Empat Masalah & Solusinya   Leave a comment

١/ إذا ابتُليت بالشهوات فراجع حفاظك على الصلوات
1.Jika kita diuji dengan syahwat & hawa nafsu, periksalah sholat Kita.

Qs. Maryam: 59

ﻓَﺨَﻠَﻒَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْ ﺧَﻠْﻒٌ ﺃَﺿَﺎﻋُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ۖ ﻓَﺴَﻮْﻑَ ﻳَﻠْﻘَﻮْﻥَ ﻏَﻴًّﺎ
“Maka datang sesudah mereka suatu keturunan yg mereka telah melalaikan sholat & memperturutkan syahwat hawa nafsunya”
٢/ إذا أحسست بالقسوة وسوء الخلق والشقاء وعدم التوفيق
فراجع علاقتك وبرك بأمك
2.Jika kita merasa keras hati, berperangai akhlak buruk, sial sengsara & tdk ada kemudahan,
periksalah hubunganmu dng ibumu & baktimu kepadanya

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيا
“& (Dia jadikan aku) berbakti kpd ibuku, & Dia tdk menjadikan aku seorang yg sombong lagi celaka"
(QS. Maryam: 32)
٣/ إذا شعرت بالإكتئاب والضيق والضنك في العيش
فراجع علاقتك بالقرآن
3.Jika kita merasa depresi, tertekan & kesempitan dlm hidup, periksalah interaksimu dng al-Qur’an.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكا
”& barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (al-Qur’an- berdzikir), maka sesungguhnya baginya penghidupan yg sempit" (QS. Thaha: 124
٤/ إذا أحسست بعدم الثبات على الحق والإضطراب
فراجع تنفيذك وفعلك لما تسمعه من المواعظ
4.Jika kita merasa kurang tegar & teguh di atas kebenaran & gangguan kegelisahan,
Maka periksalah bagaimana pelaksanaanmu thd nasehat & mauidzah yg engkau dengar.
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً
“Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yg diberikan kpd mereka, tentulah hal yg demikian itu lebih baik bagi mereka & lebih meneguhkan (iman mereka)” (QS. anNisa: 66)

Posted Agustus 24, 2016 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

The Secret of Mother   Leave a comment

*WARISAN IBU*

“`Teori terdahulu menyebutkan karakteristik dan sifat-sifat bawaan seorang anak diwariskan dari ibu dan bapaknya dalam proporsi 50 : 50. Artinya, ayah dan ibu memberikan sumbangan yang sebanding dan setara dalam diri seorang anak.

Akan tetapi, penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75% unsur genetikanya kepada anak, sedangkan bapak hanya 25%. Oleh karena itu, sifat baik, kecerdasan, dan kesalihan seorang anak sangat ditentukan oleh sifat baik, kecerdasan dan kesalihan ibunya.

Apa yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW, ternyata memiliki kesesuaian dengan fakta ini.

Ketika seorang Sahabat bertanya kepada Baginda Nabi, mana yang harus diprioritaskan seorang anak, apakah ibunya atau ayahnya, beliau pun menjawab, _“Ibumu, ibumu, ibumu…lalu Ayah mu”_ Proporsinya tiga berbanding satu (3:1).

Mari kita lihat lebih jauh. Di dalam sel-sel manusia terdapat sebuah _organel_ yang memiliki fungsi sangat strategis, namanya _mitokondria_.

Organel berbentuk bulat lonjong ini berongga. Selaputnya terdiri atas dua lapis _membran_. Membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks) dan mengandung banyak enzim pernapasan.

Tugas utama _mitokondria_ adalah memproduksi bahan kimia tubuh bernama *ATP* _(adenosin triphosphat)_. Energi yang dihasilkan dari reaksi ATP inilah yang kemudian menjadi sumber energi bagi manusia.

Mitokondria bersifat semiotonom karena 40% kebutuhan protein dan enzim dihasilkan sendiri oleh gen-nya.

Mitokondria adalah salah satu bagian sel yang memiliki *DNA* _(deoxyribonucleic acid)_ sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel.

Sekali lagi, dan ini sangat menarik, mitokondria hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh bapak. Mengapa? Karena mitokondria berasal dari sel telur, bukan dari sel sperma. Itulah sebabnya, investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75%.

Kita dapat berkata, inilah _“organel cinta”_ seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah Swt dan kesemestaan.

Tanpa kehadiran mitokondria, hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat.

Tanpa mitokondria, kita tidak dapat melihat, mendengar, sehingga akhirnya tidak dapat membaca, mencerna dan merasa.

Oleh karena itu, jangan heran jika kontak batin antara ibu dan anaknya sangat kuat dan intens. Jarak sejauh apapun tidak bisa menghalangi sensitivitas hati seorang ibu.

Hal ini memperlihatkan adanya energi cinta yang menembus dimensi. Teori _superstring_ yang kita ambil dari ilmu fisika dapat sedikit memperjelas hal ini. Para ilmuwan di MIT, yang tergabung dalam kelompok 18, menemukan sebuah _supersimetri_, yaitu sebuah persamaan matematika yang menciptakan ruang di alam semesta terdiri atas 57 bentuk dalam 248 dimensi. Konsep supersimetri menyebutkan, andai dunia ini dibagi-bagi menjadi bentuk apapun, sebenarnya hanya ada satu titik yang melingkupinya.

Artinya, ilmu pengetahuan menemukan bahwa jarak itu tidak dapat membatasi jiwa dan ruh yang bersemayam dalam satu titik yang sama.

Jika kita menggunakan konsep ini, dimana pun berada, hati seorang ibu selalu berada di titik yang sama.

Itulah sebabnya, apa yang dirasakan anak dan apa yang dirasakan ibu, bioelektriknya berada pada titik yang sama.

Mitokondria-nya berada dalam posisi yang sama sehingga titik pertemuannya pun sama. Dengan kata lain, perasaan seorang ibu kepada anaknya bagaikan perasaan dia terhadap dirinya sendiri. “`
*الله أكبر!*
*Allahu Akbar!*

Posted Juli 26, 2016 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Erdogan dan Kudeta   Leave a comment

Erdogan dan Kudeta http://www.dakwatuna.com/2016/07/18/81645/erdogan-dan-kudeta/

Posted Juli 18, 2016 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Tarbiyah Ruhiyyah   Leave a comment

Ust Anis Matta

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ikhwah sekalian, pada tahun ke-4 kenabian saat beberapa sahabat Rasulullah SAW dalam suasana “bercanda” sesama mereka, turun ayat yang menegur mereka:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (١٦)

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al-Hadid: 26).

Ini adalah peringatan dini kepada para sahabat yang baru 4 tahun berIslam, karena memang generasi yang akan dibentuk adalah pondasi dari seluruh bangunan Islam yang kita nikmati sampai hari ini, juga adalah generasi yang kuat dari seluruh aspeknya. Ciri utama generasi ini yang menggabungkan kekuatan fisik, kekuatan ruh/iman dan dan pikiran adalah focus yang sangat tajam pada orientasi/tujuan, dan itulah makna khusyu’ yang sebenarnya. Kalau kita melihat ayat yang menegur para sahabat yang dalam suasana bercanda itu menunjukkan bahwa Allah swt ingin agar “sifat kelemahan” ini tidak ada pada generasi yg akan menjadi pondasi bangunan dakwah ini. Belumkah dating saatnya..

Jadi yang dimaksud khusyu’ adalah:

الخُشُوعُ : اَلاِتِّصَالُ الدَّائِمُ بِاللهِ الَّذِي هُوَ غَايَتُنَا (الِاتِّصَالُ الدَّائِمُ بِالْهَدَفِ)

Ketersambungan yang terus-menerus dg Allah swt yang menjadi tujuan kita.

Jadi ada semacam “sense of direction” (perasaan terarah yang terus menerus disertai dg ketekunan, kesungguhan untuk menjadi semua proses mencapai tujuan. Jadi khusyu’ tidak ditandai dengan tampilan yang menunjukkan kita adalah orang yang terus menerus “menunduk”, tetapi ia adalah ingatan yang terus menerus kepada Allah ta’ala, kepada akhirat, kepada tujuan akhir yang membuat kita terus menerus mendapat energy untuk bekerja tanpa henti.

Jadi ia hanya ada dalam dua warna hidup: ibadah dan perang. Dua hal ini yang memang dihindari oleh tabiat manusia, kita tidak ingin memikul beban dan tidak ingin melawan musuh. Karena pola hidup seperti ini berat, maka kita diajarkan doa dalam al-ma’tsurat:

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن ، وأعوذ بك من العجز والكسل ، وأعوذ بك من الجبن والبخل ، وأعوذ بك من غلبة الدين وقهر الرجال

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang dan dominasi kesewenangan orang-orang.

Antum perhatikan urutan doa ini: al-hammu wal hazan itu di dalam hati, inilah racun yang menjadi sumber kerapuhan ruhiyah kita. Nanti penampakkan karakternya pada diri kita ada pada ajz (kelemahan) dan kasal (kemalasan) berhubungan dengan internal individu. Perhatikan selanjutnya al-jubn (sifat penakut) dan al-bukhl (bakhil): ini adalah karakter yang berkaitan dg hubungan social kita, takut menghadapi musuh dan tidak mau berkorban. Jika racun dalam hati itu ada berupa al-hamm wal hazan, dan tampak dalam diri berupa al-‘ajz wal kasal, lalu tampak dalam karakter yang berhubungan dengan relasi social kita yaitu al-jubn wal bukhl, maka penampakan social politik kita secara keseluruhan adalah ghalabatid dayn wa qahrir rijal yaitu ketergantungan ekonomi dan ketergantungan politik, gampang diintimidasi oleh orang lain, tergantung secara finansial kepada orang lain dan gampang diintimidasi. Itulah penampakan umumnya yang berasal dari hati berupa al-hammu wal hazan.
Sekarang insya Allah kita sudah memiliki gambaran tentang pemaknaan tarbiyah ruhiyyah dalam kehidupan jamaah kita. Ikhwah sekalian, setelah kita memasuki dunia politik maka sisi iman berupa sense of war dan energy melawan itu mengambil bentuk dan porsi yang sangat besar. Sisi ini belum kita

rasakan betul saat kita masih berada di periode awal dakwah kita. Dan ini yang telah saya jelaskan saat di Makassar tentang makna politik pada sisi prosesnya.

Kalau kita mencoba mengambil intisari dari seluruh konsep, mafahim, manahij, dan juga wasail tarbiyah ruhiyyah yg begitu banyak, kira-kira kita bisa menyimpulkan bahwa factor penguat ruhiyyah dibentuk oleh dua hal:
1- الْمَفَاهِيْمُ الرُّوْحِيَّةُ
2- الأَعْمَالُ التَّعَبُّدِيَّةُ

Pemahaman ruhiyyah dan amalan-amalan ta’abbudiyyah.

Jadi kekuatan ruhiyyah itu dibentuk oleh pemahaman-pemahaman ruhiyyah kita di satu sisi dan di sisi lain oleh amalan-amalan.

Mafahim Ruhiyyah

Jika kita berbicara ttg mafahim ruhiyyah secara sederhana adalah seperti yang disimpulkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-waabil As-Shayyib: bahwa seluruh perjalanan hidup kita sebagai mu’min akan menjadi sempurna ketika kita ada dalam dua kaca mata yang berimbang:

مُشَاهَدَةُ الْمِنَّةِ وَ الاِعْتِرَافُ بِالْقُصُوْرِ

Mempersaksikan semua karunia yang diberikan oleh Allah swt di satu sisi dan di sisi lain adalah pengakuan atas kelalaian-kelalaian kita. Antara apa yg kita persembahkan kepada Allah dengan apa yang diberikan ALLah itu tidak pernah imbang. Kita menerima karunia Allah jauh lebih banyak dari amal yang kita persembahkan kepada Allah swt. Situasi inilah yang membuat kita berada diantara al-khauf wa ar-raja (takut dan berharap), kesadaran yang berkesinambungan bahwa apa yang kita berikan tidak akan pernah bisa mencukupi atau mengimbangi karunia Allah swt.

A’mal Ta’abbudiyyah

Di dalam kesadaran seperti itulah ikhwah sekalian saya ingin mengambil intisari dari wasail/a’mal tarbiyah ruhiyyah itu yaitu focus pada tiga hal yang paling kuat yaitu tilawatul quran, shalat, dan dzikir
1. Tilawatul Qur’an

Ada dua bentuk tilawah:

التِّلاَوَةُ التَّعَبُّدِيَّةُ وَ التِّلاَوَةُ التَّأَمُّلِيَّةُ

Tilawah ta’abbudiyyah (tilawah ritual ibadah) dan tilawah ta-ammuliyyah (tilawah perenungan).

Tilawah ta’abbudiyyah diwajibkan kepada setiap kader 1 juz setiap hari. Saya ingin menjelaskan sedikit secara amaliyah/praktek: kadang-kadang karena kesibukan implementasi tilawah dalam mutabaah di liqa tarbawi kita tidak sempurna, saya kira kita mengalaminya. Saya ingin memperkenalkan istilah nizham al-qadha (system qadha/ganti): kalau tilawah ta’abbudiyyah kita tidak beraturan, tidak bisa 1 juz setiap hari, kita mesti menyediakan waktu sekali dalam seminggu untuk meng-qadha semua kekurangan tilawah pada pekan itu. Atau karena kesibukan yang sangat padat bisa jadi kita meng-qadha utk sebulan, jadi dalam satu tahun kita tetap minimal mengkhatamkan 12 kali. Dan sebaiknya kalau ada hutang tilawah tidak diganti dengan infaq, tetapi diqadha dengan amal yang sama di waktu senggang yang kita sediakan. Ini solusi supaya kita selalu berada dalam kesinambungan.

Yang kedua, sudah saatnya kita memperbanyak waktu utk tilawah ta-ammuliyyah dengan melakukan pendekatan berbasis tematik, kita mulai membaca quran dengan pendekatan ta-ammul (perenungan mendalam), dan mencoba melakukan istilham (mencari ilham/inspirasi) dari AL-Quran ini. Kita mencoba berimajinasi seperti dahulu Muhammad Iqbal melakukannya, dan juga dalam sejarah Imam Syahid sendiri. Waktu beliau membaca Al-Quran, orang tuanya bertanya: “Apa yang kamu baca?” Saya sedang membaca Al-Quran. Lalu orang tuanya mengatakan: “Bacalah Al-Quran itu seolah-olah ia diturunkan kepadamu.” Karena Al-Quran ini diturunkan pada fase yang lama, tidak sekaligus, oleh karena itu unsur momentum menjadi penting dalam memahaminya. Dan momentum-momentum itu diciptakan oleh Allah berulang dalam kehidupan manusia sehingga kemungkinan kita melakukan qiyas (analogi) kepada momentum-momentum itu sangat banyak walaupun tidak persis sama kejadiannya, tetapi kita tetap bisa mendapatkan ilham dari situ, karena Al-Quran dating dengan kaidah-kaidah umum dan tidak tergantung kepada kehususan sebab peristiwa turunnya. Kaidahnya adalah

الْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

Ibrah dari ayat itu adalah dengan keumuman lafaznya (teksnya) dan bukan dengan kekhususan seb

ab turunnya.

Konteks turunnya penting memberikan kita ilham untuk menemukan kesamaan, tetapi ibrahnya tetap saja berlaku umum. Surat-surat Al-Quran itu memiliki kedekatan-kedekatan antara satu dengan lainnya. Seperti surat Al-Anfal, At-Taubah, Muhammad dan Al-Fath adalah surat-surat jihad dari sisi tema suratnya.

Contoh lain: ketika kita melihat kata al-makr (makar) di dalam Al-Quran, maka ayat-ayatnya menjelaskan bagaimana konstruksi konseptual dari makar itu dalam tinjauan Al-Quran. Salah satu yang menarik bahwa semua makar yang disebutkan dalam Al-Quran selalu dihubungkan dengan sifat Allah yang terkait dengan Al-qudrah (kemahakuasaan Allah) dan selalu diletakkan dalam konteks al-qadha wal qadar, supaya kita membaca tentang makar manusia sehebat apapun, tetapi kendali alam semesta ini tetaplah dalam kekuasaan Allah swt seperti ayat yang dibacakan tadi oleh “Hafizh” anak salah seorang ikhwah yg sudah hafal 30 juz:

وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لا يُعْجِزُونَ (٥٩)

Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah).

Begitu juga ayat-ayat yang terkait dengan fakta-fakta alam raya, seperti angin yang dijelaskan sebagai salah satu tentara Allah swt, oleh karena itu sains tidak pernah punya ilmu pasti tentang arah angin, tetapi selalu perkiraan, karena Allah lah yang yusharrifuhu (mengarahkannya) sekehendak-Nya . Bahwa setiap benda ada malaikat yang mengurusnya, waktu kita naik pesawat melalui turbulence, ada malaikat yang khusus mengatur akan dibawa kemana angin itu.

Pembacaan dan perenungan seperti ini akan meningkatkan penghayatan kita dan dengan sendirinya akan memberikan kepada kita pencerahan ruhiyyah, terutama saat kita menghadapi begitu banyak syubuhat (hal-hal yang kabur), atau berhadapan dengan keadaan kritis. Efek dari penghayatan itu akan muncul di saat-saat seperti itu. Dialah yang memberikan kita kepastian, dialah yang juga memberikan kita keteguhan.
Saya kira kita memang memiliki masalah bahasa untuk melakukan tilawah ta-ammuliyyah bagi ikhwah/akhawat yang tidak berbahasa arab. Disamping fakta ini harus disesali (krn dia bahasa ahlul jannah) juga kita harus mengurangi penyesalan ini dengan rajin membaca kitab tafsir yang Alhamdulillah beberapa referensi utamanya sdh diterjemahkan. Kita bersyukur karena gerakan terjemah selama 20 tahun ini luar biasa kemajuannya.
2. Shalat

Shalat adalah imaduddin atau tulang punggung dari tadayyun (religiusitas) kita. Saya ingin menjelaskan sedikit hal-hal yang aplikatif. Kira-kira jumlah rakaat shalat wajib dan sunnah yang kita lakukan sehari berjumlah 42 rakaat: 17 rakaat shalat 5 waktu, 10 rakaat sunnah rawatib (2 sebelum zhuhur, 2 sesudah zhuhur, 2 sesudah isya dan 2 sebelum subuh), 4 rakaat dhuha, 11 rakaat QL.

Yang faraidh (wajib) kita harus berusaha melaksanakannya dalam keadaan berjamaah di masjid atau di kantor atau di perjalanan, agar kita mendapat penggandaan pahala dan keutamaannya. Lalu berusaha menjaga 10 rakaat yang rawatib tadi dan selalu kita menjadikannya sebagai standar. Shalat dhuha saya kira tidak terlalu sulit bagi kita melakukannya karena masih segar di pagi hari.

Tentang QL: kita hidup di era yang tidak terlalu normal, sebagian waktu kita ditentukan oleh orang lain sehingga kita tidak bisa tidur seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah saw di awal malam. Faktor-faktor yang membuat kita bisa tahajjud seperti yang disebutkan oleh Imam Ghazali dalam Al-Ihya seperti qailulah misalnya hampir kita tidak bisa melaksanakannya. Juga kemacetan di kota dll. Ada anjuran yang baik dari ust Salim bahwa witir yang biasa kita lakukan tiga rakaat langsung saja kita laksanakan 11 rakaat. Sehingga kita bisa menggenapkan 42 rakaat dalam sehari.

Ikhwah sekalian sebenarnya yang penting dari ibadah-ibadah ini adalah al-muwazhabah (kesinambungan). Misalnya jika kita belum kuat shalat qiyam dengan waktu dan bacaan yang lama, lakukanlah terus menerus meski dengan surat-surat pendek, terus menerus. Nanti secara perlahan-lahan kita pasti a

k
an menemukan kekuatan-kekuatan baru sambil jalan untuk melakukannya lebih lama. Kalau kita tidak bisa melakukan 11 rakaat, witirnya kita tambah dari 3 menjadi 5 rakaat, naik menjadi 7 dan seterusnya. Sekali lagi yang penting adalah kesinambungan. Insya Allah kalau kita melaksanakan tilawah dan shalat secara berkesinambungan seperti ini kita akan mempunyai tingkat stabilitas ruhiyyah yang bagus.
3. Dzikir (muthlaq)

Yang saya maksudkan adalah dzikir mutlak, kalau wazhifah kubra/ al-ma’tsurat saya piker antum semua sudah tahu. Imam Syahid berijtihad mengumpulkan doa-doa yang bertebaran dari sekian banyak hadits dikumpulkan jadi satu dan dianjurkan untuk dibaca pagi dan petang.

Seandainya karena kesibukan dan lain-lain kita tidak sempat melakukannya, secara umum penggantinya adalah dzikir mutlak ini, misalnya istighfar yang kit abaca seratus kali atau seribu kali, la ilaha illallah seratus atau seribu kali. Dzikir mutlak ini yang kita perbanyak sehingga ini yang mengimbangi wirid-wirid yang kita baca dalam sehari.

Sebenarnya dzikir ini adalah tools untuk menjaga ingatan kita kepada tujuan akhir.

Inilah 3 wasail utama tarbiyah ruhiyyah, mudah-mudahan memberikan kita energi untuk memikul beban dan energi utk melawan musuh insya Allah.

Rata-rata kita sudah terlibat dalam tarbiyah 15 atau 20 tahun, dan dari sisi umur rata-rata kita yg hadir ini juga tidak bisa disebut muda lagi. Kalau kita melihat bahwa umur ummat Rasulullah saw itu antara 60 sd 70 th, maka kita sudah memasuki sepertiga terakhir. Kalau kita melihat hal ini dan lingkungan hidup seperti sekarang ini, hampir bisa dipastikan bahwa kita tidak bisa melakukan amal-amal besar kecuali satu atau dua saja. Umur 0-20 manusia paling kuat perkembangannya pada aspek fisik, mencapai puncaknya di usia 20-an, 20-an sd 40 adalah puncak pencapaian intelektual, 40 – 60 adalah sisi ruhiyahnya. Persimpangan 40-an ini ketika fisik kita masih kuat, intelektualitas mencapai puncaknya, kita sedang memasuki fase spiritual yang kuat. Biasanya ini disebut sebagai tahun-tahun kematangan sekaligus fase terakhir dari hidup kita. Jadi kita kalau kita menggeluti sesuatu seperti tarbiyah ini dari usia 20-an sampai usia 40-an, maka fase 40-an ini adalah “golden age” dari seluruh pencapaian hidup kita semuanya. Kira-kira seperti firman Allah swt:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (٢٢)

Dan tatkala dia (Nabi Yusuf) cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Oleh karena itu kita berharap di dalam fase hidup ini kita bisa melakukan sesuatu yang besar atau saya sering mengistilahkan dengan amal unggulan yang kita harapkan bisa mengantarkan kita ke surga. Penting agar ini menjadi kesadaran individual kita semua bahwa kita sedang memasuki sepertiga terakhir dari perjalanan hidup kita dan mesti ada pencapaian yang benar-benar besar sekali lagi yang bisa mengantarkan kita ke surga. Semoga bermanfaat.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Posted Juli 13, 2016 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

ADAB SEBELUM ILMU   Leave a comment

Berikut ini postingan *Fahrudin Furqon di KF Guru.* Cukup panjang. Semoga bermanfaat ..

Mohon maaf cuma copas…

Tulisan ini insya Allah bermanfaat sekali bagi pribadi yg membacanya dan lembaga pendidikan sekolah terutama

*APAKAH SEKOLAH KITA SUDAH "BERADAB"?*
(Irfan Amalee)

Setahun terakhir ini saya terlibat membantu program _Teaching Respect for All UNESCO_. Saya juga membantu sejumlah sekolah agar menjadi sekolah _welas asih_ (compassionate school). Dua hal di atas membawa saya bertemu dengan sejumlah sekolah, pendidik, hingga aktivis revolusioner dalam menciptakan pendidikan alternatif. Di benak saya ada satu pertanyaan: sudah se- "compassionate" apa sekolah kita? Sejauh mana sekolah menumbuhkan sikap _respect_ pada siswa dan guru, serta semua unsur di lingkungan sekolah? Karena _compassion_ (welas asih) dan _respect_ (sikap hormat dan empathy) adalah bagian dari _adab_ (akhlak) maka pertanyaannya bisa sedikit diubah dan terdengar kasar: *sudah seber-adab apakah sekolah kita?*

Rekan saya melakukan sebuah experimen yang menarik. Dia berkunjung ke *SD Ciputra*, sekolah milik peniputra yang menekankan pada *karakter*, *leadership* dan *entrepreneurship* serta memberi penghargaan pada *keragaman agama dan budaya*. Pada kunjungan pertama rekan saya itu datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi. Di depan gerbang Pak Satpam langsung menyambut hangat, "Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Rekan saya menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata, "Baik, saya akan telepon Pak Kepala Sekolah untuk memastikan apakah bisa ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?" Pelayanan yang begitu mengesankan!

Di waktu lain, rekan saya datang lagi, dengan penampilan yang berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas memberikan sambutan yang tak beda dengan sebelumnya, diperlihakan duduk dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang Kepala Sekolah, Satpam mengantarkan sambil terus bercerita, menjelaskan tentang sekolah, bangunan, serta cerita lain seolah dia adalah seorang _tour guide_ yang betul menguasai medan. Bertemu dengan Kepala Sekolah tak ada birokrasi rumit dan penuh suasana kehangatan. Padahal rekan saya itu bukan siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya. Melatih Satpam menjadi sigap dan waspada adalah hal biasa. Tetapi menciptakan Satpam dengan perangai mengesankan pastilah bukan kerja semalaman. Pastilah sekolah ini punya komitmen besar untuk menerapkan *karakter luhur* bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita bisa merasakannya. Itulah _hidden curriculum, culture_.

Di kesempatan lain, saya bersama rekan saya itu berkunjung ke sebuah sekolah Islam yang lumayan elit di sebuah kota besar (saya tidak akan sebut namanya). Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan, *"The most innovative and creative elementary school"* sebuah penghargaan dari media-media nasional. Dinding-dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan piala-piala. "Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa," gumam saya. Kami berjalan menuju gerbang sekolah menemui Satpam yang bertugas. Setelah kami mengutarakan tujuan kami ketemu Kepala Sekolah, Satpam itu dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya mengatakan satu kalimat, _"Lewat sana"_. Kami masuk ke sekolah tersebut. Di tangga menuju ruangan Kepala Sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi _front office_ menghadang kami dengan pertanyaan, _"Mau kemana?"_ dengan wajah tanpa senyum. Saat tiba di ruangan Kepala Sekolah, kebetulan saat itu mereka sedang rapat. Sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kami duduk, berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada ada yang menghampiri dan bertanya, _"Ada yang bisa saya bantu?"_ Akhirnya Kepala Sekolah mempersilakan kami untuk masuk ke ruangannya. Baru ngobrol sebentar, tiba- tiba seseorang di luar membuka pintu dan memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada Kepala Sekolah yang tengah mengobrol dengan kami. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru masuk lagi langsung minta tanda-tangan tanpa peduli bahwa kami sedang mengobrol. Karena kesal, akhirnya Kepala Sekolah itu mengunci pintu agar tak ada orang masuk. Dalam obrolan, saya sempat bertanya, _"Apa kelebihan sekolah ini?"_ Kepala Sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa menit sampai akhirnya menjawab, _"Ini seperti toko serba ada, semua ada"_. Dari jawaban itu saya baru faham, pantas saja Satpam sekolah ini tak punya _sense of excellent service_, Kepala Sekolahnya saja tak bisa menjelaskan apa _value preposition_ sekolahnya. Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih, rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yang membuat kita terkesan, melainkan atmosfir sekolah, _hidden curriculum, culture_.

Perjalanan kami lanjutkan ke sekolah Islam di tengah kampung. Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan STM, tetapi mengabdikan separuh hidupnya untuk merumuskan dan menerapkan konsep *sekolah kreatif yang dapat memanusiakan manusia*. Saat ditanya tentang sekolahnya, dengan lancar dia menjelaskan konsep sekolah kreatif yang memberikan kertas besar pada *kreativitas anak dan guru*. Ruang kelas dibuat tanpa daun pintu. Hanya lubang- lubang besar berbentuk kotak, lingkaran, bulan sabit, bintang. Sehingga ketika guru tidak menarik, siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah dan buku pelajaran. Kami duduk di pelataran sekolah sambil menyaksikan keceriaan anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, _"Ada yang bisa saya bantu?"_. Saya menangkap semangat melayani para guru tersebut. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan baik. Saat mengamati anak-anak bermain, saya melihat ada seorang anak yang jatuh dan menangis. Saya menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi tebakan saya salah. Ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Saya cukup terkesan. Di sekolah yang sederhana ini saya menangkap aura kebahagiaan dari siswa dan guru-gurunya. Saya tak perlu tahu kurikulum dan sistemnya, saya sudah bisa merasakannya. *Konsep* dan *Visi* pendirinya, ternyata bukan hanya di kertas. Saya bisa melihat dalam praktik. Itulah _hidden curriculum, culture_.

Pada kesempatan lain rekan saya pernah juga terkesan oleh siswa sekolah internasional yang kebanyakan siswanya berkebangsaan Jepang. Saat itu rekan saya akan mengisi acara di depan siswa pukul 10 pagi. Setengah sepuluh aula masih kosong. Tak ada orang, tak ada kursi. Lima belas menit sebelum acara para siswa datang, mengambil kursi lipat dan meletakkannya dalam posisi barisan yang rapi. Seusai acara, setiap siswa kembali melipat kursi dan meletakkannya di tempat penyimpanan, hingga ruangan kembali kosong dan bersih seperti semula. Itulah _culture_.

Dari cerita di atas, saya semakin tidak tertarik pada prestasi apa yang diraih sekolah, semegah apa sebuah sekolah. Saya lebih tertarik bagaimana *budaya sekolah* dibangun dan diterapkan? Banyak sekolah yang menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi berharga dengan *karakter* dan *budi pekerti*. Banyak guru dan pelatih didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan _service excellence_ untuk Satpam dan Karyawan. Dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang juara ini juara itu, tapi jarang sekali foto seorang siswa dipajang karena dia melakukan sebuah kebaikan. Kehebatan lebih dihargai daripada kebaikan. Prestasi lebih berharga dari budi pekerti.

Kita harus segera mengubah *sistem pendidikan* kita masih berorientasi pada _ta’lîm_ (mengajarkan) menjadi _ta’dîb_ (penanaman adab).

Dalam konsep _compassionate school_, *ta’dîb* harus diterapkan secara menyeluruh (whole school approach) meliputi tiga area:

_pertama_ *SDM* yaitu guru, karyawan, orang-tua, hingga satpam, _kedua_ *kurikulum*, dan yang _ketiga_ *iklim* atau _hidden curriculum_.

Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar. Tapi sebuah *lingkungan* yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi lebih ber-adab.

Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi _compassionate school_ tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika prestasi akademik bisa dilihat di selembar kertas, budi pekerti hanya bisa kita rasakan.

Posted Juli 12, 2016 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Potensi Zakat RI Capai Rp400 T   Leave a comment

Potensi zakat yang ada di Indonesia saat ini mencapai Rp400 triliun. Hanya saja ada masalah adalah ‘marketing’ dan peruntukannya. Hal ini terkait erat dengan kepercayaan masyarakat kepada lembaga pengelola zakat selama ini. Demikian materi diskusi ditaja Keluarga Islam Britania (KIBAR) Colchester, United Kingdom, di penghujung Ramadhan ini sempena buka puasa bersama dengan mengundang pembicara yang didatangkan KBRI di London, Hilman Latief, Ph.D.
Menurut Murniati Mukhlisin, Ph.D, dosen Essex Business School pelaporan terhadap penyaluran dana zakat yang telah dikumpulkan belum baik. Sementara itu muzakki semakin cerdas dan akan akan mempertanyakan dikemanakan uang mereka. Untuk membangun gedung lembaga pengelola dan gaji pengurus atau untuk apa.
Hal senada juga diungkapkan Hilman Latief, dari Lembaga ZIZ Muhammadiyah (Lazizmu). Dia mencontohkan bahwa tidak semua pengurus di level pimpinan Muhamadiyah, misalnya tak memanfaatkan Lazismu sebagai wadah menyalurkan zakat. Diperlukan edukasi bahwa muzakki dapat meminta kepada amil tempatnya menyalurkan dana untuk menyalurkan kepada orang-orang yang diinginkannya. Berat membangun kesadaran ini, karena faktor kepercayaan dan keterbukaan. ‘’Ada lembaga besar yang tak mau berbagi data, ada yang disembunyikan.’’
Guna mengurai persoalan tersebut maka pemerintah telah mengeluarkan undang-undang mengatur aspek legalisasi lembaga amil zakat. ‘’Semua lembaga amil harus mendapatkan legalitas dari pemerintah, termasuk takmir masjid. Ini akan mulai diberlakukan November 2016. Bila tidak tersertifikasi namun tetap melakukan pemungutan akan ada sanksi.’’
Upaya tersebut dilakukan untuk menertibkan data dan pertanggung jawabannya. Dikatakan Latief ada sistem yang dibuat sistematis. Dengan demikian kontribusi zakat ini akan mampu memberdayakan masyarakat, mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ke depan, katanya lagi, sumber daya manusia akan diperhatikan sebagai bagian dari human security. Pemerintah, kata dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, akan melakukan penguatan administrasi kelembagaan.
Dalam kesempatan yang sama Dr. (Cand). Luqyan Tammani yang telah lama tunak berkhidmad dalam kegiatan micro finance syariah bahwa saat ini ketidakpercayaan masyarakat kepada lembaga negara masih terasa. Oleh karena itu lembaga-lembaga yang cenderung berkembang adalah yang diinisasi oleh masyarakat. BAZ daerah misalnya kurang transparan sehingga berdampak pada tidak sampainya zakat tersebut pada masyarakat sangat miskin.
‘’Pemerintah juga terkesan enggan menggunakan institusi Islam secara penuh,’’ kata Luqyan yang pernah bekerja di Islamic Relief, Inggris dan World Bank ini. Menurutnya Islamic Relief di UK dikelola dengan manajemen profesional. Kantornya darurat, tidak bermewah-mewah serta petugasnya selalu siap dan sigap.’’
Luqyan menambahkan tren peningkatan pendapatan masyarakat dengan melebarnya kelas menengah harus diiringi institusi terpercaya oleh kelas menengah itu sendiri. Termasuk misalnya bila mampu membantu masyarakat Muslim di luar negeri. ‘’Harus ada umat Islam menjangkau umat Muslim di luar Indonesia.

Lembaga Pendamping
Ahmad Jamaan, dosen FISIP Universitas Riau mengatakan ada lembaga yang dapat menjadi mitra penyaluran dana masyarakat tersebut. Dia memberi contoh Forum Layanan Iptek bagi Masyarakat (FLipmas) Batobo, di Riau dan Kepulauan Riau yang lima tahun belakangan melakukan mendampingan penguatan ekonomi masyarakat. Hanya, kata dia, pengalamannya di lapangan lebih pada menyalurkan dana dari community development perusahaan. Oleh karena itu sistem pertanggungjawabannya lebih kepada perusahaan yang perusahaan yang mempercayakan penyalurannya.
‘’Ada dua pertanggungjawaban kami lakukan. Pertama administrasi dan keuangan, kedua progress di tingkat masyarakat yang mendapatkan bantuan itu sendiri. Kegiatan monitoring dan evaluasi juga dilakukan secara periodic,’’ katanya.
Dalam diskusi yang dipandu Hadi Soesanto, Ph.D, dosen Matematika Essex University ini, Hilman Latief menyatakan lembaga seperti itu dapat dijadikan mitra pendamping. Dikatakannya bila punya banyak uang maka belum tentu siap menyalurkannya. ‘’Apa betul bisa dibawa ke penguatan ekonomi. Seberapa besar berdampak dan bagaimana polanya?’’
Dia mengatakan ada larangan di Lazmu untuk mengelola langsung dana kegiatan ekonomi kecuali bermitra. Tujuannya untuk mengurangi kegagalan, karena kata dia, jarang terdengar ada cerita sukses tentang pendampingan ekonomi akibat keterbatasan dan kapasitas. Di lembaga zakat harus ada pengawas syariah yang mengerti akuntan.
Luqyan dan Murniati menyatakan hal senada. ‘’Ada bagusnya lembaga BAZ tidak langsung menangani ekonomi. Memang harus bermitra dengan orang lapangan. Pendampingan ekonomi harus sesuai kebutuhan masyarakat, apakah perlu bantuan tunai atau micro finance.
Ditambahkan Hilman, ada lembaga mitra yang menyalurkan dana untuk membentuk klinik gratis namun ditempatkan di lingkungan mewah atau tempat tersembunyi. Padahal akses kesehatan sebenarnya ada di rural. Dia juga menyebutkan bahwa di tingkat masyarakat infaq lebih suka disalurkan untuk pembangunan masjid daripada untuk perbedayaan ekonomi, dan kesehatan karena lebih cepat terlihat. Bantuan untuk kegiatan pencegahan penyakit berupa penyuluhan dan latihan jarang menjadi fokus.

Posted Juli 5, 2016 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Tanya Jawab dengan Rashid Ghannouchi: Seputar Pemisahan Ennahda dari Islam Politik   Leave a comment

http://www.portalpiyungan.com/2016/06/tanya-jawab-dengan-rashid-ghannouchi.html

Posted Juli 4, 2016 by Saproni M Samin in syariah dan kehidupan

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.