MENEBAR RAHMAT MELALUI SYARI’AH   Leave a comment

MENEBAR  RAHMAT   MELALUI   SYARI’AH

Oleh :  Ust. Bukhori Yusuf, Lc. MA *

 

 

PENGANTAR

Pengertian  Rahmat

Kata  الرحمة   berasal dari Al Qur’an. 

     الرحمة   berasal dari kata : رحم    يرحم    رحمة       yang  berarti  :  Maha Kasih. 

   Kata   الرحمة   merupakan nama Allah yang paling dominan dari nama dan sifat-sifat lainnya sehingga dengan Rahmat-Nya kehidupan dapat terwujud, kasih sayang sesama manusia dan sesama makhluq Allah dapat dirasakan, serta tidak mempercepat azab dari berbagai kesalahan manusia juga terdominasi oleh kasih sayang Allah. Hal itulah yang dapat melestarikan kehidupan dan menebarkan kasih sayang. Allah sendiri menegaskan bahwa dirinya adalah Ar Rohman – Ar Rohim ( Maha Pemurah – Maha Penyayang ) bahkan didalam hadits qudsi Allah menegaskan : ” Benar-benar telah mendominasi sifat kasih sayang pada diri-Ku atas sifat kemurkaan ”. Kasih sayang yang demikian itu Allah tebarkan pada seluruh makhluq ciptaan-Nya melalui ajaran agama-Nya. Oleh karenanya ketika Allah mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam, itu artinya Allah menebarkan kasih sayang kepada umat manusia sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Anbiya : 107   yang berbunyi :

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين     الأنبياء : 107

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk ( menjadi ) Rahmat bagi semesta alam ”.

Pengertian Syari’at

Kata  الشريعة   berasal dari Al Qur’an yang diturunkan dalam Bahasa Arab.  Pengertian syari’at secara bahasa, tentunya harus dirujukkan kepada bahasa Al Qur’an dan bukan bahasa lokal, guna menghindari penafsiran yang berbeda-beda.

          الشريعة berasal dari kata :  شرع الشيئ  yang  berarti  “ menjelaskan dan menerangkan ”.

          Secara bahasa ia bermakna :  ألطريقة    yakni :   Jalan yang terang .  1 

      Melaksanakan  Syari’at  berarti  mengikuti  jalan  yang  terang. Menurut Ar Roghib Al Asfahani, ungkapan ini dipinjam untuk menjadi  Thoriqoh Ilahiyah. 2

          Kata   الشريعة   di dalam Al Qur’an disebutkan tidak kurang dari 5 x ( lima kali ) yang digunakan untuk menjelaskan sesuatu atau jalan yang terang menuju sesuatu, seperti dalam surat Asy Syura : 13, Al Maidah : 48, dan Al Jatsiyah : 18.

          Secara penggunaan kata, Syari’at berarti segala peraturan ataupun ketetapan-ketetapan agama dari Allah SWT.( seperti  yang  disebutkan  secara  eksplisit  dalam  surat  Al  Jatsiyah : 18  dan  Asy Syura : 13 )

          Secara terminologi,  الشريعة   memiliki  2 (dua) arti : 

a.     Jalan apapun yang dimudahkan oleh Allah dan kemudian dilalui oleh umat manusia yang akan membawa efek kemaslahatan bagi umat manusia serta kemakmuran negeri.

b.      Apasaja yang ditentukan Allah dalam agamanya dan apa saja yang diprintahkan Allah agar manusia dapat memilih dikarenakan adanya perbedaan syari’at-syari’at agama karena telah terjadi nasikh (penghapusan) atas agama sebelumnya.

          Menurut Asy Syarif Al Jurjani, الشريعة berarti tunduk patuh merealisasikan ubudiyah dalam bentuk melaksanakan seluruh komitmen, menjaga seluruh aturan dan ridho serta sabar terhadap berbagai cobaan.  3

          Menurut  Prof. DR. Yusuf Qordhowi, الشريعة   berarti apasaja ketentuan Allah yang dapat dibuktikan melalui dalil-dalil Al Qur’an maupun sunnah atau juga melalui dalil-dalil ikutan lainnya seperti Ijma’, Qiyas dan lain sebagainya.  4

          Menurut Prof. DR. Bustanul Arifin, SH. الشريعة   adalah metode atau cara menjalankan Ad Diin (agama). Karena  Ad Diin meliputi seluruh aspek kehidupan, maka syari’at sebagai program pelaksanaannya juga meliputi seluruh aspek kehidupan.  5

Dari pengertian ” Syari’ah ” diatas nampak jelas bahwa terminologi syari’at dalam pengertian agama mencakup bukan hanya pada hukum Islam seperti yang banyak difahami orang, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk budaya, sosial, politik, pendidikan dll.

SYARI’AT  DALAM  PENDEKATAN  SOSIAL

Kehidupan sosial umat manusia dimanapun mereka berada pasti akan merujuk pada suatu tatanan kehidupan untuk mengharmoniskan kehidupan itu untuk mendapatkan makna kebahagiaan dan kemakmuran. 

Begitu pula yang terjadi pada umat Islam, mereka akan merujuk kepada tatanan syari’at dalam pola hubungan sosial mereka, baik dengan sesama muslim atau non muslim untuk merealisasikan kemaslahatan bersama.

Inilah makna syari’at dalam kontek sosial, sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullah pada awal kedatangan beliau dimadinah ketika beliau mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, ataupun ketika merealisasikan piagam madinah.

Hal itu sesuai dengan tujuan dan  prinsip dasar dalam pemberlakuan syaria’at Islam yang lima, yaitu prinsip keharusan menjaga agama, akal, jiwa, keturunan dan harta.

Prinsip-prinsip lain yang mendukung makna syari’at dalam kontek sosial antara lain :

1.      Kaidah hukum taklifi itu bukan hanya dua ; halal dan haram, melainkan ada juga yang sunnah, makruh bahkan mubah.

2.      Anjuran untuk terus dapat berijtihad dan mentajdid.

3.      Prinsip tentang kesesuaian syari’at dengan realitas, juga bahwa syari’at itu berdiri atas bangunan kemudahan dan mementingkan pentahapan.

4.      Kaidah tentang ’urf (adat) sebagai rujukan syari’at.

5.      Kaidah tentang mempertimbangkan kedharuratan dan mementingkan kemaslahatan.

6.      Kaidah tentang Syura (bermusyawarah)

7.      Kaidah tentang amr ma’ruf nahyil munkar

8.      Kaidah dalam tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa, dan bukan dalam dosa dan melanggar hukum.

9.      Kaidah  tentang fiqh da’wah.

10.  Kaidah tentang fiqh mu’amalah ( hubungan sosial )

11.  kaidah tentang robbaniyah dan syumuliyah syari’at Islam.

12.  kaidah tentang menegakkan keadilan dan egalitarianisme dihadapan hukum.

Dengan pendekatan sosial ini, syari’at dapat semakin membuktikan makna, bahwa keberadaannya sebagai Rohmatan lil ’alamin ( Al anbiya : 107 ),  bahwa syari’at itu bahkan dapat ”membuat hidup menjadi lebih hidup” (Al anfal : 24, Al Baqoroh : 179), bahwa syari’at merupakan bagian dari kehidupan manusia untuk kemajuan dan kemaslahatan mereka ( Al Jum’ah : 2 ), bahkan syari’at sangat peduli dan bersimpati dengan kemanusiaan (At Taubah : 128).  Sehingga karena sedemikian positifnya syari’at bagi kehidupan sosial manusia, sangat logis bila kemudian Allah meminta keta’atan umat manusia untuk melaksanakan syari’at-Nya (Al ahzab : 36). 

Dengan pendekatan soaial ini, syari’at akan merealisasikan bukan saja kesalehan verbal, formal atau individual melainkan akan memunculkan kesalehan esensial, aksistensial, dan sosial sekaligus. Bahkan kepedulian realisasi tentang masalah sosial oleh Rosulullah SAW dijadikan sebagai tolak ukur adanya kesalehan individual.

Dan dengan pendekatan normatif aplikatif seperti diatas, kita mempunyai pedoman dasar, bahwa syari’at memamg sangat berhubungan dengan faktor sosial budaya, ia berhubungan dengannya dengan sangat erat, bahkan ia proaktif berinteraksi dengan budaya manusia, bahkan ia menciptakan kebudayaan baru diatas bingkai dan landasan syari’at. Sehingga dahulu para ulama memunculkan suatu ungkapan yang sangat berarti : ”Bila disitu ada kemaslahatan, maka disitu pulalah letak syari’at”.

 

KELUASAN DAN KELUESAN SYARI’AH

Lebih dari 13 abad ( abad  6 – 17 M )  Syari’at Islam menjadi rujukan bagi umat manusia diseantero dunia, dan mampu mengatasi persoalan-persoalan yang etrus berkembang dengan solusi-solusi yang bersifat robbani basyari atas dasar keadilan dan kemaslahatan. Hal itu menunjukkan keluasan dan keluesan  syari’ah dalam mengatur dan mengayomi anak manusia sepanjang masa.  Mengapa demikian ?  karena Syari’ah selain menata seluruh aspek kehidupan tetapi juga bertumpu pada landasan yang rasional, fitri, memperhatikan realita, seimbang antara hak dan kewajiban, antara spiritual dan material, antara dunia dan akhirat, menegakkan keadilan, mendahulukan maslahat dan kebaikan serta menolak dan menutup kemungkinan-kemungkinan keburukan.  Nilai-nilai dasar inilah yang mampu mengantarkan Syari’ah sebagai rohmatan lil ‘alamin.

Sekurang-kurangnya ada 5 (lima) perangkat besar yang dapat merepresentasikan keluasan dan keluesan syari’ah :

I.              Luasnya wilayah Ijtihad.

Ketika Al Qur’an dan sunnah tidak mengatur seluruh persoalan kehidupan manusia secara detail, hal itu bukan berarti menunjukkan ketidaklengkapan melainkan merupakan kesengajaan yang Alah berikan kepada hamba-Nya agar berkreasi dan berinovasi (berijtihad) sesuai kaidah-kaidah yang telah ditetapkan sehingga aturan atau hukum yang akan diberlakukan dalam kehidupan lebih mengakomodir kontekstual dan realita. Dengan demikian sang mujtahid telah menetapkan sesuatu yang paling relevan dengan kehidupannya. Karena peristiwa kehidupan selalu dinamis, sedangkan wahyu telah terputus. Disinilah rahasia kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melalui syari’at-Nya. [1] Rosulullah SAW bersabda  “ Sesungguhnya Allah ta’ala telah menetapkan batasan-batasan, maka janganlah kalian menerjangnya,  dan telah mewajibkan berbagai kewajiban maka janganlah kalian menyia-nyiakannya, dan telah mengharamkan hal-hal yang haram, maka janganlah kalian melanggarnya dan membiarkan berbagai hal sebagai bentuk kasih sayang kepada kalian, bukan karena kelupaan dan kealpaan-Nya maka janganlah kalian mencarinya   ( H.R  Ad Daruqutni, Imam Nawawi menyatakan hadits tersebut hasan ).  

Allah SWT  berfirman  didalam surat Al Maidah : 101  yaitu : “ Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya sesuatu yang tidak nampak bagimu sehingga berakibat buruk kepadamu “. Di ayat yang lain Allah Berfirman “ Dan Tidaklah Tuhanmu itu lupa    ( Q.S Maryam : 64 )

Untuk menutupi aspek ini dalam syari’at Islam dikenal beberapa metode Ijtihad :

1.      Qiyas,  yaitu sebuah hukum yang dihasilkan dari proses analogi karena adanya ‘Illah hukum yang sama antara maqis dan maqis ‘alaihi.

2.      Al Istihsan,  yaitu  Pengecualian hukum dari hukum asal yang didukung oleh dalil. Imam Abu Hanifah berkata : “ Sesungguhnya (jika) dalam menetapkan hukum melalui qiyas tidak cocok maka dapat dilakukan dengan cara Istihsan “. 

Sedangkan sumber-sumber Istihsan, dapat berasal dari ‘urf, darurat, maslahat, rof’ul haroj.

3.      Al Istislah, yaitu  yang sering disebut dengan maslahah mursalah yakni suatu kemaslahatan yang tidak didukung oleh dalil secara khusus dan juga tidak dinafikan oleh dalil yang lain, melainkan kemaslahatan tersebut tercakup dalam dalil yang bersifat umum.  Ruang lingkup ini sungguh amat luas terlepas dari prokontra ulama dalam masalah maslahah namun yang perlu digaris bawahi bahwa Syari’at Islam menawarkan keluasan yang akan sejalan dengan dinamika kehidupan sehinga tidak menjadi jumud.

4.       ‘Urf , yaitu suatu kebiasaan yang dilakukan oleh umumnya manusia sehingga menjadi nilai yang dihormati oleh masyarakat tersebut baik itu berupa perkataan atau perbuatan.

II.            Lebih berfokus pada yang bersifat umum

Mayoritas dalil Al Qur’an dan sunnah jika diteliti lebih mendalam, maka kita dapati lebih menitik beratkan kepada hal-hal yang bersifat umum, misalnya Al Qur’an yang terdiri dari 6000-an ayat, maka yang terkategori sebagai ayat hukum (baca:bersifat detail) 300-an ayat. Hadits Nabi yang telah terkodifikasi oleh muhadditsin lebih dari puluhan ribu hadits, namun yang termasuk dalam kategori hadits hukum +  2000-an. Sekali lagi hal itu menunjukkan keluasan wilayah syari’ah yang sengaja ditinggalkan untuk para Mujtahid guna lebih merealisasi kasih sayang dan rahmat syari’ah ini bagi seluruh alam.

III.                Menerima perbedaan

Tidak semua nash Qur’an hanya dapat difahami dari satu sudut pandang, namun banyak sekali yang dapat difahami secara ganda, hal itu menunjukkan bahwa syari’at Islam sangat memahami adanya keragaman. Seperti kalimat Qur-un yang berarti suci atau haidh contoh lain seperti penentuan harga dalam bahan pokok oleh pemerintah ketika harga-harga bahan pokok di Madinah mengalami kenaikan yang tidak terjangkau, maka para sahabat meminta agar Nabi melakukan intervensi, tetapi Nabi mengatakan “ Sesungguhnya Allah-lah yang menggenggam, yang melepaskan, yang memberi rizki, yang menentukan harga dan sesungguhnya aku mengharap jika aku bertemu dengan-Nya  tidak seorangpun yang menuntutku  dengan sebuah kedzoliman baik berupa darah maupun harta “ ( H.R Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah )  Hadits itu difahami oleh sebagian ulama tentang larangan intervensi penentuan harga pasar dan sebagian lain memandang tetap dibolehkan karena semangat hadits tersebut adalah menghindarkan kedzaliman, sedangkan permainan harga akibat monopoli atau kebijakan yang salah dan lainnya maka hal itu sudah tergolong suatu kedzaliman. Sehingga golongan ulama yang memandang dari sudut pandang ini tetap membenarkan intervensi penguasa bila dalam rangka memperkecil mudharat dan mencapai maslahat.

IV.               Memperhatikan aspek darurat dan situasional

Allah SWT berfirman : “ Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami yang memberatkan seperti Engkau telah membebankan kepada orang-orang sebelum kami “ ( Q.S Al Baqoroh : 286 ) [2]. 

Perinsip besar ini dapat menurunkan kaidah-kaidah turunan yang dapat menjadikan syari’at Islam menjadi sangat luwes, yaitu :

1.  Al Masyaqqoh Tajlibu Taisir   kesusahan itu dapat menarik kemudahan.

2. Adh Dhorurotu Tubikhu Al Mahdhurot  darurat itu dapat membolehkan hal-hal yang dilarang.

3.  Kondisi terpaksa .

     Situasi seseorang yang memaksa, dapat dibenarkan melakukan hal-hal yang dilarang  oleh syari’at sekalipun, sepanjang memenuhi ketentuan-ketentuan dalam hukum Islam.

4.  Situasi tidak mampu dan lemah.

5.      Darurat yang bersifat jama’ah

 

V.                 Fatwa dapat berubah.

Fatwa dalam syari’at Islam memiliki kedudukan yang amat tinggi karena ketetapan – ketetapn fatwa akan mengikat kepada yang meminta fatwa atau masyarakat secara keselurhan.  Munculnya fatwa sebagai upaya antisipatif syari’at Islam dalam menjelaskan kedudukan masalah kepada umat yang belum dipandang gamblang atau hal-hal yang tidak diatur secara terperinci oleh Al Qur’an dan Sunnah sehingga fatwa merupakan khazanah intelektual Islam dalam bidang hukum.  Lebih menjadi sangat strategis karena sifatnya yang akomodatif terhadap perubahan yang berkembang. Oleh karena itu fatwa pada dasarnya dapat berubah sesuai dengan perubahan waktu, tempat, situasi dan ‘urf .

Ketentuan ini dalam hukum Islam bukanlah merupakan sesuatu yang baru, misalnya dalam Al Qur’an dikenal dengan Nasikh Mansukh, ayat makiyyah dan madaniyyah, dalam sejarah perjuangan Nabi dikenal sebelum dan sesudah hijrah, bahkan Imam  Syafi’i sangat dikenal dengan qoulun qodim dan qoulun jadid .  

Imam  Ibnul Qoyyim mengatakan : “ Sesungguhnya fatwa berubah dan berbeda-beda sesuai dengan perubahan masa, tempat, situasi, tradisi dan niat “. 

 

KESIMPULAN

  1. Sesungguhnya Syari’at Islam seluruh aspeknya mengandung maslahat untuk kehidupan manusia dalam berbangsa, beragama dan bernegara.
  2. Karena syari’at Islam diturunkan dari yang maha kasih dan sayang  ( Ar Rohman-Ar Rohim) maka sudah barang tentu seluruh nilai-nilainya menebar kasih sayang dan rahmat bagi seluruh alam.
  3. Dalam syari’at Islam mengandung peran manusia yang cukup besar, maka sepanjang peran tersebut sesuai dengan kaidah-kaidah yang ditentukan oleh Allah SWT, maka hal itu tetap diakui oleh Allah SWT sebagai kontribusi positif dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari syari’at yang bersifat suci dan jauh dari kesalahan. Karenanya Rosululah bersabda : “ Seorang Mujtahid yang telah mengerahkan seluruh potensinya (sesuai dengan kaidah syari’ah) jika benar maka ia mendapat dua kebaikan dari Allah dan jika salah ia telah mendapatkan suatu kebaikan “.           

 

 

Wallahu ‘alam bishowab.   

 

 

 

 

 

 

 

 

*  Sekretaris Umum  Dewan Syari’ah Pusat Partai Keadilan Sejahtera

     Direktur  Sharia Consulting Center ( SCC ),  Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

1 Al Mu’jam Al Wasith  I / 479.

2 Al Mufrodat fi Ghorib Al Qur’an, Ar Roghib Al Asfahani, hlm. 258.

3 At Ta’rifat Asy Syarif Ali bin Muhammad Al jurjani, hlm 127 & 146

4 Madkhol Lid Dirosat Asy Syari’ah Al Islamiyyah, Prof. DR. Yusuf Al Qordhowi, hlm 21

5 Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia, Prof. DR. Bustanul Arifin, SH, hlm 24

 

[1] 1 Lihat Ibnu Rusydi, Bidayah Mujtahid ( Muqoddimah ).

 

[2] Lihat pula surat al ‘arof : 157, al baqoroh : 185, an nisa : 28 dan al maidah : 6

Posted April 17, 2008 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: