk mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah berguru secara absentia pada syed Ahmad. Jauh dari pada berguru, Mirza Ghulam hanyalah seorang plagiat besar penunggang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan situasi di India. Ia tidak lebih dari seorang pencuri buah-buah dari hasil tanaman perjuangan pejuang Muslimin.

Untuk kepentingan Islam dan ummatnya misalnya, Mirza Ghulam Ahmad menciptakan gagasan-gagasan yang mustahil dan tampaknya lebih merupakan kisah-kisah advonturir daripada cerita-cerita yang menggelikan. Di antara kissah-kissahnya yang menarik ialah, Mirza Ghulam Ahmad harus menjadikan dirinya lebih dahulu, sebagai Al-Mahdi, Al-Masih, Kreshna, dan last but not least sebagai Nabi dan Rasul. Andaikata masih hendak dicari persamaan­persamaan dengan syed Ahmad Khan dan syed Ahmad Al-Bedawi, maka memang ada juga persamaan-persamaannya. Nama Ahmad kebetulan sama, nama putranya yang terkenal sebagai penerus juga sama, yaitu Mahmud Ahmad; dan nama aliran yang dimiliki mereka sama, Ahmadiyah. Hanya itu saja persamaan-persamaannya.

Akan tetapi tidak demikian pada spirit, perjuangan, maupun ajaran-ajaran mereka itu. Kita sudah tahu perjuangan syed Ahmad Khan, juga perjuangan syed Ahmad Al-Bedawi, yang semasa hidupnya mengadakan perlawanan dan peperangan yang sengit terhadap penyerbu-penyerbu kaum salib dalam perang salib yang ketujuh .

Sedangkan Mirza Ghulam Ahmad adalah sebaliknya, ia dan Ahmadiyah­nya berlindung teduh di bawah naungan salibisme. Sejarah hidup Mirza dan keluarganya serta gerakannya akan membuktikan sendiri keterlibatannya itu. Mungkin perkenalan terhadap Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, ini masih garis-garis besarnya saja atau masih serba samar dan tidak to the point. Maka untuk menuju pada persoalan-persoalan yang lebih jauh, dan lebih lengkap dari sejarah Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya, methode-methode yang dianjurkan oleh DR. Muhammad Iqbal akan lebih membantu sepenuhnya. Methode beliau yang pertama ialah: Menyusuri jejak-langkah, sepak­terjang, maupun tingkah laku Mirza Ghulam Ahmad, ajaran-ajarannya, contoh-contoh wahyu yang ia terima dari Tuhannya, dan jika ditambah lagi, kehidupan keluarganya. Methode lainnya, yang juga penting dan effektif ialah, mencari dan menggarisbawahi letak-letak Ahmadiyah dan pendirinya di dalam mata rantai sejarah kaum Muslimin India, sebelum abad keduapuluh, atau meneliti situasi dan kondisi Muslim India dalam abad kesembilanbelas itu, sejak jatuhnya Sultan Tipu.35

Dengan methode-methode yang dianjurkan Iqbal itu, perkenalan pada tokoh yang empunya cerita di sini, MIRZA GHULAM AHMAD, sampai pada lubuk dasarnya.

 

 

 

34 lih.Jamil-ud-din Ahmad, Early of Muslim political Movement, ha1.136. ^

35 lih. syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal, hal. 269:,(A Careful Psychological analysis of the revelations of the founder would perhaps be an effective method of dissecting the inner life of his personality …Another equally effective and more fruitful method, from the standpoint of the plain man, is to understand the real content of Ahmadism in the light of history of Muslim theological thougt in India, at least from the year 1799. The year 1799 is extremely important in history of the world of Islam. In this year, fell Tippu and his fall meant the extinguishment of Muslim hopes for political prestige in India; and I do hope that one day some young student of modern psychology will take it up for serious study.) ^

 

 


 

3.1   Identitas Sang Pemimpin

Nama dan keturunan: Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah, mempunyai banyak nama dan keturunan. Suatu keistimewaan buat dia, konon semua itu diperoleh dari Tuhannya. Bahkan yang lebih menarik lagi, Mirza Ghulam Ahmad menguasai banyak bahasa, antaranya: Bahasa Urdu, Inggris, Arab, Parsi, dan bahasa Ibrani. Dengan bahasa-bahasa itulah ia berdialog dengan Tuhannya.

Puteranya yang mashur, Bashiruddin Mahmud Ahmad (1899-1965) yang menduduki tahta khalifah kedua dalam jema’at Ahmadiyah, menulis tentang saat-saat       kelahiran ayahnya, sebagai berikut:

Hazrat Ahmad a.s. lahir pada tanggal 13 Pebruari 1835 sesuai dengan 14 Syawal 1250 hijrah, hari Jum’at pada waktu shalat shubuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar, yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama meninggal dunia. Demikianlah sempurna kabar ghaib yang telah ada dalam buku-buku Agama Islam, bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. “2

Demikian Bashiruddin M.A. menceritakan kelahiran ayahnya. Yang menjadi pertanyaan disini ialah, oleh siapa dan pada siapa kabar ghaib lahir kembar itu telah disampaikan? Kemudian dalam buku-buku Agama Islam yang mana kabar itu dimuat?

Kiranya Bashir M.A. dan Ahmadiyahnya tidak berhasrat atau ku­rang perlu untuk menyebut nama orang-orang maupun buku-buku yang berkenaan dengan kabar ghaib dan lahir kembar itu. Lebih lanjut perihal nama­nama yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, Bashiruddin maupun Ahmadiyah berkata:

“Asal nama beliau hanyalah Ghulam Ahmad, atau nama lengkap (full name) beliau adalah Ghulam Ahmad.”3

Kemudian terdapat di depan Ghulam Ahmad, sebuah nama lagi ialah Mirza. Dengan demikian nama kepanjangannya menjadi Mirza Ghulam Ahmad. Di antara ketiga sebutan tadi, hanya Ghulam sajalah yang tidak diperbincangkan. Sisanya yakni Mirza dan Ahmad, merupakan nama­nama yang mengandung didalamnya arti dan tujuan yang istimewa.

Menurut Bashiruddin Mahmud Ahmad, perkataan atau sebutan nama MIRZA adalah untuk menyatakan bahwa ayahnya keturunan dari MUGHAL (Moghol). Bashiruddin melanjutkan bahwa ayahnya itu adalah keturunan haji Barlas, raja daerah Kesh, yang jadi paman Amir Tughlak Taimur.4

Disinilah kiranya kena keturunan Moghol Mirza Ghulam Ahmad. Lebih lanjut Bashiruddin menulis:

“Dalam tahun-tahun yang akhir dari kerajaan Keiser Babar, yakni pada tahun 1530 masehi, seorang Moghol bernama Hadi Beg meninggalkan tanah tumpah darahnya ialah Samarkhand dan pindah ke daerah Gurdaspur di Punjab.”5

Beginilah yang mendirikan kota Qadian, tempat lahirnya Mirza Ghulam­Ahmad dan Ahmadiyahnya. Hadi Beg adalah termasuk dalam urutan keduabelas ke atas dari kakek-kakek Mirza Ghulam. Akhirnya lebih meyakinkan lagi tentang keturunan mogholnya itu, ayah Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ghulam Murtaza memberi tahu anaknya bahwa nenek-nenek moyangnya adalah dari keturunan Moghol.6
 

Demikian kesaksian sejarah Ahmadiyah tentang darah Moghol yang, mengalir dalam tubuh Mirza Ghulam Ahmad. Sayang bahwa darah Moghol ini tidak menjadi kebanggaan bagi yang empunya maupun bagi Ahmadiyahnya. Mungkin dikarenakan arti maupun tujuan dari darah itu kurang atau tidak istimewa, atau samasekali tidak berarti.

Alasannya bisa diduga-duga mengapa darah Moghol sampai diabaikan begitu saja. Yang penting untuk diketahui ialah, bahwa setiap nama maupun keturunan yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, bahkan gelar-gelarnya sekalipun, datangnya dari pemberian Tuhannya. Itulah sebabnya meskipun kenyataannya darah Moghol mengalir dalam tubuh Mirza Ghulam, akan tetapi karena bukan dari pemberian Tuhan, maka Mirza segera menumpangi kwalitet Mogholnya itu dengan darah lain yang baru. Ia berkata:

“Aku mendengar dari ayahku bahwa kakek-kakekku berdarah Moghol, akan tetapi aku mendapat wahyu dari Tuhan, bahwa kakek-kakekku berdarah Parsi.”7

Dengan perkataan “akan tetapi,” lebih-lebih lagi ditambah dengan “mendapat wahyu dari Tuhan” maka praktis kata-kata atau ucapan ayah Mirza Ghulam tentang darah Moghol, menjadi lemah atau bisa gugur!

Seringkali diketemukan dalam ucapan-ucapan tokoh-tokoh Ahmadiyah adanya pertentangan satu dengan yang lain. Bahkan kadangkala seo­rang pimpinan Ahmadiyah berkata tentang sesuatu hal atau masalah, di lain kesempatan orang tersebut merobah atau mengganti ucapannya yang semula. Misalnya dari ucapan-ucapan khalifah kedua Ahmadiyah, Bashiruddin Mahmud Ahmad. Mula-mula ia berkata bahwa perkataan “Mirza” pada nama ayahnya, menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah dari keturunan Moghol. Akan tetapi di lain kesempatan ia berkata:

“Perkataan “Mirza” di dalam namanya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menunjukkan bahwa beliau a.s. adalah keturunan orang Parsi.”8

Pernyataan Bashir yang bertentangan itu telah menimbulkan keragu­raguan. Bagaimana ia bisa berkata bahwa perkataan Mirza pada nama ayahnya, adalah untuk menyatakan keturunan dari Moghol, akan tetapi di lain kitab ia menyatakan bahwa perkataan Mirza, adalah menyatakan keturunan Parsi?!

Jelas bahwa ucapan-ucapan Bashiruddin tersebut, tidak beres. Akan tetapi bagi Ahmadiyah hal-hal seperti itu mudah diselesaikan, bahkan dengan cara­cara yang simple. Jika Bashir mula-mula menyatakan bahwa Mirza adalah keturunan Moghol, kemudian ia menyatakan di lain kitab bahwa Mirza adalah keturunan Parsi, maka Ahmadiyah menjelaskan:

“Adapun Mirza adalah nama kepangkatan dan suku dari nenek-moyang beliau. Beliau adalah keturunan Parsi dan keturunan Bangsawan.”9

Di sini Ahmadiyah membuktikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad memi­liki dobel keturunan, Moghol dan Parsi. Untuk membereskan makna dobel keturunan, maka Ahmadiyah menegaskan lagi:

“Pendiri Jema’at Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, berasal dari keluarga terhormat. MIRZA adalah gelar yang biasa diberikan kepada kaum ningrat keturunan raja-raja Islam dinasti Moghol berasal dari Parsi.”10

Demikianlah cara pemberesannya; raja-raja Islam dinasti Moghol yang berasal dari Parsi. Dengan susunan kalimat yang demikian, maka kesulitan yang terdapat pada dua buah tulisan Bashir yang berbeda, telah terpecahkan.

Lebih jelas lagi ialah, bahwa keturunan dalam darah yang mengalir dalam tubuh pendiri Ahmadiyah itu, hanyalah darah Moghol saja. Sedangkan keturunan Parsi yang dimiliki Mirza Ghulam tidak lain kecuali tem­pat, domisili,           dimana kakek-kakeknya tinggal berdiam. Dengan kata lain, Mirza Ghulam Ahmad keturunan Moghol dari Parsi.

Namun demikian Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya lebih mengutamakan tempat asal kakek-kakeknya daripada darah yang mengalir dalam tubuh mereka. Parsi lebih penting dari Moghol, sebab di dalam Parsi itulah kepentingan Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, terletak. Dari keturunan Parsi terletak makna dan arti maupun tujuan dari sebuah Hadits, yaitu pada saat Nabi Muhammad s.a.w. sambil menaruh tangan beliau kepundak sahabat Salman Al Parisi, bersabda:

“Sekiranya keimanan menggantung di bintang tsuraya, niscaya akan dicapai oleh laki-laki dari Parsi.”

Mirza Ghulam Ahmad berkeyakinan bahwa yang dimaksud dan dituju dari sabda Nabi Muhammad s.a.w., tidak lain ialah untuk dirinya, karena dialah anak Parsi itu. Bahkan Tuhan memberi wahyu padanya:

“Pegang teguhlah iman itu wahai anak Parsi.”11

Sudah jelas bahwa Mirza Ghulam dan alirannya bertekad sebagai yang empunya hak mutlak atas sabda Nabi s.a.w. tersebut. Benarkah mereka berhak, benarkah Mirza Ghulam Ahmad yang dituju sabda Nabi Muhammad s.a.w.?

Padahal Mirza Ghulam Ahmad bukan keturunan Parsi, ia ketu­runan Moghol. Lebih-lebih lagi ia kelahiran India, berdomosili di India. Bahkan ayahnya maupun kakek-kakeknya sampai kepada Hadi Beg kakeknya yang keduabelas itu, berada di India. Abad enam-belas masehi mereka sudah di Hindustan. Sudah hampir tiga ratus tahun kakek-kakek Mirza Ghulam berurat berakar di India. Tigaratus tahun jauh daripada cukup untuk memberi titel pada ayah dan Mirza Ghulam Ahmad maupun pada kakek-kakeknya sebagai pribumi India. Ia harus dipanggil, tidak dengan panggilan “ya ibna­Al-Faras”melainkan dengan panggilan “ya ibnul Hind” wahai anak Hindustan.

Cara-cara yang ditempuh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya mengambil Hadits tersebut di atas buat mereka, jelas merupakan pengingkaran mereka terhadap sejarah serta memutar balikkan makna dan tujuan yang sebenarnya dari Hadits tersebut.

Padahal tidak perlu menunggu sampai 1200 tahun kemudian serta memilih negeri India sebagai tempatnya, untuk menemukan maupun menunjuk orang yang dimaksud dan dituju dari sabda Nabi Muhammad s.a.w. tersebut.    Justru pada saat-saat itulah dan di tempat Nabi bersabda makna dan tujuan dari ucapan Beliau terletak adanya.

Sahabat Salman Al-Farisi mempunyai kissah hidup yang unik serta mengagumkan. Dalam pengembaraannya mencari serta menemukan iman Tauhid, putera Parsi yang orisinil ini, pergi meninggalkan tanah tumpah darahnya Parsi, pergi jauh sampai ribuan mil, melalui proses perpindahan kepercayaan dari agama syirik menyembah api (zarahustra) pada agama syirik mentuhankan Isa Al-Masih (Kristen) dan akhirnya sampai pada Agama Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w.

Ketabahan, gairah, tekad, dan revolusi yang bergolak dalam jiwa Salman Al-Farisi, mencari kepuasan iman, ketentraman bathin dan sekaligus menemukannya pada diri Rasulullah s.a.w., telah mendapat pujian langsung dari Nabi sendiri, liwat sabda Beliau di atas. Bahkan Salman Al-Farisi, telah memperoleh kedudukan istimewa. Siapa menduga bahwa musafir dari ribuan mil ini, telah memperoleh derajat “termasuk dari ahli bait Nabi” serta mendapat jaminan sorga dari junjungannya.

 

 

1 Sincretisme: aliran atau pergerakan yang ingin mempersatukan seluruh pergerakan yang ada di bawah pimpinan seseorang. ^

2 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat hidup hazrat Ahmad a.s., 1966, Djemaat Ahmadiyah tjabang Djakarta, hal. 2, terjemah oleh Malik Aziz Ahmad Khan. ^

3 lih. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, riwayat hidup hazrat Ahmad a.s., ha1.2 dan lih. J.D. Shams. h.a., ISLAM, th.?, Ahmadiyya Muslim Foreign Missions Office, Rabwah, hal. 16 (his full name was Ghulam Ahmad, ) ^

4 lih. M.B.M.A., riwayat hazrat Ahmad a.s., hal. 1/2  ^
5 lih. idem, hal. 6 ^

6 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftha’, 1378 hijrah, Rabwah Matba’ah an Nasrah. hal. 75: (fi kitab sawaanah abaaii wa sami’tu min abi an abaaii kaanuu min-al-jarthumah almuqliyah ) . ^

Al-jum’iyat-ul-syrargiyah linasyru-al-kutub-diniyah Rabwah.

7 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Al-Istiftha’, hal. 75: (wa lakin Allah auhii ilaa annahum kaanu min bani Fares, la minal aghwaan turkiyah.) ^

8 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Djasa Imam Mahdi a.s., Soerabaya Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia (A.A.D.L) Gemeente, th. 1940, hal. (c) ^

9 lih. Suara Lajnah Imaillah (majallah kaum ibu Ahmadiyah), no. 10, th 11-1974, B.P.L.I. (Badan Penghubung Lajnah Imaillah Indonesia), Yogjakarta, ha1.27. ^

10 lih. Sinar Islam (majallah Ahmadiyah), no. 5-6, 1974, Jakarta Yayasan Wisma Damai, hal. 26. ^
11 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Baqdad, Matba’ah an-Nashrah, Rabwah 1377h., hal. 26. ^

 

 

 


 

3.2    Ia Telah Difirmankan
 

Maka apa yang telah dilakukan Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya men­dominir hadits demi kepentingan memperoleh pegangan guna memperkuat dirinya, akan selalu dijumpai dalam setiap obrolan Ahmadiyah. Sampai­sampai pada ayat-ayat Al-Quran, tidak terlepas dari pemakaian Mirza Ghulam menurut cara dan selera mereka. Jelasnya, menggxunakan dasar Al­Qur’an dan Hadits untuk mengukuhkan pegangan dengan jalan mengartikan dan mentafsirkan menurut kepentingan dan selera mereka, adalah watak khas serta hobby yang menyolok yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, puteranya, pengikut-pengikutnya maupun alirannya. Kitab-kitab mereka sendiri yang membuktikan ciri-ciri khas itu.

Beralih kini pada urutan yang ketiga atau yang terakhir dari nama pendiri Ahmadiyah, yakni nama AHMAD, maka untuk nama inilah, Mirza Ghulam, puteranya dan alirannya telah membuat suatu surprise yang tidak tanggung­tanggung, menarik dan istimewa:   Jauh dari pada nama Mirza, nama AHMAD ini merupakan kebanggaan bagi yang empunya maupun bagi pengikut-pengikutnya. Menurut puteranya, Bashiruddin Mahmud Ahmad, bahwa acapkali beliau (Mirza) suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka waktu menerima bai’at dari orang-orarg beliau hanya memakai nama Ahmad.

Dalam ilham-ilham acapkali Allah s.w.t. suka memanggil kepada beliau dengan nama Ahmad juga.12

Bagaimana dengan yang empunya nama, Mirza Ghulam? Dengan perasaan bangga akan namanya, ia berkata:

“Bahwasanya Allah sendirilah yang memberi nama Ahmad, padaku, ini sebagai pujian untukku di bumi serta di langit.”13
 

Mau apa lagi? Kalau Tuhan yang memberi nama padanya, maka jangan ada orang yang mencoba-coba untuk meragukannya.

Hanya sayang masih ada kekurangan dari ucapan-ucapan Mirza di atas. Ia maupun Ahmadiyahnya tidak pernah menceriterakan bagaimana cara Tuhan memberi nama Ahmad itu. Setidak-tidaknya ayah Mirza Ghulam ataupun kakeknya, pernah kedatangan ilham atau dapat mimpi atau bagaimana saja, dari Tuhan Mirza berkenaan dengan nama Ahmadnya.

Kendatipun kisah atau cerita pemberian nama itu tidak ada, namun itu tidak berarti bahwa pemberian nama dari Tuhan tersebut, tidak mempunyai bukti. Justru yang paling berkesan serta meyakinkan, dibuktikan dengan tandas oleh Mirza Ghulam Ahmad dan alirannya.

Adapun bukti yang ditunjukkan itu bukan terjadi pada saat­saat Mirza Ghulam dilahirkan, melainkan pada saat-saat Nabi Muhammad s.a.w. menerima wahyu. Jelasnya, 1200 tahun sebelum kelahiran Mirza Ghulam Ahmad, nama AHMAD yang dimilikinya itu, sudah disebut-sebut Tuhan dalam KitabNya, Al-Qur’an Al-Karim pada surah As-Shaf ayat.6, sebagai AHMAD yang DIJANJIKAN.14

Lebih serius lagi dari pada ulasan Ahmadiyah ialah, bahwa pangkat yang terdapat pada nama Ahmad dalam surah As-Shaf itu, yakni pangkat Rasul, adalah juga milik Mirza Ghulam; berkata Ahmaddyah:

“Jika orang benar-benar meniliti maksud Al-Qur’an itu  (surah 61:6 tadi) maka akan mengetahui, bahwa yang   dimaksud dengan nama AHMAD bukanlah Nabi Muhammad saw. tetapi seorang RASUL yang diturunkan Allah swt. pada    akhir zaman sekarang ini. Bagi kami ialah: Hazrat  (Mirza Ghulam) AHMAD Al-Qadiani.”15
 

Demikian tafsir dan makna surah Ash-Shaf ayat 6 yang diolah oleh Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya. Akhirnya dengan ucapan yang meyakinkan, Ahmadiyah dengan lantang berkata:


“Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksud Rasul  Ahmad dalam surah Ash-Shaf ayat 6 tersebut, adalah pendiri Jemaat  Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad     a.s.”
16
 

Inilah dia, obrolan-obrolan Mirza Ghulam dan para pengikut­nya; mereka seringkali menonjolkan watak-watak Yahudinya dengan Yuharrifu nal kalimah an-mawadi’ih, bermain sulap, awut-awutan, tamak didalam men­gartikan maupun menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an serta Hadits.

Alasan-alasan yang digunakan Ahmadiyah untuk menguasai nama Ahmad dalam surah As-Shaf itu, seolah-olah kelihatannya masuk akal; akan tetapi kalau diteliti dengan seksama, maka mereka hanya memaksakan agar makna maupun tafsir dari ayat 6 surah As-Shaf itu, dikhususkan pada Mirza Ghulam Ahmad saja. Dengan kata lain, Ahmadiyah menafsirkan maupun rnengartikan ayat-ayat Al-Qur’an, menurut jalan pikiran mereka dan menurut kepentingan mereka. Sebagai alasan mengapa ayat 6 Ash-Shaf itu untuk Mirza, Ahmadiyah berkata:
 

“Memang dalam Al-Quran surah 61:6 tertulis nama Ahmad.  Tidak mungkin nama itu digunakan bagi Nabi Muhammati  saw. karena disitu tertulis tanda-landa dan kejadian-kejadian yang lain, terangnya seperti di bawah  ini:
 

1. Wa huwa yud’a ilal Islam = dan dia {Ahmad) dipanggil (oleh orang-orang yang mengaku dirinya Islam) supaya kembali kepada agama Islam. Mengapa demikian? Mereka menganggap bahwa Hazrat Ahmad a.s. itu sudah kafir-nauzubillah-, disebabkan mengaku dirinya sebagai nabi. Marilah kita perhatikan: Nabi Muhammad saw. berkewajiban memanggil ummat dunia kepada Islam (lih61:8) tetapi pada ayat tersebut malah mereka itulah (baca: ummat Islam) yang memanggil Ahmad, supaya kembali kepada Islam.
 

2. Yuriduna li yuthfiu nurullahi bi afwahihim: mereka itu (baca: seluruh ummat manusia di dunia sekarang ini) ingin benar memadamkan cahaya Allah Ta’ala dengan mulutnya. Pada zaman Nabi Muhammad saw. yang memusuhi Agama Allah (Islam) menghunus pedang, tetapi pada akhir zaman ini, yang melawan dan menghantam Islam tidak  dengan pedang lagi, melainkan dengan “propaganda,”  dengan alat-alat modern, radio dan tulisan-tulisan. Ingatlah pula lidah lebih tajam lagi dari pedang.

3. Huwalladzi arsala rosulahu bilhuda wa dinil haqqi   liyuzhhirahu ‘ala dini kullihi: Dia, Tuhan itulah yang mengirim Rasulnya dengan petunjuk, agar dapat ia (Ahmad) memenangkan agama Allah atas segala agama-agama. Terlaksananya ayat ini, hanya di suatu   zaman, dimana pergaulan dunia antara agama dengan agama semuanya, menjadi lebih dekat, jarak antara benua dengan benua itu seakan-akan dekat, semuanya disebabkan alat-alat teknik yang modern tadi, bahkan antara bangsa dengan bangsa kini sudah dapat disatukan (PBB), atau bila dengan alat ialah: radio dan pesawat terbang. Bila kita mau menganalisa semuanya ini, mustahil bisa terkecoh lagi.”17
 

Demikianlah ocehan-ocehan  Ahmadiyah mempropagandakan alasan­alasan apa sebab Mirza Ghulam yang menjadi pemilik mutlak nama Ahmad itu. Ditambah lagi dengan ocehan tafsir yang berlagak berani memperkosa ayat-ayat Tuhan, maka jelas tidak seorang mufassirpun yang berani berbuat demikian, kecuali mufassir-mufassir Ahmadiyah yang serba awut-awutan.
 

Berbicara tentang ayat 7 dari Surah Ash-Shaf tersebut, dimana sebagian dari ayat yang tersurat: wa huwa (dan dia) diajak pada Islam, telah digunakan oleh Ahmadiyah sebagai landasan untuk menguatkan hak milik Mirza Ghulam akan nama Ahmadnya itu, maka untuk mengetahui yang sebenarnya dari Firman Allah tersebut, haruslah diketahui keseluruhan ayat-ayatnya. Dan tidak boleh melepaskan kaitannya yang erat dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Pada bagian akhir dari ayat 6 surah Ash-Shaf. tersebut:
 

“Maka tatkala Rasul datang pada mereka dengan membawa keterangan atau bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:  Ini adalah sihir yang terang.” dilanjutkan kemudian dengan ayat 7 dari surah yang sama, tersebut:

“Dan siapakah yang terlebih aniaya daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, pada saat mana ia diajak pada Islam? Sungguh Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang aniaya.”
 

Maka jelas sekali di situ bahwa huwa (ia) adalah orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah pada saat ia diajak oleh Nabi Muhammad s.a.w. kepada Islam. Dan bukan seperti yang diulas Ahmadiyah, bahwa huwa {ia) adalah Ahmad Mirza Ghulam yang diajak pada Islam oleh orang-orang Islam yang menuduhnya kafir. Ini hanya silatan lidah dan sulapan mata yang dibuat oleh mufassir-mufassir Ahmadiyah.

Contoh yang mirip daripada ayat 7 Ash-Shaf tersebut ialah pada surah Az­Zumar ayat 32, yang tersebut:

“Maka siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran   ketika sampai padanya? Bukankah dalam neraka tempat   tinggal orang-orang kafir?”

Ayat, ketika sampai padanya ialah, ketika sampai kebenaran yang dibawa Muhammad s.a.w. pada ia (huwa), maka ia mendustakan ayat-ayat Allah itu. Demikianlah tafsir maupun makna yang benar.

Alasan yang kedua yang dipakai Ahmadiyah bagi landasan pegangan Mirza untuk memiliki nama Ahmad ialah ayat: yuriduna li yuthfi’u nurullahi bi afwahihim. Ahmadiyah mengatakan, bahwa seluruh ummat manusia di dunia sekarang ini ingin benar memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya, sedang pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. yang memusuhi Agama Allah (Islam) menghunus pedang. Akhir zaman ini yang melawan dan menghantam Islam tidak dengan pedang lagi, melainkan dengan propaganda. Dan ingatlah bahwa lidah lebih tajam dari pedang. Demikian ulasan Ahmadiyah dari ayat tersebut di atas.

Inilah bukti kerabunan mata dan kejumutan pikiran mufassir Ah­madiyah. Mereka terang-terangan menutupi peristiwa-peristiwa sejarah Nabi, ataupun mereka sedang bersilat lidah dan membodohi um­mat   manusia dengan ocehan-ocehan tafsirnya itu. Apakah benar pada akhir zaman ini yang melawan dan menghantam Islam tidak dengan pedang lagi?! Apakah benar pada zaman Nabi Muhammad s.a.w.  yang memusuhi Agama Allah tidak dengan mulut pula?!

Pertanyaan yang pertama akan dijawab kelak, tetapi yang kedua, karena berhubungan dengan obrolan Ahmadiyah tentang nama Ahmadnya Mirza Ghulam, akan dijawab; menurut dasar-dasar dari Al-Qur’anul Karim.

Ayat 78 surah Ali-Imran:

“Di antara mereka itu ada satu golongan yang memutar-balikkan lidahnya dengan membaca kitab, supaya    kamu kira bahwa ia daripada kitab, padahal bukanlah ia daripada kitab, dan mereka berkata: ia daripada sisi  Allah. Padahal bukan ia dari sisi Allah dan mereka itu mengadakan dusta atas Allah sedang mereka mengetahui.”

Ayat 33 surah Al-An’aam:

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa engkau {ya Muhammad) berduka­cita oleh karena perkataan mereka itu, sesungguhnya mereka itu tiada mendustakan engkau, tetapi orang yang aniaya itu menyangkal ayat-ayat Allah.”

Surah Al-A’raf ayat 177:

“Amat jahatlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan   ayat-ayat Kami dan orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri.”
Surah At-Taubah ayat 65:

“Jika engkau bertanya pada mereka, niscaya mereka menjawab: sesungguhnya kami bercakap-cakap dan bermain-main. Katakanlah! Patutkah kamu memerolok-olokkan Allah dan ayat-ayatNya serta RasulNya?” Bagian akhir dari ayat 2 surah Yunus:

“Orang-orang kafir berkata: Sesungguhnya ini (Muhammad) ahli sihir yang nyata.”

Surah Yunus ayat 65:

“Janganlah engkau berduka cita karena mendengarkan perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia mendengar lagi mengetahui.”

Surah Al-Anfal ayat 31:

“Apabila dibacakan ayat-ayat Kami kepada mereka lalu     mereka berkata: Sesungguhnya telah kami dengar jika kami kehendaki niscaya dapat pula kami mengatakan seperti ini. Ini lain tidak melainkan dongeng-dongen orang-orang dahulu kala.”

Surat Al-Anbiya’ ayat 5:

“Bahkan mereka berkata: (Qur’an ini) mimpi yang kacau balau. Bahkan dia mengada-adakannya, bahkan dia seorang ahli syair. Sebab itu hendaklah dia mendatangkan satu ayat (mu’jizat) buat kami, seperti telah diutus orang­orang dahulu.”

Surat. Ash-Shaffaat, ayat 14/15:

“Apabila mereka melihat ayat (tanda kekuasaan Allah) mereka memperolok-olokkannya. Mereka berkata: ini lain tidak hanya sihir yang nyata.”

Surat Shaad ayat 4:

“Mereka takjub karena datang pada mereka pemberi kabar takut di antara mereka, dan berkata orang-orang kafir: Orang ini tukang sihir lagi pendusta.”
Surat Az-Zukhruf ayat 7:

“Dan tiadalah datang Nabi kepada mereka melainkan mereka perolok­olokkan.”
 

Demikianlah, masih banyak lagi ayat-ayat Tuhan yang mengeten­gahkan cara-cara kaum musyrikin hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya. Sesungguhnya omongan mereka itu keji hina, nista, jahat dan fitnah­fitnah mereka lebih biadab daripada pembunuhan .

Maka para mufassir Ahmadiyah pada kenyataannya buta atau sengaja hendak mengelabui ummat dengan mulut mereka. Jelas bahwa orang Ahmadiyah mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an dan mengingkari sejarah Nabi s.a.w.

Lebih daripada itu, Ahmadiyah mengingkari sejarah perjuangan kaum muslimin pada akhir zaman, dengan kata-kata mereka: bahwa yang melawan dan menghantam Islam akhir zaman ini, tidak lagi dengan pedang!

Alasan ketiga yang dipakai oleh Ahmadiyah untuk mengukuhkan Mirza Ghulam sebagai pemilik satu-satunya atas nama Ahmad dari surat. Ash-Shaf itu, ialah ayat: Huwalladzi arsala rasulahu bilhuda wa dinil haqqi li yuzhhirohu ala dini kullihi. Ahmadiyah mengartikan ayat tersebut ialah bahwa Dia Tuhan itulah yang mengirim Rasul-Nya dengan petunjuk, agar dapat ia (AHMAD) memenangkan agama Allah atas segala agama-agama.

Dengan kata lain, Ahmadiyah meyakinkan kita bahwa Mirza Ghulam (Ahmad)lah pendiri Ahmadiyah itu, yang akan memenangkan Islam di­atas segala Agama. Apakah benar demikian? Jika alasan-alasan yang sebelumnya, Ahmadiyah telah menyalah-gunakan ayat-ayat AJ-Qur’an, maka alasan yang terakhir ini tentu saja dibuat sedemikian pula liwat ocehan­ocehan mereka yang akan membuat kaum Muslimin terkecoh. Kelak ocehan­ocehan mereka itu akan terlihat bentuknya.

 

 

12 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat hidup Hazrat Ahmad  a.s. hal 2. ^

13 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Al-Khutbatul-Islamiyah, Rabwah  wikalah at-tab-syiir li- tharik uj-jadid, 1388 h., hal. 86:  (wa-an Allaha sammahu Ahmad bima yahmadu bihir Rabbul Jalil  fil-ardhi kama yahmadu fis-sama’) ^

14 lih. suara ANSHARULLAH, majallah bulanan Ahmadiyah, no. 3 & 4, Djuni/Djuli th.1955, P.P. Ansharullah-Pusat Indonesia Djogjakarta, hal. 18. ^

15 lih idem Suara Ansharullah, hal. 18. ^

16 lih. Suara Lajnah Imaillah, majallah kaum ibu Ahmadiyah no. 10. th. 11. 1974, B.P L 1. (Badan Penghubung Lajnah Imaillah Indonesia), Yogjakarta, hal. 27. ^
17 lih. suara Ansharullah, hal. 18/19 (note: aslinya ditulis dalam ejaan lama, di sini terlanjur dengan ejaan baru). ^

 

 

 


 

3.3    Ahmad Terakhir
 

Berbicara tentang nama AHMAD dalam surat Ash-Shaf ayat 6, dimana tersirat di dalamnya ucapan Nabi Isa a.s. yang menyampaikan kabar gembira (mubasysyiran) tentang datangnya seorang Nabi di kemudianku (mim ba’di ismuhu) yang bernama AHMAD, tidak lain yang dituju dari ucapan beliau a.s. itu, adalah Nabi Muhammad s.a.w.

Ucapan Nabi Isa a.s. dengan kata-kata “di kemudianku” itu, tidak akan meloncati seorang Nabi yang benar-benar datang tepat sesudah dirinya. Lebih-lebih lagi, dan inilah yang harus menjadi perhatian, bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dengan demikian beliaulah orang pertama yang mengetahui akan makna tujuan serta seluruh yang tersirat dalam ayat-ayat Allah. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Pesuruh Allah yang menyampaikan kabar gembira dan kabar takut (basyiiran wa nadziiran) pada ummat manusia, tidak akan menyembunyikan sesuatu kabar dari Allah seperti yang tersurat dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaf ayat 6 itu.

Jika itu memang ditujukan pada seorang AHMAD dari INDIA dari desa QADIAN, maka Nabi Muhammad s.a.w. pasti mensabdakannya. Juga para sahabat Nabi, para Tabiiin maupun yang sesudahnya akan menyebut “milik siapa Ahmad” pada surah Ash-Shaf itu. Padahal Nabi tidak menyabdakan, tidak juga para sahabat maupun Tabi’in.

Jelaslah kiranya bahwa cara-cara yang dipakai Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya, mencapai konklusi yang terang di sini, bahwa aliran Qadiani dan pendirinya itu telah melakukan penghinaan yang terang-terangan terhadap Nabi Muhammad s.a.w.

Mereka sebenarnya telah menyepelekan tugas suci yang dipikul Nabi Muhammad, menerima kebenaran, menyampaikan serta menegakkan kebenaran itu. Tingkah laku maupun cara-cara yang demikian itulah yang paling disebar-sebarkan Ahmadiyah dalam kitab-kitab mereka.

Yang haq atas nama AHMAD dalam surat Ash-Shaf ayat 6 itu, ialah seorang yang menerima wahyu itu sendiri, AHMAD MUHAMMAD s.a.w. Ribuan tahun sebelum beliau s.a.w. memangku jabatan Rasul dan Nabi yaitu tatkala Nabi Musa a.s diutus oleh Allah untuk bani Israil, tersebut dalam sebuah do’anya; beliau a.s. memohon:

“Ya Allah jadikanlah hamba sebagai pengikut AHMAD.”18
 

Kemudian sahabat Salman Al-Farisi tatkala berada di Baitul Maqdis, beliau mendengar dari seorang rahib, yang berkata padanya:

“Wahai Salman, sesungguhnya Tuhan sedang mengutus seorang Rasul bernama AHMAD. Ia mau makan dari pemberian hadiah, akan tetapi ia menolak atas pemberian sedekah. Di antara pundaknya terdapat tanda dari khataman Nubuwah. Ketahuilah wahai Salman, bahwa saat-saat sekarang inilah kedatangannya.”19
 

Dan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Dharimi, Tirmidzi, An-Nasa’i, Bukhari dan Muslim, dari Jabir ibn Muth’am, beliau s.a.w. bersabda:

“Padaku ada beberapa nama-nama, Aku bernama Muhammad, aku bernama AHMAD, Al-Mahi (yang menghapuskan) kekafiran, Al-Hasyir (yang mengumpulkan) ummat dibawah naunganku, dan Al-Aghib (yang penghabisan) dimana tidak   ada Nabi sesudahku.”
 

Demikianlah tentang nama Ahmad dalam surah Ash-Shaf ayat 6. Adapun yang dipakai alasan oleh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, baik Hadits maupun Al-Qur’an, hanyalah suatu penipuan belaka. Tidak sepotong ayatpun dalam Al-Qur’an yang menyebut-nyebut nama Mirza Ghulam. Juga tidak sehuah Hadits. Jika memang ada, maka Mirza Ghulam dan Ahmadiyahlah yang mengada-adakan. Bahkan andaikata ada sebuah nama Ahmad kiriman Tuhan yang ditujukan pada Mirza Ghulam, maka itu adalah kiriman yang datang dari Tuhannya Mirza. Sebab ia rupa-rupanya memiliki Tuhan yang khas yang hanya menjadi miliknya. Kelak akan dijumpai dalam beberapa kitab-kitab Ahmadiyah, Tuhan khas milik Mirza Ghulam itu.
 

3.4   Setumpuk Asal-Usul
 

What is in a name? Untuk apa Mirza maupun Ahmadiyahnya memberi embel­embel, komentar terhadap namanya dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits? Andaikata Mirza Ghulam tidak berbuat itu semua, maka segala kepalsuannya tidak secepat itu ditemukan. Tapi apa boleh buat, mungkin dikiranya alasan­alasan itu yang mendukung sepenuhnya, bahkan yang bisa diterima kaum Muslimin di luar alirannya. Padahal justru alasan-alasan itulah yang membuka kedok kepalsuannya. Demikian juga pada hal-hal lain yang digunakan selalu dijumpai sikap-sikap yang ceroboh dan Ahmadiyah dan pendirinya, menggelikan.

Beralih dari nama-namanya pada keturunannya kembali, maka yang inipun tidak kurang hebatnya. Sebagaimana diketahui bahwa dari pihak ayah dan kakek-kakeknya, Mirza Ghulam merangkap dua keturunan, yaitu keturunan Moghol dan keturunan Parsi.

Akan tetapi yang lebih menarik dari hal keturunan Mirza ini, ialah dari pihak ibunya maupun nenek-neneknya. Meskipun Mirza Ghulam jarang bahkan hampir tidak pernah menyebut-nyebut nama ibunya maupun nama nenek-neneknya apalagi membanggakannya, namun demikian ternyata mereka memegang posisi yang menentukan di dalam karier Mirza Ghulam. Justru keturunan mereka itulah yang lebih mantap bagi Mirza Ghulam untuk meletakkan dirinya pada kedudukan yang paling menarik dan jempolan .

Ternyata keturunan Mirza dari pihak ibunya lebih baik, bahkan lebih istimewa dibanding dengan keturunan dari pihak ayahnya. Mula-mula Mirza Ghulam membantah dengan tegas bahwa ia dari kaum Turki.20

Tidak dimengerti mengapa Mirza sampai membantah dirinya sebagai kaum Turki. Mungkin ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Turki, pada waktu ia hidup. Akhir-akhir dari abad ke 19 masehi sekitar tahun-tahun 1881 sampai dengan tahun 1900-an, Sultan Abdul Hamid Turki yang berkedudukan sebagai Khalifah Islam bersama-sama Sayid Jamaluddin Al-Afghani, seorang agitator yang paling ditakuti oleh kekuasaan kolonial Barat, terutama Inggris, telah mendirikan organisasi Pan Islamisme. Suatu gerakan propaganda gencar anti Barat yang militant, effeknya yang mendalam dan kuat memaksa kolonial Barat memperhitungkannya    dengan sungguh-sungguh. Kota Konstantinopel menjadi pusatnya semua orang fanatik dan agitator anti Barat seperti Jamaluddin.21 Seorang pemimpin Islam India berseru kepada kekuasaan Brittania:

“Saya berseru kepada pemerintahan Brittania yang sekarang supaya mengubah politik permusuhannya dengan Turki, untuk menjaga supaya gunung kemarahan jutaan rakyat Islam jangan meletus, yang akan membawa kebinasaan dahsyat.”22
 

Demikian hebatnya Pan Islamisme menentang dunia Barat terutama kolonial­isme Inggris. Sebaliknya, Inggris telah menancapkan cengkeramannya dalam­dalam terhadap kaum Muslimin India. Adanya kontradiksi yang hebat itu, maka tidak mustahil atau bisa diduga-duga jika orang-orang seperti Mirza Ghulam Ahmad cepat-cepat mencari posisi yang enak di tengah-tengah arena politik kaum Muslimin India yang hangat. Dan yang paling enak atau paling mudah untuk bersih diri, ialah membantah dirinya dari kaum Turki.

Kalau tidak henar perkiraan di atas atau sama sekali tidak beralasan maka setidak-tidaknya Mirza Ghulam Ahmad maupun Ahmadiyahnya sanggup membuat suatu catatan kecil, yaitu memberi penjelasan, mengapa sampai-sampai Mirza Ghulam menolak diri sebagai kaum Turki; dan mengapa kata-kata “Turki” itu sempat disisipkan diantara berita wahyu yang ia terima dari Tuhannya.
 

Kembali pada keturunan dari pihak ibunya, Mirza Ghulam Ahmad ternyata mempunyai keistimewaan yang tidak tanggung-tanggung. Dengan bangga ia berkata:

“Ketahuilah, bahwasanya Al-Masih Al-Mau’ud itu datangnya dari golongan QUREIS, sebagalmana Isa datangnya dari Bani Israel.”23
 

Al-Masih Al-Mau’ud yang dimaksud ialah Pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam. Ia memperoleh gelar itu, dan banyak lagi gelar-gelar yang ia peroleh dari Tuhannya. Lebih meyakinkan lagi tentang keturunan Qureisnya, Mirza Ghulam Ahmad berkata yakin:

“Adalah suatu keharusan bahwa Khalifah ini dari keturunan Qureis.”24

Gelar khalifah inipun termasuk milik Mirza Ghulam Ahmad. Satu per­satu dari gelar-gelarnya akan dikenal nanti. Demikianlah pendakian telah sampai ke puncaknya. Keturunan QUREIS pada diri Mirza Ghulam Ahmad merupakan target terpenting dari planningnya. Sambil bertepuk dada ia berkata: “Ketahuilah siapa aku ini! Jika kamu abaikan maka akan kau hadapi kerugian-kerugian dalam hidupmu.” Qureis mungkin masih agak luas ruang lingkupnya, karena ia masih terdiri dari keluarga-keluarga besar. Maka tidak salah lagi jika Mirza Ghulam Ahmad maupun Ahmadiyahnya memilih satu keluarga saja di dalam satu rumah yang paling mulia dan dimuliakan manusia. Dengan perasaan bangga ia berkata:

“Sesungguhnya akulah Al-Mahdi itu, juga Al-Masih Mau’ud, dimana kedudukannya sudah jelas bahwa untuk jabatan kedua pangkat ini harus dipegang oleh seorang dari Bani Fatimah.”25
 

Apa sebab Mirza memilih Bani Fatimah unluk melengkapi dirinya? Tidak lain, karena ia akan mengambil alih sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut:

“Dari Ummu Salamah r.a. aku telah mendengar Rasul Allah bersabda: Mahdi itu dari anak cucuku, dari anak Fatimah.”
 

Maka Mirza Ghulam Ahmadlah yang menyatakan diri sebagai anak dari anak-anak Fatimah r.a. Kemudian dengan lantang sekali lagi ia berkata:
“Daripada kakek-kakekku, aku ini keturunan Parsi, sedang daripada nenek­nenekku aku ini keturunan
Fatimah. Maka bergabunglah pada diriku dua kemuliaan.”26
 

Jika dua kemuliaan saja, itu masih kurang. Harus ditambah lagi kemuliaan yang di atas segala-galanya. Last but not least inilah kemuliaan­kemuliaan itu. Mirza berkata:

“Daripada Tuhanku, telah turun wahyu padaku, bahwa dari pihak nenek-nenekku, aku ini keturunan Fatimah ahli baitin nubuwah. Demi Allah, telah bersatu pada diriku Nasl (keturunan) Nabi ISHAQ dan nasl (keturunan) Nabi ISMA’IL. “27
 

Bagaimana Mirza Ghulam Ahmad mengaku menjadi anak-cucu Nabi Ishaq a.s.? Apakah benar ia keturunan Nabi Ishaq? Mungkin ada yang tidak beres di sini, dan yang tahu persis bahwa Mirza tidak beres, adalah ia sendiri. Akan tetapi kalau Ahmadiyah mengatakan bahwa itu benar dan tidak ada yang perlu dibereskan, maka kita ucapkan hallo-hallo pada Mirza. Dengan nasl Ishaqnya itu, maka orang boleh berkata pasti, bahwa Mirza Ghulam Ahmad juga dari keturunan YAHUDI! Nah bergembiralah ya Mirza Israeli.

Demikianlah keturunan-keturunan istimewa milik pendiri Ahmadiyah. Satu lagi keturunan yang tidak boleh diabaikan juga hak milik Mirza Ghulam Ahmad. Negeri dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, INDIA, juga merupakan salah satu daripada keturunan-keturunan yang ia miliki.    Ahmadiyah menjelaskan bahwa dalam buku agama Hindu (yang mana?) ada tersebut bahwa Messiah yang dijanjikan itu adalah orang INDIA.28
 

Akhirnya, demikian Bashiruddin Mahmud Ahmad menutup cerita tentang identitas ayahnya, berkata:

“Maka sempurnalah sudah apa yang telah termaklum dalam kitab­kitab Ummat Parisi, Ummat Nasrani, Ummat Islam dan Ummat Hindu tentang datangnya Al-Masih yang ditunggu-tunggu zaman, yaitu MIRZA GHULAM AHMAI).”29
 

Itulah bunyi gong Bashiruddin; orang-orang Ahmadiyah boleh merasa bangga terhadap kedudukan maupun keturunan yang dimiliki pemimpin­nya. Andaikala semua keturunan-keturunannya disandangkan di belakang namanya, maka inilah dia: Mirza Ghulam Ahmad AL-MOGHOLI, AL-PARISI, AL-QUREISY, AL-FATIMI ahli Batin Nubuwah dan AL-ISRAELI dan lagi AL-HINDUSTANI. Sungguh suatu keistimewaan yang menggelikan.

 

18 lih. Abul-Qasim as-Suhaily, ar-Raudul Unuf, 1332/1914, Marokko Sultanul Maghrib, hal. 106: (Allahummaj ‘alni min ummati Ahmad). ^

19 lih. dr. Abdul-Aziz Muhammad Azzam, Muhammad Rasul-ul A’zham, 1394/ 1974, majlis a’lalisy-syuun al-Islamiyah, Cairo, hal. 24. ^

20 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftaa’, hal. 75: (wa lakinnal-lah auhi ila annahum kanu min bani faras la min al-aqwaam ut-turkiyah). ^

21 lih. L Stoddard, Dunia Baru Islam, terjemahan Panitya, Jakarta, 1966,ha1. 65. ^

22 lih. L Stoddard, Dunia Baru Islam, terjemahan Panitya, Jakarta, 1966,ha1. 66, 67. ^

23 lih. Mirza Chulam Ahmad, Al-Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. (ha’): (wa innahu ma ja’a min-al Qureisy kama inna Isa ma Ja’a min-bani Israel). ^

24 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. 13. (wa wajaba anla yakun hadzal Khalifah min-al-Qureisy). ^

25 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah,  hal. 46: (inni ana Al-mahdi alladzihuwa Al-masih muntadzir al-mau’ud, wama jaa fihi annahu min-bani Fatimah) ^

26 idem, idem, hal. 87: (wa ja’alahu min haisul aba’min abna Faras wa min haisul ummahaat min bani Fatimah liyajmau fihil jalaal waljamaal). ^

27 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftha’, hal. 75: (wa ma’a dzalika akhbarani rabbi bian ba’da ummahati min banil Fatimah wa min-ahli baitin-nubuwwah; wallahu fihim nasl Ishaq wa Ismail min kamalil hikmah wal mushalahah). ^

28 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Ahmadiyya Movement, Rabwah The Ahmadiyya Muslim Foreign Missions Office, 1962, hal. 47: (from the books of the Hindus it appeared that the promised Messiah was an Indian). ^

29 lih. Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 47: (in short, in him were fulfilled all the prophecies contained in the books of the Christians, the Parsees, the Hindus and Muslims), note: semua kitab tersebut di atas dalam jumlah lebih dari satu; setidak-tidaknya Ahmadiyyah dapat menyebut masing-masing dua? ^

 

 


 

3.5   Kuning Langsat Bukan Kemerah-merahan
 

Sesudah kita ketahui sejumlah nama maupun keturunan-keturunan Mirza Ghulam Ahmad, maka adalah lebih sempurna lagi jika kita kenal lebih jauh identitas lahiriyahnya. Dalam hal ini perihal warna atau kelir kulit Mirza Ghulam Ahmad mustahaq untuk diketahui dan dibicarakan di sini. Sebabnya tidak lain ialah karena orang-orang Ahmadiyah merasa bangga akan kelir kulit pemimpinnya itu. Ahmadiyah menjelaskan bahwa dalam beberapa Hadits diterangkan:

“Kelir kulit yang mulia Nabi Muhammad s.a.w. adalah PUTIH. Kulit yang mulia Nabi Isa a.s. adalah KEMERAH-MERAHAN. Kulit yang mulia Nabi AHMAD a.s.  (Al-Masih, II) adalah KUNING LANGSAT. “30

Yang dimaksud dengan yang mulia Nabi Ahmad a.s., tidak lain ialah Mirza Ghulam Ahmad. Dikemukakan oleh Ahmadiyah bahwa ada beberapa Hadils yang menerangkan tentang kelir kulit-kulit ke-tiga Nabi di atas itu. Manakah beberapa Hadits itu? Cukup kiranya sebuah saja dikemukakan di sini, maka     Ahmadiyah        akan tertolong dirinya dari kecerobohan­kecerobohannya.

Lebih lanjut Ahmadiyah menambahkan bahwa kalau Nabi Isa a.s. itu kulitnya kemerah-merahan sedangkan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. itu kulitnya kuning langsat, itu merupakan satu bukti yang menggelora, bahwa Al-Masih yang datang kedua kalinya itu bukanlah Almasih putera Maryam r.a. yang dulu itu. Sebab seandainya Nabi Isa a.s. yang dulu itu datang keduakalinya di dunia ini selaku Al-Masih II, pastilah Almasih II itu kulitnyapun kemerah-merahan, bukan kuning langsat.31
 

Demikianlah salah satu alasan dari seribu satu macam alasan yang dipakai Ahmadiyah untuk memahkotai Mirza Ghulam dengan gelar Al-Masih kedua. Berbicara tentang warna kulit manusia di atas dunia ini, maka warna “kuning langsat” itulah yang lebih menarik bagi orang-orang Asia khususnya. Memang demikian, justru itulah kulit yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, benar-benar menggelora! Seorang cucunya berkata tentang kakeknya itu:

“Bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad termasuk dalam golongan yang paling elok. “32
 

Begitu eloknya dia, wahai siapa pula yang lidak jatuh hati padanya?!

3.6   Lampu Aladin Di Tangan Mirza
 

Sudah tentu yang jatuh hati padanya adalah puteranya Bashiruddin, cucu­cucunya dan orang-orang yang buta hati dan buta pikiran. Kepalsuan yang be­gitu kentara ternyata dapat disulap-sulap menjadi elok dan bergelora berkat propaganda-propaganda obralan dan pakaian-pakaian kebesaran yang menyolok.

Keistimewaan Mirza Ghulam Ahmad yang explosiv itu bukan hanya terda­pat pada nama-nama keturunan-keturunan maupun kelir kulitnya, bahkan jauh daripada itu, lebih banyak dan lebih istimewa lagi terdapat pada pangkat­pangkat gelar-gelar maupun jabatan-jabatan yang menjadi miliknya.

Bukan kepalang-tanggung hebatnya, tidak seorang Nabi maupun seorang Rasul sebelumnya yang memperoleh kedudukan begitu tinggi, mulia, seperti yang pernah diperoleh Mirza Ghulam Ahmad. Bahkan lebih tinggi, lebih mulia dari Yesus Kristus yang dianak-Tuhankan oleh kaum Kristen. Letak kehebatannya ialah bahwa semua milik Mirza Ghulam Ahmad diperoleh langsung dari Tuhannya. Maka marilah berkenalan dengan orang Qadian yang superior ini. Mirza Ghulam Ahmad mendapat julukan Pelindang “telur” Islam.33 Tidak dijelaskan mengapa Islam dikiaskan dengan telur itu. Setidak­tidaknya telur gampang sekali retak atau pecah. Alangkah lemahnya kondisi Islam sehingga dikiaskan sebagai telur belaka dan Mirza Ghulam Ahmad adalah orangnya, pelindung dari keretakan dan pecah itu, ataukah ia yang mengerami dan sekaligus yang menetaskan telur itu?!

Beralih pada gelar-gelarnya yang lain, Mirza Ghulam dikatakan sebagai penjaga kebun Allah.34 Mungkin yang dimaksud kebun di situ adalah Islam atau sorga? Pendek kata demikian pendapat Ahmadiyah, pribadi Mirza Ghulam Ahmad itu patut dihormati sebab ia berkhasiat sebagai “kibriti ahmar. “35 Oleh wujudnya itu maka nampaklah kehidupan agama Islam.

Selanjutnya Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid akbar,36 kepala dari semua pembaharu yang dikirim ke dunia untuk memperbaharui Islam yang di dalam akidah-akidahnya telah terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi. Bahkan lebih dari pada mujaddid akbar, Mirza Ghulam turunnya ke dunia ini sebagai “Fadhlan kabiran” bagi ummat manusia.37 Kemudian masih juga perihal turunnya Mirza Ghulam ke dunia, Ahmadiyah berkata:

“Pada hakikatnya ketika Imam Zaman turun ke bumi maka besertanya turun ribuan cahaya demi cahaya, dan di persada langit terjadi suatu suasana kemeriahan, dan    terjadilah suatu penyebaran rohaniyat dan nuraniyat yang menggugahkan orang-orang berbakat suci. Pendeknya barangsiapa yang mempunyai bakat untuk menerima ilham semenjak itulah ia mulai menerima ilham.”38

Dan siapakah Imam Zaman itu? Maka pada saat ini, kata Mirza Ghulam Ahmad, ‘aku berkata tanpa merasa takut dan gentar sedikitpun, dengan kerunia dan anugerah Allah Ta’ala menyatakan: “Imam Zaman itu adalah aku sendiri.”‘39 Bagaimana Hadits mengenai Imam Zaman itu? Ahmadiyah berkata telah mengutip sebuah Hadits, akan tetapi sayang tidak menyebut tentang isi maupun perawi-perawinya; Dikatakan dalam Hadits itu bahwa, “barangsiapa yang kembali ke hadirat Allah dalam keadaan tidak menahu atau tidak mengenal tentang Iman Zamannya, ia akan datang dengan mata buta dan matinya berada dalam keadaan jahiliyah”!40
 

Demikian vonnis Ahmadiyah terhadap Muslimin maupun yang bukan Muslim, yang berada di luar aliran Mirza Ghulam Ahmad; kalau tidak mau tahu atau tidak mau kenal Imam Zaman itu, maka ia mati jahiliah!

Ingin tahu bagaimana akhlak Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad itu? Ahmadiyah dengan lantang berkata:

“Pada diri Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad telah cocok sepenuhnya kandungan ayat: Innaka la-‘ala khuluqin ‘azhim. “41


Innaka la ‘ala khuluqin azhim, Al-Qur’anul Karim ayat 4 suratul-Qalam, yang disampaikan Allah s.w.t. kepada  Nabi Muhammad s.a.w. sebagai insan kamil yang dihiasi ahlak mulia, dengan enaknya diambil alih begitu saja oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai kualitet dari akhlaknya sendiri. Ia merasa
telah memiliki segala-galanya. Di tangannya ada lampu aladin, tinggal ia menggosok maka segala keinginannya terkabul!
 

Perhatikanlah kini sebaris pantun yang ditujukan pada Mirza Ghulam Ahmad, dibuat oleh pengikut-pengikutnya yang setia:
 

“Wujudnya meliputi segala-gala.

Sedang engkau hanya sebagian

Kau akan binasa jika melarikan diri dari padanya. “42
 

Pantun diatas bukan saja satu peringatan keras bagi mereka yang melarikan diri dari lingkungan rumah Mirza Ghulam Ahmad tatkala wabah pes melanda Punjab termasuk Qadian, melainkan juga satu peringatan keras buat setiap orang yang tidak masuk Ahmadiyah, bahwa mereka akan binasa, yakni mati kafir jahiliyah! Kemudian ia, Mirza Ghulam Ahmad, dikenal sebagai khatamal aulia’, yakni wali yang paling sempurna.43

Disamping kata khatam yang diartikan sempurna itu, ternyata Ah­madiyah memberi arti lain juga yakni: akhir. Sebab Mirza Ghulam Ahmad mengambil lagi kedudukan yang lebih meyakinkan dengan berkata: Aku adalah Wali yang terakhir sebab tidak ada wali sesudahku. Yang dimaksud tidak ada wali sesudahku ialah wali-wali yang berada di luar lingkungan Ahmadiyah.44
Mereka bukan wali dan tidak bisa jadi wali, kecuali kalau mereka mau masuk menjadi pengikut-pengikut Mirza Ghulam Ahmad.

Langkah-langkah berikut yang ditempuh Mirza Ghulam Ahmad adalah langkah-langkah yang paling berani, dalam arti kata ceroboh, dari seorang Qadian yang mengaku dirinya Muslim.

Sesudah dikenal sebagai khatamal aulia’ Mirza Ghulam dikenal juga sebagai Muhaddats yakni orang yang diajak bercakap-cakap oleh Allah.45 Bahkan Ahmadiyah mengatakan dari tingginya derajat Mirza Ghulam Ahmad, sampai-sampai Allah Taala dengan sangat terbukanya bercakap-cakap dengan beliau.46 Seringkali terjadi soal jawab dan waktu itu ditanya, waktu itu juga datang jawaban.47
 

Last but not least, Ahmadiyah berkata:

“Dan DIA {ALLAH) membuka tabir dari sebagian wajahNya yang bercahaya dan mengkilap itu. Bukan itu saja, bahkan seringkali demikian rupa seolah-olah Allah Ta’ala tengah bergurau dengan beliau. “48
 

Explosive bukan! belum lagi, Mirza Ghulam belum meledakkan seluruh ambisinya. Bagaimana hendak diartikan oleh Ahmadiyah kata-kata: seolah­olah Allah Ta’ala tengah bergurau dengan beliau?!

Lebih dari itu, mungkin dikarenakan Mirza Ghulam sudah melihat dari sebagian wajahNya yang bercahaya dan mengkilap itu maka wajah Mirza kena kecipratan cahaya mengkilapnya Tuhan. Salah seorang cucunya yang bernama: Mirza Mubarak Ahmad tokoh pimpinan dalam instansi tahrikjadid yang mengemudikan missi-missi Ahmadiyah di luar Pakistan dan India, menyanjung kakeknya Mirza Ghulam Ahmad dengan kalimat-kalimat yang amat mengesankan:

“Ketika hari raya Adha tiba, demikian Mubarak Ahmad bercerita, setelah beliau (Mirza Ghulam) duduk di kursi dan mulai berpidato, nampak seakan-akan beliau berada di alam lain. Mata beliau hampir-hampir tertutup dan wajah suci beliau begitu bercahaya nampaknya seakan-akan Nur Ilahy itu menyelimutinya dalam keadaan luar-biasa bercahaya dan terang. Pada saat itu wajah beliau sukur dipandang dan dari kening beliau cahaya demikian memancar-mancar, sehingga, menyilaukan tiap orang yang memandangnya.”49
 

Selanjutnya sang cucu meneruskan puja-pujinya terhadap kakeknya dengan mengatakan bahwa beliau (Mirza Ghulam) adalah Satu nur yang dizhahirkan ke dunia untuk menyinari ummat manusia.50 Beliau adalah juga Bulan Purnama yang sempurna.51

Dengan gelar satu Nur dan Bulan Purnama yang sempurna itu, maka sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad boleh dipastikan, bahwa pada wajahnya terdapat satu cahaya yang sedap dipandang. Akan tetapi kalau mengingat kata-kata Mubarak Ahmad bahwa Mirza pada keningnya ada cahaya demikian memancar-mancar sehingga menyilaukan setiap orang yang memandangnya, maka apakah gerangan kiranya cahaya yang melekat di dahi Mirza Ghulam itu?! Kalau tidak sinar cahaya sang surya, mungkinkah ia cahaya mercusuar, yang langsung menyorot mata-mata para pengikutnya dari jarak yang tidak jauh, katakanlah tiga mil laut?!
 

 

30 lih. Suara lajnah Imaillah, no. 10 th. 11, 1974, hal. 33. ^

31 idem, hal. 33. ^

32 lih Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., Yayasan Wisma Damai, Bandung 1971, hal. 7 ^

33 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman, terjemah: R. Ahmad Anwar, 1996, P.P. Majlis Chuddamul Ahmadiyah Indonesia, Jakarta, hal. 17. ^

34 lih. idem hal. 17. ^
35 lih. idem hal. 17.^

36 lih. Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah selayang pandang, 1963, hal. 27 ^

37 lih. Saleh A. Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah 1, Ujung  ^
38 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Imam zaman, hal. 10 ^
39 idem, hal. 32. ^

40 idem hal. 10 dan lih. majallah Ahmadiyah Sinar Islam-no.13, 1965, Bandung, Yayasan Wisma Damai, ha1.8 Khuddamul Ahmadiyah, Surabaya Pandang, RAPEN, 1972, hal. 23. ^

41 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Imam Zaman, hal. 15 ^

42 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Perlunya Imam Zaman, hal. 18. ^
43 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-khutbat-ul-ilhamiyah, hal. 9. ^

44 lih. Mirza Ghulam Ahmad, idem, hal. 10: (wa ana khatam-al auliya’ Ia wali ba’di illal lazhi huwa minni wa ala ahdi.) ^

45 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Ajaranku, alih bahasa R. Ahmad Anwar, Bandung Yayasan Wisma Damai, 1966, hal. 43. ^

46 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman, hal. 20 ^

47 lih. Idem, hal. 20. ^
48 lih. Idem, hal. 20. ^

49 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 83. ^
50 lih. idem hal. 87. ^

51 lih. idem hal. 5. ^

 

 

 


 

3.7   Mirza Ghulam Tokoh Penjelmaan
 

Lebih banyak lagi kita mengenal tumpukan pangkat, gelar maupun ibarat­ibarat yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, maka kita akan lebih meyakini letak hakiki dari tokoh Ahmadiyah itu dalam sejarah Islam. Tidak lebih kalau kita mengumpulkan seluruh pangkat yang ada dalam sejarah kerohanian semua Agama, maka Mirza Ghulam Ahmad merupakan juara, baik sebagai kolektor maupun sebagai pemilik dari hasil-hasil koleksinya itu. Ia berkata tentang dirinya:

“Akulah hajar aswad yang dimiliki bumi ini, aku dicium ummat manusia guna memperoleh berkahnya.”52
 

Selanjutnya Mirza mengaku sebagai khalifah akhir zaman,53 juga bergelar sebagai Guru Jagat54 yakni guru bagi seluruh ummat manusia. Karena sifatnya yang meliputi, maka Mirza Ghulam Ahmad mengambil langkah-langkah baru agar dapat memperoleh simpati dari ummat Hindu dan Buddha. Untuk ini Mirza Ghulam berkata:
 

“Sebagaimana kita ketahui di negeri India, seorang nabi      telah lama pergi beberapa abad yang silam, yakni yang dikenal dengan nama: Krishna. Ia juga dipanggil, Ruvaddar Gowpal, si perusak sekaligus juga si pembangun, nama itu semua juga diberikan padaku. Sejak waktu itu bangsa Arya menanti-nanti kedatangan kembali sang Kreshna. Maka ketahuilah, aku inilah Sang Kreshna. Tuhan telah memberi kabar padaku bahwa Kreshna yang sedang dinanti­nantikan kedatangannya itu, tidak lain adalah aku raja bangsa Aryan.”55
 

Mirza Ghulam Ahmad menerangkan bahwa dari gelarnya sebagai Ruvaddar yakni si perusak tidak lain bahwa ia adalah orang yang akan membunuh musuh­musuhnya dengan dalih serta alasan-alasan yang kuat. Dengan pengertian yang demikian itu, maka Mirza Ghulam Ahmad telah merobah makna asal daripada kata-kata Ruvaddar atau sang Perusak sebagaimana yang terdapat dalam agama Hindu.

Kedudukannya sebagai raja bangsa Aryan dan sekaligus sebagai Kreshna, menurut Ahmadiyah telah dinubuwatkan dalam kitab suci kaum Hindu, dimana dikatakan bahwa akan datang kelak seorang Autar yang mempunyai spirit dan martabat seperti Kreshna, atau sebagai buruz dari padanya, dan sudah dipastikan, demikian Mirza Ghulam, bahwa aku inilah sang Kreshna. Untuk lebih meyakinkan terhadap kedudukannya itu, putera Mirza, Bashiruddin M.A. pernah mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang mewahyukan pada Mirza bahwa ia adalah Kreshna. Antara lain Tuhan menurunkan wahyu:

“Engkau ya Mirza adalah Kreshna, namaku telah dinyanyikan dalam kitab suci Gita.”56
 

Peristiwa diatas tersebut, yakni turunnya wahyu pada Mirza sebagai sang Kreshna, mempunyai keistimewaan yang perlu digarisbawahi. Mula­mula Tuhan sendirilah yang mengabarkan bahwa dalam kitab suci Gita pujian terhadap Mirza telah dinyanyikan. Dan yang menarik lagi bahwa wahyu di atas disampaikan pada Mirza Ghulam oleh Tuhan, dalam bahasa India. Maka tidak ragu-ragu lagi kalau orang-orang India akan meyakini kabar tersebut! Dengan kata lain, Mirza Ghulam Ahmad maupun puteranya dan alirannya ingin menunjukkan sikap berbaik hati dan bertoleransi bahkan telah beriman pula terhadap kitab suci kaum Hindu. Bukankah Tuhan Mirza alias Tuhannya ummat Islam, yang menyebut-nyebut “Gita,” kitab suci orang-orang Hindustan itu? Apakah Ahmadiyah akan mengatakan bahwa Tuhannya Mirza juga menyebut-nyebut nama kitab suci golongan Kristen, yakni kitab Beibel untuk kepentingan Mirza Ghulam?

Mungkin kalau Mirza Ghulam yang berkompromi dengan kaum Hindu, itu masih bisa diterima, akan tetapi kalau Tuhan yang berbuat demikian untuk diri Mirza, maka jelas sudah itu hanya suatu obrolan kosong. Lebih menarik lagi jika Tuhan sampai-sampai menurunkan wahyu pada Mirza dengan kata-kata:

“Engkau juga adalah Brahman Avatar, dan engkau adalah seorang yang telah dinubuwatkan semua nabi-nabi. “57
 

Terus-menerus tiada henti-hentinya, Mirza Ghulam menyusun seluruh pangkat dan gelar-gelarnya. Ia juga seorang yang digelari Rahmat Mujassam, yakni rahmat untuk keluarga, rahmat untuk kawan, rahmat untuk musuh, rahmat untuk tetangga, pembantu-pembantu, peminta-peminta dan untuk ummat manusia.58 Rahmat (?) yang diberikan pada musuh, tetangga, dan ummat manusia oleh Mirza, akan merupakan cerita yang menarik dan sangat mengesankan.

Selanjutnya Mirza Ghulam Ahmad dikenal juga sebagai Sultanul Kalam, yakni raja di raja penulis yang karya-karyanya tiada tolok bandingannya.59 Sebagai Sultanul-kalam, Mirza Ghulam ternyata memiliki mu’jizat bahasa Arab dan untuk ini ia mengajukan tantangan pada siapa saja yang berani menandingi keistimewaan bahasa Arabnya. Bashiruddin Mahmud Ahmad berkata:

“Tuhan telah mengkurniai Mirza Ghulam Ahmad ilmu bahasa Arab yang luar-biasa, bahkan tidak dapat ditandingi sekalipun oleh mereka yang empunya bahasa itu sendiri. Untuk menyebarluaskan permaklumannya itu, ia telah menulis dan menerbitkan buku­buku dalam bahasa Arab kemudian menantang musuh-musuhnya, termasuk penulis-penulis di negeri Arab, Mesir dan Syria, andaikata mereka ini masih meragukan kedudukan Mirza Ghulam Ahmad. Tentu saja jawaban atas tantangannya harus denganb ahasa Arab pula. Namun kalau dilihat pada karya-karya Mirza, bagaimana keindahan sastranya, syair-syairnya, dan kehebatan serta kepadatan maknanya, maka tidak seorangpun yang akan berani muncul sebagai penantangnya. Buku-buku hasil karyanya itu sampai sekarang masih ada, dan kami masih membuka front bagi siapa yang berminat menandinginya.”60
 

Siapa pula yang berani menantang bahasa Arab Mirza Ghulam? Tidak seorangpun yang menjawab tantangan itu! Bahkan, kata Ahmadiyah melanjutkan, juga syed Rasyid Ridha yang pernah mendapat tantangan itu, tidak berani menjawabnya.61 Apa sebab Mirza Ghulam Ahmad konon menguasai bahasa Arab tak terkalahkan? Ahmadiyah menjawab:
 

“Perbendaharaan kata-kata beliau bertambah secara sangat ajaib, 40.000 kata dasar diperoleh Mirza Ghulam hanya dalam waktu satu malam saja! “62
 

Akhirnya Bashiruddin M.A. putera Mirza Ghulam itu, berkata:

“Kemu’jizatan bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad, menyamai kemu’jizatan Al-Qur’an ul-Karim. “63
 

Jika demikian kedudukan bahasa Arab Mirza Ghulam, maka ia benar-benar raja di raja pena. Apakah ia juga raja untuk bahasa Urdu, Parsi dan Inggris? Kita akan tahu kelak bagaimana contoh dari bahasa Arabnya Mirza Ghulam yang tak terkalahkan itu.

Dan yang paling menarik dari kehebatan bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad, ialah sebagaimana yang diceritakan sendiri olehnya, bahwasanya segala yang diucapkan Mirza Ghulam adalah ayat-ayat suci yang di­awali  dengan Bismillahir-Rahmanir-Rahim, serta meyakini isi dari ayat­ayatnya sebagaimana meyakini ayat-ayat Al-Qur’anul Karim.64 Itulah ciri-ciri khasnya bahasa Arab Mirza.

Masih meneruskan tentang pangkat-pangkatnya, dikatakan oleh Ah­madiyah maupun oleh Mirza sendiri, bahwa dari sudut tugas memperbaiki keadaan ummat dan membereskan masalah-masalah yang dipertikaikannya baik yang menyangkut Sunnah dan Hadits, beliau Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi.65 Kemudian dilihat dari sudut tugas menghadapi Dajjal dan fitnah-fitnahnya yang hebat di akhir zaman ini dan tugas menghadapi musuh­musuh Islam dengan keterangan-keterangan yang nyata dan tak terpatahkan, beliau adalah Al-Masih yang dijanjikan.

Perihal kedudukannya sebagai Al-Masih itu, oleh karena munculnya di kalangan Islam, maka Mirza Ghulam Ahmad bergelar Al-Masih Al­Muhammady, sebab Al-Masih yang pertama, yakni Isa Al-Masih adalah Al­Masih Al-Israeli.66 Mirza Ghulam Ahmad ternyata masih menggosok­gosokkan lampu aladinnya, atau ia semacam lipan berkaki seribu, ambisinya untuk memiliki seluruh pangkat kerohanian, masih disusunnya lagi. Dan inilah klimax dari cita-citanya. Mula-mula ia mengaku sebagai Nabi, akan tetapi bukan Nabi yang membawa syari’at melainkan sebagai Nabi Ummati, yakni nabi dari ummatnya nabi Muhammad s.a.w. Sebagai nabi ummati, Mirza Ghulam bisa juga memakai gelar-gelar seperti: nabi ghair tasy’ri’, nabi buruzi, nabi zilli, nabi majazi, nabi lughowi, yang kesemuanya hanya menunjukkan sebagai bayangan atau pantulan atau nabi dari ummat nabi Muhammad s.a.w. Akan tetapi karena Mirza memiliki lampu Aladdin, apa kehendaknya pasti terkabul. Bahkan ternyata ia bukan saja sebagai nabi bayangan tetapi sebagai nabi yang membawa dekrit dari Tuhan yang mungkin disetarakan dengan syari’at.
 

Last but not least, Mirza Ghulam ternyata mengangkat dirinya sebagai Rasul Allah dengan sekaligus memperolen sanjungan s.a.w. (sallallahu alaihi wasallam) .67

Apa lagi yang belum menjadi miliknya? Ternyata Mirza masih mengumpulkan lagi pangkat-pangkat yang luar-biasa. Ia harus menjadi segala­galanya. Ia berkata dengan bangga:

“Sesungguhnya Allah telah memberiku semua nama-nama dari para Nabi. “68
 

Yakni bahwa Mirza Ghulam Ahmad boleh dipanggil dengan panggilan nama­nama semua nabi.. Sesungguhnya, berkata Mirza Ghulam:

“Bukan saja, aku ini dipanggil dengan nama Isa anak Maryam, bahkan semua nabi baik nama mereka maupun martabat mereka telah aku terima dari Allah. Itulah sebabnya sebagaimana yang dijanjikan Tuhan dalam Baraheen Ahmadiyya, aku ini adalah Adam, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ya’kub, aku Ismail, aku Musa, aku Daud, aku Isa, anak Maryam, dan aku Muhammad dalam arti buruznya. “69
 

Dengan martabat para nabi yang ia miliki itu, maka Mirza Ghulam Ahmad sanggup menonjolkan beberapa mu’jizat dari para nabi, maupun mengalami beberapa peristiwa seperti yang dialami mereka.

Satu nama lagi yang ia terima dari Tuhannya ialah: Abdulkadir, entah untuk panggilannya itu ia sejajar dengan sayidina Abdulkadir Jaelani, atau Abdulkadir yang lain, kurang jelas.70
 

Demikianlah cerita tentang nama, pangkat gelar dan kedudukan yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad. Dan sekedar untuk menyegarkan pikiran, inilah keseluruhannya itu: Mirza Ghulam Ahmad adalah kibriti ahmar, hajar aswad pelindung telur Islam, penjaga kebun Allah, bulan purnama, satu Nur, Guru Jagat, Fadhlan kabiran, Rahmat Mujassam, Sultanul kalam, Raja Aryan. Mujaddid, Mujaddid Akbar, Khatamul Aulia’, Khatamul Khulafa’, Imam Zaman, Imam Mahdi Al-Ma’hud, Hakim yang adil, Al-Masih Al-Mauud, nabi buruzi, nabi dengan dekrit Tuhan, Rasul Allah s.a.w., Abdulkadir, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Ya’kub, Ishaq, Daud, Ismail, dan semua nabi. Aku adalah Kreshna, Brahman Avatar, dan aku adalah Kodrat Tuhan yang berjasad.71 Perihal akhlak dan perangainya maka Mirza Ghulam Ahmad adalah: Seekor singa jantan yang tampil ke depan, pemaaf, penutup kekurangan orang lain, pemurah, setia, rendah hati, sabar, syukur, memadakan yang ada, pemalu, tunduk mata, menjaga diri dari segala keburukan, rajin, mencukupkan dengan yang dapat, tidak suka formalitas, sederhana, menyayangi, adab Ilahi, adab Rasul, dan orang-orang suci Agama, pendamai, tidak suka berlebih-lebihan, suka melaksanakan kewajiban, suka memenuhi janji, terampil, bersimpati, suka menyebar agama, mendidik, indah dalam pergaulan, pengamat harta, berwibawa, kesucian, periang, penyimpan rahasia, ghairat, ihsan, pemelihara martabat orang, baik sangka, bersemangat, ulul’azam, penjaga-diri, tenang berpikir, menahan amarah, menahan tangan dan lisan dari perbuatan lancang, berkorban, waktunya selalu penuh, mengatur perkembangan ilmu dan ma’rifat, pencinta Tuhan dan RasulNya, pengikut Rasul yang sempurna, mempunyai daya tarik magnitis, satu daya penarik yang ajaib disegani, berbakat kecintaan, katanya mengesankan, doanya makbul.72

Itulah Mirza Ghulam Ahmad, tidak ada satu kekurangan lagi bukan? Itulah keinginannya dan untuk itulah puteranya maupun pengikut-pengikutnya percaya tanpa reserve. Siapa yang tidak percaya dan tidak mengakui sebagai Imam Zaman dimana tercakup kenabian dan kerasulannya, maka matinya mati jahiliyah of mati kafir.73
 

 

52 Analyst, Facts about Ahmadiyya Movement, 1951, Ahmadiyya Anjuman Islam, Lahore, hal. 28: (I am that Hajar-i-Aswad that has been accepted on this the people and is touched by them for blessing). ^

53 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Khutbat-ul-ilhamiyah, hal. 82. ^

54 lih. Malik Aziz Ahmad Khan, Jasa Imam Mahdi a.s., hal. 139 Isha’at-1­earth by ^

55 lih. The Review of Religions, March 1966, Rabwah, ha1.79: (we find that in the country known as India, a Prophet of God has gone before, in the ages of past, who bore the name “Kreshna,” he was also called Ruvaddar Gowpal (i.e. destroyer, on one side, sustainer and developer, on the other). This name too, has bestowed on me. Since, therefore, the Aryan people, these days, are awaiting the second advent of the Lord Krishna, I am that Krishna. I am not making claim purely on my own behalf; Allah has revealed to me, time and time again, that the Knshna expected to appear  towards the latter days, was none other than my self  King of the Aryans.) ^

56 lih.Basharuddin M.A, Ahmadiyya Movement, hal. 4:(Brahman av-tar sa mo-kwa-bi-la achha na-heen. Aye Krishna dar Go-pal teri meh-ma Geeta men hai. (Thou an the Blessed Krishna, the cherisher of Cows, and thy praise is chanted in the Gita.)  ^

57 lih. Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, ha1.4  ^

58 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 47  ^
59 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s. hal. 47 ^

60 Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 115: (…, he made an announcement that God has bestowed upon him an extraordinary knowledge of and command over, the Arabic language which could not be matched even by those whose mother tongue was Arabic. In persuance of this announcement he wrote and published several books in Arabic and called upon his opponents, including the people of Arabia, Egypt, and Syria, if they doubted his claim, to write books in Arabic, which should, in point of literary style, purity of diction, beauty of composition and the excellence and pregnancy of meaning, match those written by himself, but none has so far dared to take up the challange. The books written by him are still extant, and we still claim that they cannot be matched, and that God’s hand would be raised against any person who presumes to make an attemp to match (them.) ^

6l lih. Bashiruddin M.A., Invitation, Rabwah, Ahmadiyya Muslim Foreign Missions 1961, hal. 97: (Arabs were included in the challenge, one book being specially addressed to Syed Rashid Riza of Al-Manar. The Syed did not accept the challenge.) ^

62 lih. Bashiruddin M.A., Invitation, hal. 97: (When the Ulama had done their worst, God granted him special knowledge of the Arabic language. His vocabulary grew miraculously to 40.000 root-words in a single night.) ^

63 lih. Bashiruddin MA., Invitation, hal. 97. (This miracle of language imitates the miracle of the Holy Quran. It is a sign of the Promissed Messiah’s truth.) ^

64 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istifta’, ha1.77: (wa nu’minu biha kama nu’minu bi kitabillah khaliqil Anaam, wahii hadzihi: bismillahirRahmanirRahim) ^

65 lih. Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 29, serta hampir semua kitab-kitab Ahmadiyah. ^

66 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. dzal dan hal. zai. Juga oleh sdr. Drs Bahrum Rangkuti (sekjen) Departemen Agama pada puisinya yang berjudul “Silaturahmi (II)” pada halal bihalal di-Bali Room dari masyarakat Sumut 29/12/’69, menyebut Isa a.s. sebagai al-Masih al-Israeli. ^

67 M.G.A., Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. muka, perlunya seorang Imam zaman, hal. 32, Tuhfah Bagdad, hal. muka dan lainnya.  ^

68 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-lstifta’, hal. 82: (sammani rabbi ibrahim wa kadzanka sammani bi jama’i asmail-anbiya min adam ila khatimurusl) ^

69 lih. The Review of Religions, Mart 1966, ha1.10: (But, in the heavenly records. Isa, the son of Mary, is not only the name given to me: I have other names as well, twenty six years ago, which Allah made me put down in the pages of Baraheen-i-Ahmadiyya. There is no prophet of God whose name and qualities Allah has not bestowed on me. Therefore, as God has promised in Baraheen-i-Ahmadiyya, I am Adam. I am Noah, I am Abraham, I am Isaac, I am Jacob, I am Ismail, I am Moses, I am David, I am Isa, the son of Mary; and I am Muhammad, in a sense and manner I call burzi.) ^

70 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Thuhfah Bagdad, Rabwah Matba’ah An-Nadrah, 1377, hal 29: (ya Abdulkadir inni ma’aka asman wa araa). ^

71 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-wasiyat-Neraca Trading Company-Jakarta 1949, hal . 12  ^
72 lih Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mauud a s, hal. 85/86 ^

73 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman, hal. 10/32. ^

 

 

 

Posted April 22, 2008 by Saproni M Samin in Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: